Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

BANGLI — Di tengah gegap gempita penerimaan siswa baru, sebuah ruang kelas

I Komang Jaya (15) duduk sendiri di bangku kayu. Jemarinya lincah menggerakkan wayang kulit, memainkan adegan perang yang ia latih sejak kecil. “Bapak bila

Jul 08, 2026 - 14:02
0 0
BANGLI — Di tengah gegap gempita penerimaan siswa baru, sebuah ruang kelas
I Komang Jaya (15) duduk sendiri di bangku kayu. Jemarinya lincah menggerakkan wayang kulit, memainkan adegan perang yang ia latih sejak kecil. “Bapak bilang, jadi dalang itu bukan profesi biasa. Ini panggilan,” ucapnya, suaranya bergetar sekaligus mantap. Ayahnya, dalang senior di Desa Tembuku, mewariskan ilmu sekaligus harapan bahwa tradisi itu tak boleh padam. Namun di koridor lain, cerita berbeda bergulir. Ratusan siswa berebut tempat di Jurusan Perhotelan, Kuliner, dan Tata Kecantikan. Jumlah pendaftar SMKN 4 Bangli mencapai 480 siswa dari kuota sekitar 535. Artinya, hanya tersisa sekitar 55 kursi. Sementara itu, Jurusan Pedalangan nyaris tanpa peminat—hanya satu yang berani mengambil jalan berbeda. Di SMKN 1 Bangli, fenomena serupa terjadi. Perhotelan jadi primadona, sementara Bisnis dan Manajemen Teknologi, Desain Komunikasi Visual, serta Akuntansi mulai dilirik pelan-pelan.

Ketika Tradisi Berhadapan dengan Logika Pasar

Kepala SMKN 4 Bangli, I Wayan Suparta, tak lagi terkejut. “Kondisi ini hampir terjadi setiap tahun. Jurusan Pedalangan umumnya diminati satu hingga tiga siswa,” katanya. Menurutnya, jurusan ini memang langka. Di Kabupaten Bangli, hanya SMKN 4 Bangli yang menawarkannya. “Biasanya yang memilih jurusan ini berasal dari keluarga seniman. Mereka didorong melanjutkan tradisi,” tambahnya. Ini yang disebutwarisan tak kasatmata—tradisi yang pelan-pelan susut karena generasi mudanya memilih jalur lebih terang. Pakar pendidikan dari Lembaga Studi Pedesaan Bali, Dr. Ni Luh Putu Sariadi, menyebut fenomena ini “jurang budaya.” Ia menjelaskan, “Kita menyaksikan pergeseran fundamental. Anak muda tidak lagi melihat seni tradisi sebagai karier yang menjanjikan secara ekonomi. Padahal, hilangnya regenerasi dalang berarti kita kehilangan guru kehidupan, bukan sekadar penghibur.”

Antara Laku dan Ketiadaan

Untuk memahami kesenjangan ini, lihatlah perbandingan berikut:
AspekJurusan PedalanganJurusan Perhotelan
Peminat (2026)1 siswaRatusan siswa
Motivasi masukWarisan keluarga, panggilan jiwaPeluang kerja di Bali, sektor pariwisata
Jumlah sekolah penyelenggara1 (hanya SMKN 4 Bangli)Hampir semua SMK
Kelanjutan studiInstitut Seni Indonesia (ISI) BaliBeragam, dari politeknik hingga universitas
Prospek karierDalang profesional, seniman, pendidik seniHotel, restoran, kapal pesiar, event organizer

Data sederhana ini menyimpan cerita getir. Di satu sisi, Jurusan Pedalangan menjanjikan kekayaan batin, tetapi tak banyak yang melihat “kepastian finansial” di dalamnya. Lulusannya sebagian besar melanjutkan ke Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, menapaki jalan sebagai seniman yang hidupnya kerap kali tak pasti. Sementara di sisi lain, Perhotelan seolah menyalakan lampu-lampu kota, memikat siapa pun yang membayangkan karier mapan di Tanah Dewata yang terus dipadati turis.

Sekolah Bukan Sekadar Sepi

SMK lainnya juga bergulat dengan fenomena serupa. Kepala SMKN 1 Bangli, Nyoman Susila, menyebut belasan siswa akhirnya diterima di jurusan pilihan kedua setelah gagal masuk Perhotelan. Sistem memang menyediakan katup pengaman: siswa otomatis dialihkan ke pilihan kedua, atau bahkan diarahkan ke sekolah lain jika di pilihan itu pun tak memenuhi syarat. “Sarana terus kami tingkatkan, bahkan ruang praktik Perhotelan baru saja direvitalisasi pemerintah pusat,” kata Susila. Artinya, upaya pengembangan terus dilakukan—namun tetap berujung pada jurusan yang sama. Di tengah semua ini, Komang berjalan pulang dengan kotak wayang di pundaknya. Ia sadar bahwa hanya satu yang mengisi bangku di kelasnya, bahwa teman-teman sebayanya memilih seragam lain. Tapi ia menggenggam sesuatu yang tak dimiliki banyak orang: kepercayaan diri dan warisan yang hidup. “Mungkin aku sendiri, tapi panggungku nanti akan penuh penonton,” katanya. Di situlah inti dari kisah ini. Ketika angka-angka menunjukkan penurunan, manusia tetap punya pilihan untuk bertahan. Satu siswa itu mungkin tampak seperti statistik yang teralienasi. Tapi siapa yang akan meratapi kematian budaya jika kelak tak seorang pun ada yang menyalakan api tradisi?

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User