Rahmat Mirzani Djausal: Profil dan Kinerja Gubernur Lampung

Rahmat Mirzani Djausal: Profil dan Kinerja Gubernur Lampung

Jul 11, 2026 - 08:00
Updated: 6 hours ago
0 0
Rahmat Mirzani Djausal: Profil dan Kinerja Gubernur Lampung

Subuh di tepi Way Sekampung masih menyisakan kabut tipis. Seorang lelaki berbadan tegap dengan kemeja putih lengan panjang yang digulung asal-asalan menatap permukaan air yang surut. Petani tambak udang di Pesisir Timur menyapanya dengan jawab singkat, "Helo, Gupernur." Rahmat Mirzani Djausal—yang akrab disapa Mirza—membalas dengan anggukan dan bertanya soal salinitas air. Bukan pemandangan aneh bagi warga Lampung setahun terakhir: gubernur mereka lebih sering muncul di bendungan, sawah, atau ruang kelas ketimbang di panggung seremoni.

Profil Singkat

Lahir dari keluarga sederhana, Mirza tumbuh sebagai anak yang lebih betah memperbaiki traktor ayahnya daripada bermain. Tak banyak yang menduga lelaki yang memulai karier sebagai staf magang di Dinas Pekerjaan Umum ini akan menjadi Gubernur Lampung definitif 2025-2030. Ia menolak bapakisme. Ketika staf protokoler berusaha membawakan tasnya saat kunjungan kerja di Mesuji, Mirza menolak halus tapi tegas: "Berat, Pak. Isinya laptop dan berkas proyek, bukan kertas HVS," katanya setengah berkelakar. Laptop itu kemudian dibukanya di depan petani pisang, menunjukkan desain teknis irigasi perpipaan sambil duduk lesehan di atas tikar plastik.

Karier dan Riwayat Jabatan

Jalur karier Mirza adalah perjalanan panjang melalui birokrasi dan politik praktis yang relatif sunyi dari sensasi. Lulusan teknik ini memulai segalanya dari bawah: staf teknis di Dinas PUPR (2005-2011), Kepala Bidang Jalan dan Jembatan, Kepala Dinas PUPR Kabupaten Lampung Selatan (2016-2021), lalu terpilih sebagai Wakil Gubernur Lampung mendampingi Arinal Djunaidi (2019-2024).

Ironi terjadi pada Pilgub 2024. Setelah berpisah jalan dengan Arinal, Mirza diunggulkan oleh Koalisi Lampung Maju yang berisi tujuh partai. Kampanyenya tak banyak janji muluk. Ia malah rajin menyebar "Kartu Lapor Cepat" yang bisa dikirim warga langsung ke nomor WhatsApp pribadinya. Kartu itu kini menjadi semacam teror bagi kepala dinas: laporan warga harus direspons dalam 1x24 jam.

"Saya tidak butuh penjabat yang pinter bikin slide PowerPoint. Saya perlu orang yang berani tidur di lokasi proyek kalau ada aspal yang bolong dalam tiga hari setelah hujan," ujarnya dalam apel perdana di Lapangan Korpri, 3 Maret 2025.

Kinerja dan Program Unggulan

100 hari pertama Mirza dihabiskan dengan mengunci diri di ruang data. Hasilnya: tiga program unggulan tanpa akronim rumit. Program pertama, "Lampung Terang 2026", menargetkan rasio elektrifikasi 100% di pulau-pulau kecil seperti Legundi dan Sebuku dengan panel surya terapung. Program kedua, Revitalisasi Jalur Distribusi Pangan, memangkas mata rantai tengkulak melalui sistem kontrak langsung antara koperasi petani dan Bulog, yang berhasil menurunkan harga gabah petani dari fluktuasi liar menjadi stabil di Rp 6.800 per kilogram. Program ketiga adalah Kartu Pelajar Cerdas yang telah mendigitalkan beasiswa untuk lebih dari 47.000 siswa miskin se-Lampung pada akhir 2025.

Yang membedakan Mirza dari pendahulunya adalah metode audit visual. Ia merekrut mantan wartawan dan mahasiswa akhir sebagai "Mata Gubernur"—relawan yang mengirim rekaman kondisi jalan dan jembatan langsung ke dashboard digital ruang kerjanya. Pada Januari 2026, metode ini berhasil membongkar praktik mark-up proyek Jalan Lintas Tengah Sumatera di segmen Liwa, dengan temuan selisih volume aspal hingga 31%.

Di bidang kesehatan, ia mendorong sistem "Dokter Terbang" menggunakan helikopter sewaan untuk pulau-pulau di kawasan Teluk Lampung. Program ini lahir setelah ia mendengar cerita seorang ibu di Pulau Tegal yang harus melahirkan anaknya di atas perahu karena tak ada bidan desa.

Tantangan dan Harapan

Lampung masih menyimpan luka birokrasi: korupsi sektor perkebunan, mafia lahan di kawasan pesisir, dan DPRD yang kerap buntu soal APBD. Mirza tak memiliki kekuatan politik dominan, sehingga ia harus piawai memainkan diplomasi. Pada sidang paripurna APBD 2026, ia memilih membacakan sendiri nota keuangan provinsi—menandai pertama kalinya seorang Gubernur Lampung melakukannya dalam 15 tahun terakhir.

Kini, saat senja jatuh di Pantai Sari Ringgung dan para nelayan mulai menyalakan lampu petromaks untuk memancing cumi, Mirza masih kerap terlihat duduk di gubuk bambu, mencatat keluhan mereka tentang solar bersubsidi yang sulit didapat. Mungkin inilah wajah kepemimpinan yang tak bersolek kamera: hadir sebelum sorot, bekerja setelah penutupan berita.

Jalan masih panjang. Infrastruktur rusak, kemiskinan di level 10,23% (data BPS 2025), dan ekspor komoditas yang masih bergantung pada harga global. Namun, dari tepi Way Sekampung itu, seorang gubernur memilih jalan sunyi: mendengarkan lebih banyak daripada berpidato, melihat lebih jeli daripada sekadar meresmikan plang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User