Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

Baruga A.P. Pettarani siang itu tidak hanya menjadi saksi sebuah seremoni pelantikan. Di bawah langit-langitnya yang tinggi, Selasa (7/7), sebuah lembaran baru bagi Universitas Hasanuddin (Unhas) dibuka. Bukan sekadar pergantian nama atau penambahan struktur, melainkan pengakuan bahwa jembatan antara laboratorium dan denyut nadi masyarakat harus dibangun lebih kokoh.

Di tengah barisan pejabat yang diambil sumpahnya, berdiri sosok Prof. Dr. Amir Ilyas. Pria kelahiran Pangkajene, 10 Juli 1980, ini tidak lagi sekadar melan

Jul 08, 2026 - 02:16
0 0

Di tengah barisan pejabat yang diambil sumpahnya, berdiri sosok Prof. Dr. Amir Ilyas. Pria kelahiran Pangkajene, 10 Juli 1980, ini tidak lagi sekadar melangkah sebagai Wakil Dekan Bidang Kemitraan, Riset, dan Inovasi Sekolah Pascasarjana. Ia kini mengemban identitas baru, sebagai Wakil Rektor Bidang Inovasi dan Pengelolaan Usaha, sebuah posisi yang menandai bertambahnya jumlah wakil rektor Unhas dari empat menjadi lima.

Menyambung Jarak yang Terlupa

Saat berbincang dengan kontributor kami, Prof. Amir menyampaikan sebuah keresahan yang telah lama ia rasakan. "Unhas itu seperti tambang emas. Setiap hari, para peneliti kami menggali, menemukan. Tapi, berapa banyak emas itu yang akhirnya hanya tersimpan di brankas?" katanya, suaranya rendah namun mengandung gejolak. "Brankas itu perpustakaan, jurnal, laporan akhir penelitian. Kami butuh seseorang yang membuka brankas itu dan membawanya ke pasar."

Penambahan bidang ini bukanlah sekadar langkah administratif. Sebelumnya, fungsi kemitraan, inovasi, kewirausahaan, dan bisnis berhimpitan dalam satu bidang, saling berebut napas. Seiring membesarnya desakan untuk mewujudkan kemandirian institusi dan menjawab kebutuhan masyarakat, Unhas memutuskan untuk memberi ruang gerak yang lebih leluasa.

Banyak karya dan hasil penelitian Unhas yang sangat potensial, namun belum berhasil masuk ke pasar. Di sinilah tantangan sekaligus tugas besar kami untuk membangun jembatan antara laboratorium dengan dunia industri dan masyarakat.

Tantangan di Depan Mata

Prof. Amir memahami, ia bukanlah orang pertama yang mencoba menaklukkan medan ini. Sejumlah perguruan tinggi lain telah lebih dahulu berlari kencang. Namun, baginya, itu hanyalah penanda bahwa jalannya sudah jelas. Tugasnya kini adalah memastikan Unhas tidak sekadar mengekor, melainkan menempa jalannya sendiri.

Ekosistem yang akan ia bangun mencakup rangkaian panjang dan rumit: mulai dari mengidentifikasi potensi hasil riset, melindungi kekayaan intelektual, mengembangkan model bisnis yang aplikatif, menginkubasi inovasi, hingga membangun kolaborasi strategis dengan pemerintah, industri, dan mitra usaha. Sebuah simfoni yang membutuhkan konduktor yang sabar sekaligus berani.

"Saya selalu percaya, inovasi yang tidak pernah menyentuh kehidupan orang banyak hanyalah sebuah konsep yang indah di atas kertas," ujar Prof. Amir. "Kita ingin menjadikan Unhas bukan hanya menara gading, tetapi mercusuar yang sinarnya menerangi perahu-perahu nelayan di Pelabuhan Paotere, membantu petani di Sidrap, atau memberi solusi bagi pedagang kecil di Pasar Terong."

Dengan pelantikan ini, publik Makassar dan Sulawesi Selatan menantikan bukti, bahwa kemandirian kampus bukan hanya soal angka dan akreditasi, melainkan tentang seberapa dalam institusi pendidikan mampu meresapi dan menjawab kebutuhan nyata di sekitarnya. Sosok Prof. Amir Ilyas kini memikul harapan itu di pundaknya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User