Ungaran — Saloka Fest 2026 Jadi Ruang Ekspresi Urban dan Musik Lokal
Raka masih ingat betul malam di penghujung Juni itu. Tangannya yang biasa lincah menyemprotkan cat ke dinding kosong mendadak bergetar. Bukan karena grogi—
Raka masih ingat betul malam di penghujung Juni itu. Tangannya yang biasa lincah menyemprotkan cat ke dinding kosong mendadak bergetar. Bukan karena grogi—ia sudah puluhan kali ikut mural bersama komunitasnya—melainkan karena kali ini kanvasnya adalah tembok permanen di tengah Saloka Theme Park. Di sana, di bawah sorot lampu taman hiburan yang berubah menjadi galeri budaya urban, karya Raka berdiri sejajar dengan deretan motor klasik dan panggung stand-up comedy. “Biasanya kami cari sudut tersembunyi. Sekarang justru ditempatkan di pusat keramaian, kayak diakui gitu,” ujarnya, setengah tertawa. Di sekelilingnya, pengunjung yang sedang libur sekolah berhenti, memotret, dan sesekali melempar pujian yang membuat Raka makin percaya diri menyelesaikan graffiti bertema “Kebangkitan Negeri Saloka”.
Momen personal seperti inilah yang coba dirajut Saloka Theme Park lewat Saloka Fest 2026. Mengambil napas dari tema Urban Culture, festival yang berlangsung pada 20 Juni hingga 12 Juli 2026 ini ingin menjadi lebih dari sekadar wahana bermain. Ia merangkul seni jalanan, musik independen, otomotif, hingga komedi tutur dalam satu atap terbuka. Bagi Raka, ajang ini bukan panggung biasa; ia menjadi bukti bahwa kreativitas pinggiran pun layak mendapat sorotan utama.
Panggung Alternatif di Tengah Libur Sekolah
Tidak sedikit pengunjung yang datang awalnya hanya ingin mencoba wahana andalan. Namun mereka segera tersedot ke sudut-sudut baru yang dipenuhi pertunjukan komunitas. General Manager Saloka Theme Park, Agustinus Haryanto, menyebut periode ini sebagai “magnet interaksi” yang sengaja dihadirkan saat libur sekolah agar keluarga dan anak muda bisa bertemu. “Kami ingin komunitas punya tempat komunikasi di tengah rutinitas yang makin sibuk,” katanya.
Dari sisi pengunjung, suasana terasa berbeda. Seorang ibu asal Semarang, Tika, mengaku anaknya yang biasanya hanya tertarik pada komedi fisik di TikTok, kali ini duduk tenang menonton aksi stand-up comedy langsung. “Dia malah nanya, ‘Bu, nanti aku bisa ikut belajar graffiti juga?’,” ujar Tika. Momen-momen kecil itu perlahan menumbuhkan keakraban antara pelaku seni urban dan publik yang semula hanya menjadi penonton pasif. Efek sosialnya terasa: komunitas yang biasanya terpisah-pisah—graffiti, otomotif, komedian—kini berbagi ruang yang sama, saling menonton, dan bahkan berencana membuat kolaborasi dadakan di akhir acara.
Dari Kurasi Eross Candra, Tiga Suara Lokal Menemukan Jalurnya
Bagian paling menyentuh justru lahir dari ajang Saloka Mencari Musik (SMM). Dari 108 peserta, hanya tiga nama yang akhirnya terpilih melalui proses kurasi ketat Eross Candra, gitaris Sheila on 7. Jambore dengan lagu “Pasar Malam”, Anggara MusicLab lewat “Hari Penuh Ceria”, dan Rivera Band yang membawakan “Weekend” berhasil mencuri perhatian. Proses seleksinya sendiri berjalan intens: Eross mengaku menilai 10 karya per hari agar tidak ada yang lolos begitu saja dari pendengarannya.
“Banyak yang ngirim demo pakai rekaman seadanya, tapi justru di situ saya cari warna asli mereka,” ujar Eross. Pemenangnya bukan hanya dapat hadiah uang tunai masing-masing Rp5.000.000, tetapi juga kesempatan memproduksi ulang lagu bersama Eross. Karya mereka pun sudah tersebar di Spotify dan Apple Music, lengkap dengan royalti yang akan mengalir sesuai regulasi. “Rasanya kayak mimpi. Kami cuma band dari pinggiran Ungaran, sekarang ada yang dengerin di Jakarta, bahkan luar Jawa,” ujar vokalis Jambore, Dani, dengan suara yang masih terdengar tak percaya.
Dengan lisensi royalti penuh, setiap putaran lagu mereka di platform digital menjadi sumber pendapatan baru. Ini bukan sekadar piala atau pengakuan sesaat, melainkan fondasi ekonomi kreatif yang bisa menopang karier mereka ke depan. Bagi pengamat budaya setempat, “Ini model ideal apresiasi yang tidak berhenti di seremoni. Ada keberlanjutan ekonomi yang membuat musisi lokal merasa dihargai,” ujar Anindita Kirana, pengajar kajian budaya Urban di salah satu universitas swasta Semarang.
Perbandingan Lanskap Musik dan Ruang Ekspresi
| Aspek | Sebelum Saloka Fest 2026 | Selama Saloka Fest 2026 |
|---|---|---|
| Peserta kompetisi musik | 108 pendaftar dari berbagai daerah | 3 pemenang diproduksi ulang bersama Eross Candra |
| Distribusi karya | Demo mentah di ponsel | Tersedia di Spotify dan Apple Music, dengan royalti |
| Keterlibatan komunitas urban | Terpisah, bergerak sendiri-sendiri | Panggung bersama (graffiti, otomotif, stand-up comedy) |
| Hadiah ekonomi | Rp5.000.000 per pemenang (SMM) | Plus potensi royalti dan jejaring industri musik |
Tabel di atas menunjukkan bagaimana Saloka Fest mengubah titik temu antara karya dan publik. Dari yang semula hanya demo yang mengendap di ponsel, kini tiga lagu lokal sudah bisa diputar berulang-ulang oleh siapa pun. Dari sisi komunitas, panggung ini menjadi katalis yang mempertemukan berbagai subkultur dalam satu ekosistem yang saling menguatkan.
Kenangan yang Akan Terus Diputar
Saat malam puncak tiba, Raka berdiri di depan muralnya yang sudah rampung. Di atas panggung, Jambore membawakan “Pasar Malam” yang liriknya bercerita tentang rindu pada keramaian khas kota kecil. Penonton ikut bernyanyi, beberapa mengangkat ponsel untuk merekam. Di sudut lain, anggota komunitas otomotif memajang motor klasik yang dihiasi stiker dari sesi graffiti siang hari. Saloka Theme Park yang merayakan hari jadi ke-7 itu malam itu bukan hanya wahana yang berputar, melainkan pusat energi kreatif warga.
“Saya nggak nyangka, dari ngecat di jalan sekarang anak saya bisa lihat langsung dan bangga. Ini kayak warisan cerita buat dia,” ujar Raka. Cerita-cerita semacam inilah yang akan terus diputar ulang, tidak hanya di Spotify, tetapi juga di benak para pelaku dan pengunjung yang sempat singgah. Festival ini boleh usai pada 12 Juli, tapi dampaknya—kepercayaan diri, jaringan komunitas, royalti yang mengalir—baru saja dimulai.
Comments (0)