Benang Sutera dan Mimpi Mendunia: Saat Makassar Menjadi Panggung Perempuan Perajin
Di sudut rumah panggungnya di Desa Pakkasalo, Kabupaten Soppeng, jemari Rabiah (52) menari di antara helai benang sutera. Alat tenun gedogan berdetak ritmi
Di sudut rumah panggungnya di Desa Pakkasalo, Kabupaten Soppeng, jemari Rabiah (52) menari di antara helai benang sutera. Alat tenun gedogan berdetak ritmis, mengiringi cerita yang telah diwariskan selama empat generasi. “Nenek moyang bilang, selagi tangan masih kuat menarik lungsi, rezeki belum putus,” tuturnya dengan aksen Bugis yang kental.
Rabiah adalah satu dari ribuan perajin wastra Sulawesi Selatan yang akan tersenyum lebar pada Juli 2026. Untuk pertama kalinya, karya-karya yang biasanya hanya dipajang di pameran lokal atau dijual dari mulut ke mulut itu akan “tur ke kota”—tepatnya ke jantung pusat perbelanjaan Trans Studio Mall (TSM) Makassar. Di sanalah perhelatan Hari Ulang Tahun (HUT) Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) ke-46 dan Hari Kesatuan Gerak (HKG) PKK ke-54 akan digelar pada 9–12 Juli 2026.
Kami tidak ingin ini sekadar seremoni potong tumpeng. Ini adalah gerakan kolektif membawa perajin dari lorong-lorong desa menuju etalase dunia.
Begitu keyakinan Sukarniaty Kondolele, Ketua Panitia Harian HUT Dekranas, saat berbincang di sela-sela persiapan di Hotel Claro, Makassar. Tema “Cipta Kriya Berkelanjutan, Perajin Mendunia” dipilih bukan sebagai jargon kosong, melainkan sebuah janji. Janji bahwa selembar sarung sutera Mandar yang disulam dengan kesabaran berbulan-bulan berhak duduk sejajar dengan produk global.
Keputusan menggelar pameran di mal bukan tanpa perhitungan. Selama ini, pameran kerap digelar di gedung konvensi atau pelataran hotel yang steril. Kali ini, panitia sengaja memilih lokasi yang lebih cair dan cair—di tengah lalu lalang anak muda yang biasa membeli kopi susu dan menonton bioskop. TSM mencatat kunjungan harian 5.000 hingga 7.000 orang, dan angka itu melompat ke 20.000 hingga 40.000 saat akhir pekan.
“Bayangkan, seorang mahasiswi yang awalnya cuma menemani temannya nonton film, kemudian tanpa sengaja menemukan tas anyaman mendong dari Sidrap yang desainnya ternyata pas untuk dipakai ke kampus. Itulah transaksi yang memutus mata rantai tengkulak dan membawa uang langsung ke pengrajinnya,” ujar Sukarniaty membayangkan skenario ideal.
Dari Bilik Kurasi ke Panggung Nasional
Tidak mudah menembus paviliun HUT Dekranas. Seluruh produk dari 24 kabupaten/kota di Sulawesi Selatan telah melalui proses kurasi yang ketat. Tim kurator mengaku “tega” karena mereka ingin wajah kriya Sulawesi Selatan yang tampil adalah representasi terbaik. Mulai dari tenun Toraja yang memiliki makna filosofis mendalam hingga kerajinan perak dari Kotagede-Parepare, semua harus memenuhi standar kemasan, kualitas jahitan, hingga cerita di balik produk.
Rabiah sendiri mengaku jantungnya berdebar. Ia ingat betul, tiga bulan sebelum hari-H, seorang kurator muda datang ke rumahnya, memegangi kain tenunnya, lalu mengangguk pelan. “Saya tidak mengerti bahasa Indonesianya yang bagus. Tapi waktu dia bilang ‘produk ini layak, Ibu,’ saya menangis. Saya menelpon anak saya di Malaysia, ternyata dia ikut menangis,” kisah Rabiah.
Ekonomi yang Dikeraskan oleh Budaya
Perhelatan ini tidak hanya berhenti pada pameran. Pada puncak acara 10 Juli, Ibu Selvi Gibran, Ketua Umum Dekranas, dijadwalkan meninjau lokasi pemberdayaan ekonomi masyarakat di Makassar sebelum membuka pameran secara resmi. Isyaratnya jelas: wastra dan kriya tidak boleh lagi dipandang sebagai bagian terpisah dari kebijakan ekonomi makro. Ini adalah industri padat karya yang memiliki estetika.
Di tempat yang sama, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Sulsel, Muhammad Saleh, ikut memantik optimisme. HKG PKK yang beriringan dengan HUT Dekranas membuat Makassar menjadi semacam laboratorium pemberdayaan keluarga. Perwakilan dari 38 provinsi dan 548 kabupaten/kota akan berbagi praktik baik, dari soal stunting hingga pengelolaan hasil kriya.
Bagi Rabiah, pertanyaan terbesarnya bukan soal kenapa acara ini digelar di mal. “Saya cuma berharap Pak Presiden atau Bu Ketua Umum nanti singgah di bilik kami. Saya mau minta doa supaya alat tenun saya tidak putus karena itu artinya napas kami terhenti.”
Di tengah kemewahan Trans Studio Mall yang berkilap, sepotong benang sutera dari Soppeng itu akan mengikat pertemuan antara tradisi dan modernitas, sekaligus menjawab pertanyaan penting: apakah sebuah kado ulang tahun dari para perajin mampu mendongkrak denyut ekonomi daerah? Juli nanti, Makassar akan menjadi saksi.
Comments (0)