Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

Teriakan 'Matilah Amerika' Bergema di Pemakaman Khamenei

Suasana duka menyelimuti Teheran pada Sabtu pagi, 4 Juli 2026, saat ribuan warga Iran berkumpul untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Prosesi

Jul 07, 2026 - 23:05
0 0
Teriakan 'Matilah Amerika' Bergema di Pemakaman Khamenei

Suasana duka menyelimuti Teheran pada Sabtu pagi, 4 Juli 2026, saat ribuan warga Iran berkumpul untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Prosesi pemakaman yang digelar di kompleks keagamaan Grand Mosalla ini tak hanya menjadi momen perpisahan, tetapi juga berubah menjadi unjuk kekuatan politik yang penuh gelora, diwarnai seruan-seruan lantang yang menggetarkan lapangan luas itu.

Menurut laporan yang dihimpun media kami dari kantor berita AFP, para pelayat mulai memadati area upacara sejak pagi buta. Mereka membawa serta spanduk-spanduk merah raksasa, sebuah simbol kuat yang dalam tradisi Syiah mewakili semangat pengorbanan dan, yang lebih penting, ajakan untuk pembalasan dendam. Kehadiran warna merah yang dominan di tengah lautan manusia berpakaian hitam menciptakan kontras visual yang menegaskan amarah yang masih membara di hati para pendukung setia Republik Islam.

Ketika peti jenazah Khamenei tiba di lokasi, suasana yang semula khidmat seketika berubah menjadi riuh oleh teriakan-teriakan bernada konfrontatif. Ribuan suara serempak menggema, meneriakkan slogan-slogan revolusioner yang selama ini menjadi nyawa ideologi negara itu. Di antara nyanyian doa dan pukulan dada sebagai ekspresi duka, dua frasa terdengar paling jelas dan berulang-ulang: "Matilah Amerika" dan "balas dendam, balas dendam". Teriakan itu membahana, seolah menjadi pesan yang ditujukan tidak hanya untuk langit Teheran yang kelabu, tetapi juga untuk telinga musuh-musuh internasional Iran.

"Seruan ini bukan sekadar ekspresi emosional dari para pelayat. Ini adalah deklarasi bahwa poros perlawanan tidak akan goyah. Jalan yang telah dirintis oleh Ayatollah Khamenei akan terus dilanjutkan, dan darah para syuhada tidak akan pernah kering tanpa adanya balasan," demikian kesaksian seorang analis Timur Tengah yang dikutip oleh media kami di sela-sela liputan.

Simbolisme dan Kekuatan Politik di Balik Upacara

Aparat keamanan Iran tampak berjaga ketat di sekeliling Grand Mosalla, memastikan prosesi berjalan sesuai rencana yang digambarkan oleh pemerintah sebagai "demonstrasi kekuatan kepada musuh-musuh Republik Islam." Kehadiran pejabat tinggi militer dan politik, termasuk petinggi Garda Revolusi, mempertegas bahwa pemakaman ini bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan panggung strategis untuk menunjukkan soliditas internal di tengah tekanan eksternal yang belum pernah terjadi sebelumnya. Grand Mosalla sendiri, yang merupakan salah satu ruang terbuka terbesar di Timur Tengah, dipilih secara cermat untuk menampung massa dalam jumlah besar dan memproyeksikan citra persatuan yang kokoh.

Sementara itu, media-media internasional menyoroti bagaimana warisan wafatnya Khamenei menyisakan pertanyaan besar tentang arah politik Iran selanjutnya. Di satu sisi, seruan-seruan keras yang dikumandangkan di pemakaman ini menjadi penegasan bahwa kebijakan anti-Barat akan tetap menjadi fondasi utama negara. Di sisi lain, banyak pengamat menilai Iran kini berada di persimpangan kritis, di mana suksesi kepemimpinan akan sangat menentukan masa depan hubungan Teheran dengan dunia luar, khususnya dengan Washington dan sekutunya di kawasan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
kartika-dewi

Fact Checker. Memverifikasi klaim gaya hidup dan tren.

Comments (0)

User