BANGLI — Di tengah gegap gempita penerimaan siswa baru, sebuah ruang kelas
I Komang Jaya (15) duduk sendiri di bangku kayu. Jemarinya lincah menggerakkan wayang kulit, memainkan adegan perang yang ia latih sejak kecil. “Bapak bila
I Komang Jaya (15) duduk sendiri di bangku kayu. Jemarinya lincah menggerakkan wayang kulit, memainkan adegan perang yang ia latih sejak kecil. “Bapak bilang, jadi dalang itu bukan profesi biasa. Ini panggilan,” ucapnya, suaranya bergetar sekaligus mantap. Ayahnya, dalang senior di Desa Tembuku, mewariskan ilmu sekaligus harapan bahwa tradisi itu tak boleh padam.
Namun di koridor lain, cerita berbeda bergulir. Ratusan siswa berebut tempat di Jurusan Perhotelan, Kuliner, dan Tata Kecantikan. Jumlah pendaftar SMKN 4 Bangli mencapai 480 siswa dari kuota sekitar 535. Artinya, hanya tersisa sekitar 55 kursi. Sementara itu, Jurusan Pedalangan nyaris tanpa peminat—hanya satu yang berani mengambil jalan berbeda. Di SMKN 1 Bangli, fenomena serupa terjadi. Perhotelan jadi primadona, sementara Bisnis dan Manajemen Teknologi, Desain Komunikasi Visual, serta Akuntansi mulai dilirik pelan-pelan.
Ketika Tradisi Berhadapan dengan Logika Pasar
Kepala SMKN 4 Bangli, I Wayan Suparta, tak lagi terkejut. “Kondisi ini hampir terjadi setiap tahun. Jurusan Pedalangan umumnya diminati satu hingga tiga siswa,” katanya. Menurutnya, jurusan ini memang langka. Di Kabupaten Bangli, hanya SMKN 4 Bangli yang menawarkannya. “Biasanya yang memilih jurusan ini berasal dari keluarga seniman. Mereka didorong melanjutkan tradisi,” tambahnya. Ini yang disebutwarisan tak kasatmata—tradisi yang pelan-pelan susut karena generasi mudanya memilih jalur lebih terang. Pakar pendidikan dari Lembaga Studi Pedesaan Bali, Dr. Ni Luh Putu Sariadi, menyebut fenomena ini “jurang budaya.” Ia menjelaskan, “Kita menyaksikan pergeseran fundamental. Anak muda tidak lagi melihat seni tradisi sebagai karier yang menjanjikan secara ekonomi. Padahal, hilangnya regenerasi dalang berarti kita kehilangan guru kehidupan, bukan sekadar penghibur.”Antara Laku dan Ketiadaan
Untuk memahami kesenjangan ini, lihatlah perbandingan berikut:| Aspek | Jurusan Pedalangan | Jurusan Perhotelan |
|---|---|---|
| Peminat (2026) | 1 siswa | Ratusan siswa |
| Motivasi masuk | Warisan keluarga, panggilan jiwa | Peluang kerja di Bali, sektor pariwisata |
| Jumlah sekolah penyelenggara | 1 (hanya SMKN 4 Bangli) | Hampir semua SMK |
| Kelanjutan studi | Institut Seni Indonesia (ISI) Bali | Beragam, dari politeknik hingga universitas |
| Prospek karier | Dalang profesional, seniman, pendidik seni | Hotel, restoran, kapal pesiar, event organizer |
Data sederhana ini menyimpan cerita getir. Di satu sisi, Jurusan Pedalangan menjanjikan kekayaan batin, tetapi tak banyak yang melihat “kepastian finansial” di dalamnya. Lulusannya sebagian besar melanjutkan ke Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, menapaki jalan sebagai seniman yang hidupnya kerap kali tak pasti. Sementara di sisi lain, Perhotelan seolah menyalakan lampu-lampu kota, memikat siapa pun yang membayangkan karier mapan di Tanah Dewata yang terus dipadati turis.
Comments (0)