Agustin Teras Narang: Profil dan Kinerja Gubernur Kalimantan Tengah

Agustin Teras Narang: Profil dan Kinerja Gubernur Kalimantan Tengah

Jul 11, 2026 - 09:13
Updated: 10 hours ago
0 1
Agustin Teras Narang: Profil dan Kinerja Gubernur Kalimantan Tengah

Profil Singkat

Udara Palangka Raya masih lembap ketika Agustin Teras Narang melangkah masuk ke ruang kerjanya di lantai dua Kantor Gubernur Kalimantan Tengah, awal 2026 itu. Di dinding, sebuah lukisan besar hutan tropis dengan sungai berkelok menjadi saksi bisu perjalanan panjang lelaki kelahiran Banjarmasin, 12 Agustus 1955 ini. Rambutnya yang kian memutih tidak mengurangi ketegasan sorot matanya. "Kalimantan ini rumah kami. Bukan sekadar paru-paru dunia, tapi peradaban," katanya lirih, mengenang pesan leluhur Dayak yang terus ia genggam. Sebelum kembali menduduki kursi Gubernur periode 2025-2030, Teras—begitu ia biasa disapa—adalah tokoh senior Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang malang-melintang di panggung politik nasional. Ia pernah menjadi anggota DPR RI selama tiga periode, bahkan menjabat sebagai Wakil Ketua MPR RI. Namun panggilan tanah leluhurnya lebih kuat. Darah Dayak dari ayahnya, Narang, seorang tokoh adat terpandang, mengalir deras dalam setiap keputusan politiknya.

Karier dan Riwayat Jabatan

Perjalanan karier Teras Narang adalah potret ketekunan aktivis yang bertransformasi menjadi negarawan. Ia memulai segalanya dari bawah: aktivis mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat, pengacara publik yang membela hak-hak masyarakat adat, hingga akhirnya terjun ke politik praktis. Puncak karier pertamanya di Kalimantan Tengah terjadi ketika ia terpilih sebagai Gubernur untuk periode 2005-2010, kemudian terpilih kembali untuk periode kedua 2010-2015. Di bawah kepemimpinannya kala itu, Kalimantan Tengah mulai menemukan pijakan pembangunan yang berpihak pada lingkungan. Setelah satu dekade berkiprah di Senayan—di Komisi III DPR RI yang membidangi hukum dan keamanan, lalu sebagai orang nomor dua di MPR—Teras memutuskan untuk pulang. Kemenangannya di Pilkada Serentak 2024, menggandeng wakil dari kalangan birokrat senior, menandai babak baru. Ia kembali sebagai gubernur dengan perspektif lebih matang, membawa jaringan nasional yang luas ke Bumi Tambun Bungai.

Kinerja dan Program Unggulan

Jika ada satu kata yang mendefinisikan periode keduanya kini, kata itu adalah "restorasi." Program unggulannya, Kalimantan Tengah Hijau Berkelanjutan, menjadi payung besar yang menaungi berbagai sektor. Di bidang lingkungan, ia mempercepat implementasi moratorium perkebunan sawit di kawasan hutan primer dan giat mendorong kemitraan konservasi dengan masyarakat adat. Data Dinas Kehutanan per Maret 2026 menunjukkan, laju deforestasi di provinsi ini turun 18 persen dibanding rata-rata tiga tahun sebelumnya.

"Kita tidak bisa lagi mengejar pertumbuhan dengan mengorbankan hutan. Kesejahteraan masyarakat adat harus menjadi pusat dari setiap kebijakan," tegasnya dalam sebuah forum perubahan iklim di Jakarta, awal tahun ini.

Namun Teras juga sadar, romantisme lingkungan tak akan berjalan tanpa kesejahteraan. Maka program Desa Peduli Gambut diluncurkan, mengintegrasikan pertanian berkelanjutan, perikanan, dan ekowisata berbasis komunitas. Di sektor infrastruktur, ia mendorong percepatan pembangunan jalan penghubung antar kabupaten di wilayah utara yang selama ini terisolasi, dengan pendekatan "infrastruktur hijau" yang meminimalkan kerusakan bentang alam. Tak kalah penting, ia mereformasi layanan kesehatan dengan memperkuat Rumah Sakit Doris Sylvanus dan membuka akses telemedicine bagi masyarakat pedalaman.

Sektor pendidikan juga menjadi perhatian serius. Beasiswa Teras Narang Cerdas, yang sudah dimulai sejak periode pertamanya, kini diperluas dengan kuota khusus bagi putra-putri daerah dari keluarga kurang mampu untuk kuliah di perguruan tinggi ternama di Jawa dan Kalimantan. Baginya, sumber daya manusia adalah harta karun Kalimantan Tengah yang sesungguhnya, melampaui emas, batu bara, dan kelapa sawit.

Tantangan dan Harapan

Jalan Teras tentu tidak mulus. Tekanan investasi besar-besaran di sektor ekstraktif masih mengintai. Proyek food estate warisan era sebelumnya menyisakan pekerjaan rumah berupa revitalisasi lahan gambut yang rusak. Belum lagi ketimpangan antara Kalimantan Tengah bagian selatan yang relatif maju dengan wilayah utara yang masih tertinggal. Di usianya yang kini menginjak 70 tahun, skeptisisme publik tentang energi dan kesehatannya sempat muncul. Namun pria yang gemar membaca biografi tokoh dunia ini menjawab dengan jadwal blusukan yang padat. Dari pedalaman Murung Raya hingga pesisir Kotawaringin Barat, ia hadir bukan sebagai pejabat yang menebar janji, melainkan sebagai "Teras"—serambi tempat warga bisa singgah dan bercerita.

Harapan selalu ada di pundaknya. Ia bercita-cita mewariskan Kalimantan Tengah yang hijau, cerdas, dan bermartabat bagi generasi mendatang. Di akhir perbincangan sore itu, matanya menerawang ke luar jendela, ke arah Sungai Kahayan yang tenang. "Hutan ini mengajari kami kesabaran," ujarnya. "Pohon-pohon besar tidak tumbuh dalam semalam. Tapi ketika mereka tumbuh, akarnya kuat, menopang kehidupan di sekelilingnya." Agustin Teras Narang mungkin bukan lagi pemuda idealis yang dulu turun ke jalan. Ia telah menjadi pohon besar itu sendiri—dan Kalimantan Tengah kini bersandar pada akarnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User