Di suatu subuh yang lembap pada awal 2025, seorang pria berambut putih duduk di beranda rumah panggung sederhana di tepian Sungai Kahayan. Udara masih berkabut, dan dari kejauhan terdengar suara ces pada mesin perahu menyusuri air kecokelatan. Ia tidak memakai seragam dinas gubernur, hanya kemeja katun lengan panjang yang lengannya digulung. Tangannya sesekali menunjuk ke seberang sungai, menunjukkan titik-titik desa yang dulu hanya bisa dicapai setelah berjam-jam memutar lewat jalur sungai. "Di situ dulu, waktu kecil, saya belajar bahwa jarak bukan diukur dengan kilometer, tapi dengan sabar," katanya lirih. Agustin Teras Narang—gubernur dua periode yang memimpin jantung Borneo ini—tidak sedang bernostalgia kosong. Ia sedang menjelaskan filsafat kepemimpinannya.
Anak Kampung yang Pulang
Teras lahir pada 4 Agustus 1955 di desa kecil di pinggiran Kahayan, dari keluarga Dayak yang akar adatnya kuat. Ayahnya seorang pejuang kemerdekaan yang kelak mendirikan organisasi adat, ibunya perempuan tangguh yang membesarkan anak-anaknya dengan cerita leluhur dan nilai-nilai kekeluargaan. Masa kecilnya dihabiskan di antara dua dunia: ritual adat Kaharingan yang khidmat dan sekolah Katolik yang disiplin. Ia muda yang cerdas, dan seperti banyak orang Dayak pada masa itu, pendidikan menjadi titian menuju dunia luar. Ia menuntaskan sarjana hukum di Universitas Lambung Mangkurat, lalu melanjutkan ke jenjang magister di Universitas Padjadjaran. Tapi hatinya tidak pernah benar-benar meninggalkan Kalimantan Tengah.
Jalur politik ditempuhnya sejak menjadi anggota DPRD provinsi pada 1987. Dari sana, ia naik perlahan tapi pasti: anggota DPR RI selama tiga periode, lalu wakil gubernur, dan sejak 16 Maret 2016, ia dilantik sebagai Gubernur Kalimantan Tengah menggantikan pendahulunya yang tersandung korupsi. Ia datang bukan di puncak kejayaan, melainkan di titik krisis kepercayaan publik. Banyak yang menyebutnya "gubernur transisi". Tapi transisi itu berubah menjadi dua periode penuh.
"Saya tidak mau gelar, saya mau hasil. Gelar itu hilang bersama jabatan. Tapi jalan yang kita bangun, rumah sakit yang kita dirikan, anak-anak yang kita sekolahkan—itu yang bertahan."
Membangun Jantung Borneo
Kalimantan Tengah adalah provinsi terluas kedua di Indonesia, dengan infrastruktur yang secara historis timpang. Pada periode pertama Teras, ia langsung mengunci tiga prioritas: konektivitas wilayah, kesehatan, dan pendidikan. Pada 2018, ia meluncurkan program Jembatan Kahayan II yang rampung lebih cepat dari jadwal, menghubungkan kawasan utara Palangka Raya dengan wilayah selatan yang selama puluhan tahun hanya mengandalkan feri. Di penghujung 2025, pemerintahannya mencatat lebih dari 1.200 kilometer jalan provinsi yang direhabilitasi total, termasuk jalur strategis lintas tengah Kalimantan yang memperpendek waktu tempuh dari Palangka Raya ke Muara Teweh hingga empat jam.
Teras juga agresif mendorong layanan kesehatan bergerak. Program Sehat di Desa yang dimulai pada 2019 kini mencakup 250 desa di daerah terpencil dengan kunjungan dokter spesialis secara berkala menggunakan ambulans sungai. Ia tidak hanya meresmikan gedung; ia mengecek langsung apakah bidan di desa menerima insentif tepat waktu. Salah satu stafnya pernah bercerita bahwa gubernur ini bisa menelepon kepala puskesmas pada pukul 22.00 WIB hanya untuk bertanya apakah obat malaria sudah sampai.
Di bidang pendidikan, Teras menggagas Beasiswa Kalimantan Tengah Bersinar yang pada 2024-2025 menanggung biaya kuliah 15.000 mahasiswa asal provinsi itu, dengan syarat mereka kembali mengabdi di daerah asal setelah lulus. Kebijakan ini disertai dengan pembangunan politeknik agroforestri di tiga kabupaten, menyelaraskan kurikulum dengan kebutuhan industri kelapa sawit berkelanjutan dan konservasi hutan.
Menari di Atas Lahan Gambut
Tantangan terbesar kepemimpinannya ada di luar gedung pemerintahan. Kalimantan Tengah adalah rumah bagi sekitar 3,5 juta hektar lahan gambut, sekaligus episentrum kebakaran hutan dan lahan yang setiap kemarau panjang mengirim asap hingga ke negara tetangga. Pada 2023, provinsi ini dinyatakan darurat kabut asap, dan Teras turun langsung ke lapangan. Ia tidak memberi perintah melalui layar telepon genggam; ia berdiri di titik api bersama tim pemadam, memastikan kanal-kanal pembasahan gambut berfungsi. Salah satu foto yang beredar luas di media lokal adalah potretnya sedang minum dari termos bersama petani, sementara di belakang mereka buldoser sedang membuat sekat kanal.
Pendekatannya terhadap masalah lingkungan bersifat ganda: restorasi gambut melalui program Rewetting Kalimantan yang didanai bersama dengan Bank Dunia berjalan di 600 desa, sementara ia juga mendorong kemitraan dengan perusahaan sawit besar untuk menghentikan praktik tebang-bakar. Ia tidak populer di semua kalangan karena sikapnya yang keras terhadap pelaku pembakaran, namun data menunjukkan penurunan titik panas sebesar 34 persen pada 2025 dibandingkan rata-rata 2019-2023.
Bayang-Bayang Ibu Kota Baru
Ketika Ibu Kota Nusantara (IKN) diputuskan berada di Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah langsung terimbas ekspektasi. Teras mengambil posisi yang terukur: ia menyambut efek limpahan ekonomi, namun waspada terhadap potensi ketimpangan baru. Ia mendorong pengembangan pelabuhan laut di Kotawaringin Timur sebagai jalur logistik alternatif dan menyelesaikan perluasan Bandara Tjilik Riwut pada pertengahan 2026 sebagai antisipasi peningkatan lalu lintas penerbangan. Namun ia juga bersuara lantang tentang perlindungan hak-hak masyarakat adat atas tanah, dan menolak mentah-mentah usulan beberapa investor yang ingin mengubah hutan adat menjadi kawasan pergudangan.
Pada forum internasional tentang pembangunan berkelanjutan di Jakarta tahun 2025, Teras berkata singkat: "Kami tidak ingin menjadi halaman belakang siapa pun." Kalimat itu kemudian menjadi kutipan yang banyak dibagikan oleh para aktivis lingkungan, sebuah pengakuan langka terhadap seorang gubernur dari kalangan pejabat daerah.
Perjalanan yang Belum Usai
Pada akhir tahun 2026, mendekati penghujung periode keduanya, banyak yang bertanya apa yang akan dilakukan Agustin Teras Narang
Comments (0)