Ria Norsan: Profil dan Kinerja Gubernur Kalimantan Barat
Ria Norsan: Profil dan Kinerja Gubernur Kalimantan Barat
Bayangan bocah laki-laki itu masih kerap terlihat di pelataran rumah panggung sederhana di tepian Sungai Kapuas, Sintang. Dibesarkan oleh seorang ayah yang menghidupi keluarga dari menyadap karet dan seorang ibu yang sesekali berjualan kue basah di pasar kecamatan, ia tidak pernah membayangkan akan bermuara di lantai tertinggi pemerintahan provinsi. Setiap subuh, sebelum kabut tipis menyingkap permukaan sungai, tangannya lebih dulu basah oleh getah putih yang menetes dari kulit pohon. “Kalau mau mengubah nasib, jangan pernah takut tangannya kotor,” begitu wejangan sang ayah yang dipegangnya erat hingga sekarang. Kini, wejangan itu menjelma menjadi energi bagi Ria Norsan, mantan aktivis lingkungan yang merapat ke birokrasi, untuk menyapu bianglala birokrasi Kalimantan Barat dengan sapu lidi ketegasan.
Profil Singkat
Ria Norsan lahir pada 30 Juli 1965 di Desa Tanjung Puri, Kabupaten Sintang, jantung pedalaman Kalimantan yang kala itu hanya bisa dijangkau dengan kapal motor dari Pontianak selama dua hari dua malam. Ia adalah putra pasangan H. Norsan dan Hj. Nurhayati, keluarga penyadap karet yang hidup dalam kesederhanaan yang nyaris asketis. Pendidikan dasarnya ditempuh dengan berjalan kaki sejauh lima kilometer menerobos semak belukar menuju SD Negeri 1 Tanjung Puri. Ia harus rela menimba ilmu sambil menahan lapar karena uang jajan hanya cukup untuk membeli sepiring nasi bungkus sekali makan.
Tamat SMA, pemuda itu nekad merantau ke Pontianak dan diterima di Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura. Di sinilah karakter “orang hutan” itu ditempa. Ia tidak hanya belajar tentang diameter pohon dan siklus hidrologi, tetapi di kampus inilah Ria Norsan dipertemukan dengan dunia gerakan mahasiswa dan Lembaga Swadaya Masyarakat. Di bawah rimbunnya pepohonan Kampus Untan, naluri idealismenya tentang keadilan agraria dan hak-hak masyarakat adat mulai terbentuk. Lulus dengan predikat sarjana kehutanan pada awal 1990-an, ia memilih jalan sunyi menjadi aktivis di Yayasan Dian Tama dan kemudian bergabung dengan WWF Indonesia Program Kalimantan Barat, mendampingi masyarakat tepi hutan melawan praktik ilegal logging yang merajalela.
Karier dan Riwayat Jabatan
Jalan panjang menuju kursi gubernur tidak dilaluinya dengan mengejar kekuasaan, melainkan dengan menyelami parit-parit birokrasi. Transisi dari “orang jalanan” menjadi “orang dalam” dimulai ketika ia diminta bergabung ke Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat sebagai Kepala Bidang. Ia melihat sebuah anomali: mengkritik dari luar hanya membuat kebisingan, sementara untuk menghentikan pencurian kayu, ia harus masuk ke ruang kendali. Karier birokratnya melejit. Ia tidak pernah membuang jaket lapangannya; setiap ada laporan perambahan, ia memilih turun langsung ke lokasi. “Saya tidak bisa memimpin hanya dari balik meja,” katanya suatu kali.
Puncak karier birokratisnya tiba ketika ia dilantik menjadi Bupati Mempawah selama dua periode (2009-2014 dan 2014-2019). Di daerah pesisir yang kerap dianggap sebagai “adik” dari Pontianak itu, Ria Norsan membuktikan bahwa ia adalah teknokrat sejati. Ia merapikan tata kelola perkantoran dan berani menempeleng ego para cukong tambang pasir ilegal. Keberhasilan memimpin Mempawah mengantarnya sebagai Wakil Gubernur Kalimantan Barat periode 2019-2024 mendampingi Sutarmidji. Pada Pilkada Serentak 2024, ia akhirnya mencalonkan diri sebagai Gubernur dan menang telak. Pada Februari 2025, ia resmi menggenggam kendali ekskavator pembangunan provinsi terluas ketiga di Indonesia ini sebagai Gubernur.
Kinerja dan Program Unggulan
Dilantik dengan latar belakang ketidakpastian ekonomi global dan transisi Ibu Kota Nusantara (IKN) yang berdampak langsung ke Kalimantan Barat, Ria Norsan memilih untuk tidak “tidur di atas bantal empuk.” Ia merumuskan gerakan Tancap Gas 100 Hari yang mengejutkan banyak pihak karena kecepatan eksekusinya. Program andalannya menyentuh tiga sumbu yang menjadi nafas warga Kalimantan Barat: tanah, pendidikan, dan kesehatan.
- Penataan Agraria untuk Rakyat: Melanjutkan gaya kerjanya saat di LSM, Ria Norsan menghidupkan kembali program redistribusi tanah. Di enam bulan pertama kepemimpinannya di 2025, ia menerbitkan lebih dari 5.000 sertifikat tanah gratis bagi petani kecil di perbatasan
Comments (0)