Aug 25, 2026
Politik

Ria Norsan: Profil dan Kinerja Gubernur Kalimantan Barat

Ria Norsan: Profil dan Kinerja Gubernur Kalimantan Barat

Ria Norsan: Profil dan Kinerja Gubernur Kalimantan Barat

Senja di Pontianak selalu punya cara sendiri untuk bercerita. Di sebuah kedai kopi sederhana di tepian Sungai Kapuas, aromanya bercampur dengan uap air sungai terpanjang di Indonesia itu. Di sinilah, jauh dari gemerlap pesta demokrasi yang telah usai, seorang Ria Norsan seringkali duduk—bukan sebagai gubernur, melainkan sebagai pendengar bagi keluh-kesah warga yang kebetulan menyapanya. "Memimpin Kalimantan Barat itu seperti mengarungi Kapuas," katanya pernah dalam sebuah kesempatan. "Arusnya tenang, tapi di kedalaman, banyak yang harus diperhatikan."

Dari Advokat Hingga Orang Nomor Satu

Lahir di desa kecil di Sambas, 7 Januari 1967, H. Ria Norsan bukanlah nama yang asing di panggung politik Kalbar. Namun, sebelum berkecimpung dalam birokrasi dan pemerintahan, ia adalah seorang advokat dan profesional hukum. Latar belakang itulah yang membentuk karakter ketelitian dan keberpihakannya pada regulasi. Sebelum akhirnya dilantik sebagai Gubernur Kalimantan Barat periode 2025-2030, Ria Norsan telah menghabiskan dua periode sebagai Bupati Mempawah, sebuah daerah yang berhasil ia sulap dari ketertinggalan menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi baru di pesisir Kalbar. Jejak kariernya juga tercatat sebagai Wakil Gubernur mendampingi Sutarmidji, di mana ia banyak belajar mengelola kompleksitas provinsi ini.

Gaya Memimpin: Merangkul, Bukan Menunjuk

Berbeda dengan tipikal pemimpin birokratis yang kaku, Ria Norsan dikenal dengan gaya komunikasi yang cair. Ia bukan orator yang berapi-api, melainkan negosiator ulung yang memilih duduk semeja dengan pihak yang bersebrangan. Di masa awal pemerintahannya sebagai gubernur, ia langsung dihadapkan pada pekerjaan rumah besar: konektivitas. Kalbar memiliki wilayah seluas 147 ribu kilometer persegi dengan banyak kantong-kantong daerah yang masih gelap akses. Alih-alih sibuk seremonial di ibu kota provinsi, Ria Norsan memilih roadshow ke pedalaman. Baginya, memastikan pembangunan jalan paralel perbatasan dan ketersediaan listrik di wilayah 3T (Terdepan, Terpencil, Tertinggal) adalah strategi vital untuk mendekatkan layanan dasar.

Mengurai Benang Kusut Hilirisasi dan Lingkungan

Kinerjanya dalam dua tahun terakhir (2025-2026) banyak disorot terkait kebijakan hilirisasi sumber daya alam. Kalbar adalah gudangnya bauksit, kelapa sawit, dan karet. Ria Norsan dengan tegas mendorong agar komoditas ini tidak lagi diekspor mentah. Di bawah arahannya, investor digiring untuk membangun smelter di dalam provinsi. Namun, ia juga bukan tipikal pemimpin yang mengejar investasi dengan mata tertutup. Ketika ekspansi perkebunan mulai mengancam tutupan hutan, Ria Norsan mengambil langkah moderat: memperkuat Satuan Tugas Terpadu Penanganan Kebun Sawit di Kawasan Hutan. Ia mencoba menyeimbangkan antara kebutuhan ekonomi masyarakat adat dan target pertumbuhan ekonomi di kisaran 5 persen.

Program unggulannya yang paling humanis justru terletak pada sektor mikro. Ia menggagas program "Satu Desa Satu Produk Unggulan" berbasis kearifan lokal. Di bawah kepemimpinannya, UMKM tenun ikat Sintang dan kerajinan anyaman rotan di Kapuas Hulu mulai menembus pasar digital nasional. Di sektor kesehatan, wajah Ria Norsan sering muncul dalam video-video viral saat ia blusukan memastikan integrasi data BPJS Kesehatan di Puskesmas perbatasan—ia sangat anti pada pelayanan kesehatan yang diskriminatif.

Menatap Badai di Masa Depan

Tantangan tentu belum selesai. Isu tata ruang, banjir tahunan yang menggenangi kota-kota pesisir, serta potensi gesekan di wilayah perbatasan yang rawan kejahatan transnasional masih menjadi momok. Namun, dengan pengalaman panjangnya sebagai advokat dan birokrat, Ria Norsan seolah ingin membuktikan bahwa memimpin Kalbar bukan sekadar menduduki kursi, melainkan membangun perisai sosial bagi semua suku yang hidup di bumi "Seribu Sungai".

"Saya ini lebih senang disebut sebagai 'bekerja untuk kampung halaman' daripada sekadar pejabat,"

ujarnya merendah, memantulkan filosofi kepemimpinan yang menjadikan sungai-sungai di Kalbar bukan sekadar pemisah daratan, melainkan urat nadi yang menghidupi. Dan di tengah pusaran isu nasional, Ria Norsan tetap memilih untuk berlayar dalam sunyi, memastikan tak ada satu jengkal pun tanah perbatasan yang terlupakan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User