Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

Rumah Elpala SMA 68 Mulai Ekspedisi Halimun-Cicatih untuk Dokumenter

Kabut tipis masih menyelimuti punggung Gunung Halimun ketika rombongan itu mulai menapaki jalan setapak berlumpur. Udara dingin pagi bercampur aroma tanah

Jul 09, 2026 - 01:59
0 1

Kabut tipis masih menyelimuti punggung Gunung Halimun ketika rombongan itu mulai menapaki jalan setapak berlumpur. Udara dingin pagi bercampur aroma tanah basah dan dedaunan tropis—sebuah sambaran rindu yang dirasakan para alumni yang dulu pernah berdiri di tempat yang sama, puluhan tahun silam.

Di antara suara gesekan tas carrier dan langkah sepatu bot di atas akar pohon, ada sesuatu yang lebih abadi dari sekadar napas petualangan: semangat regenerasi. Inilah yang mendorong Rumah Elpala, wadah para alumni Elpala SMA Negeri 68 Jakarta, untuk kembali bergerak. Bersama anggota aktif Elpala SMA Negeri 68 Jakarta, mereka memulai ekspedisi besar bertajuk Halimun-Cicatih pada 4–11 Juli 2026. Tujuannya satu: memproduksi film dokumenter yang merekam perjalanan mereka menyusuri hutan hujan tropis Taman Nasional Gunung Halimun Salak hingga mengarungi Sungai Cicatih menuju Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat.

Bukan Sekadar Pendakian

Ekspedisi ini bukan gelaran biasa untuk menaklukkan puncak. Bagi Rumah Elpala, proyek ini adalah jembatan antargenerasi. Para alumni yang kini berkiprah di berbagai bidang—mulai dari peneliti lingkungan hingga profesional media—ingin memastikan nilai-nilai pencinta alam tidak terkikis zaman. Mereka menggandeng Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), Kemenhut, dan organisasi legendaris WANADRI, serta mendapat dukungan penuh dari Kementerian Kehutanan.

Selama delapan hari, peserta merekam keanekaragaman hayati, keindahan alam, sekaligus kisah-kisah kecil yang menunjukkan bagaimana alam membentuk karakter, kepemimpinan, disiplin, dan solidaritas. Bukan hanya lensa kamera yang bekerja, tetapi juga hati yang disiapkan untuk menangkap pelajaran paling sunyi.

“Kami ingin anak-anak muda sekarang tahu bahwa kawasan konservasi adalah sumber kehidupan bagi jutaan orang yang tinggal di sekitar hutan dan sungai. Bukan sekadar tempat petualangan,” ujar Muhammad Nabi, salah satu anggota inti tim ekspedisi yang juga penggiat film konservasi. “Kami tidak sekadar mendaki—kami membangun cerita yang layak diwariskan.”

Delapan Hari yang Merajut Kenangan

Perjalanan dimulai dari pembangunan base camp di Cimelati, titik yang akrab di telinga para petualang alam bebas. Dari sana, tim bergerak menapaki rute pendakian menuju Pos 5, lalu menyusup ke lembah sunyi di kawasan hutan primer yang nyaris tak tersentuh. Di tengah lebatnya kanopi, kamera menyala setiap kali suara owa jawa memecah hening—momen yang diyakini akan menyentuh penonton dokumenter kelak.

Puncak tantangan tiba saat tim melanjutkan ke Leuwi Lalay untuk memasuki etape paling mendebarkan: pengarungan Sungai Cicatih bersama tim WANADRI. Derasnya aliran sungai menjadi metafora bagi semangat kolektif yang tak pernah surut. Semua tahapan—trekking, pendirian kamp, briefing, hingga pengambilan gambar di setiap titik—dirancang sistematis, seolah menyulam kisah alam dan manusia menjadi satu utuh.

“Anak-anak muda Elpala itu punya energi yang luar biasa. Saat rapelling di air terjun, saya melihat betapa alam adalah guru terbaik yang mengajarkan keberanian dan kehati-hatian sekaligus,” tutur Siska Amelia, alumni 2010 yang khusus terbang dari Makassar untuk terlibat sebagai mentor lapangan. “Saya pulang ke sini bukan untuk nostalgia, tapi untuk memastikan tongkat estafet ini benar-benar terpegang erat.”

Warisan untuk Generasi Mendatang

Rangkaian pengambilan gambar berakhir di Pelabuhan Ratu. Namun bagi Rumah Elpala, ini adalah awal dari lahirnya sebuah dokumentasi hidup—sebuah film yang akan menjadi warisan pengetahuan, alat pendidikan karakter, dan pengingat bahwa krisis iklim tak boleh dilawan sendiri. Film ini diharapkan menjangkau sekolah-sekolah lain, komunitas, bahkan pemangku kebijakan yang kerap melupakan bahwa konservasi adalah janji lintas generasi.

Saat tim akhirnya menjejakkan kaki di pesisir selatan, buih ombak seakan berbisik: bahwa perjalanan ini bukan tentang ujung, melainkan tentang siapa yang akan meneruskan.

Ekspedisi Halimun-Cicatih mungkin hanya delapan hari, tetapi jejaknya dirancang untuk abadi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User