Riau — Kapolri Perintahkan Jajaran Optimalkan Penanganan Karhutla
Dedaunan kering di lahan gambut itu berguguran diterpa angin panas. Di atas tanah yang merekah, kepulan asap putih kelabu membubung, menari-nari di kejauha
Dedaunan kering di lahan gambut itu berguguran diterpa angin panas. Di atas tanah yang merekah, kepulan asap putih kelabu membubung, menari-nari di kejauhan sebelum akhirnya menyelimuti langit Riau dalam kabut pekat. Ini bukan sekadar kebakaran biasa. Ini adalah ancaman tahunan yang mengintai napas dan masa depan jutaan warga. Saat sumbu api mulai menyala di beberapa titik, instruksi dari Jakarta pun meluncur tegas. Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo memerintahkan seluruh jajarannya untuk mengoptimalkan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau.
Situasi di Riau yang Kembali Memanas
Riau, provinsi yang menjadi salah satu episentrum karhutla di Indonesia, kembali bergejolak. Data sementara dari satelit pemantau menunjukkan puluhan titik panas mulai menyebar di sejumlah kabupaten—Pelalawan, Indragiri Hilir, hingga Siak. Meski belum seganas krisis asap tahun 2015, tandanya sudah terlihat: udara yang berat dihirup, jarak pandang yang menyusut, dan batuk-batuk kecil mulai terdengar di puskesmas. "Ini masih awal, tapi kalau tidak segera diantisipasi, bisa meledak," ujar Rifan (45), warga Pangkalan Kerinci yang sudah puluhan tahun hidup berdampingan dengan ancaman api.
Instruksi Tegas dari Mabes Polri
Lewat video conference yang digelar mendadak, Kapolri menyampaikan pesan tanpa keraguan. "Saya minta seluruh Kapolda dan jajaran di wilayah rawan karhutla, khususnya Riau, untuk benar-benar mengoptimalkan langkah pencegahan dan pemadaman. Jangan menunggu api besar dulu baru bergerak." Instruksi ini bukan tanpa alasan. Riau memiliki karakteristik lahan gambut yang mudah terbakar dan sulit dipadamkan. Begitu api menjalar ke bawah tanah, ratusan hektare bisa lenyap dalam hitungan jam, melepaskan karbon dalam jumlah masif dan memicu kabut asap lintas batas.
"Setiap helaan napas warga adalah tanggung jawab kita. Tidak ada ruang untuk lengah," tegas Kapolri dalam arahan tersebut, menekankan sinergi dengan TNI, BPBD, dan Manggala Agni.
Di Balik Tirai Asap: Wajah-wajah yang Berjuang
Bagi Lina (32), guru honorer di sebuah SD di Kecamatan Bunut, karhutla bukan sekadar berita. Bulan lalu, ia harus membubarkan kelas lebih awal karena asap mulai masuk ke ruang belajar. "Anak-anak batuk, mata mereka perih. Saya tidak tega," katanya lirih. Di rumah sederhana beratap seng, ia menutup celah-celah jendela dengan handuk basah, berharap asap tidak merenggut kesehatan tiga anaknya. Di luar sana, para petugas berjibaku: helikopter water bombing melintas, personel polisi kehutanan menyusuri parit-parit gambut, dan relawan mendirikan posko kesehatan darurat. Semuanya bergerak dalam simfoni diam melawan amukan api.
Brigadir Yuda (28), anggota polres yang sudah dua minggu tidak pulang, bercerita, "Yang paling sulit itu memadamkan api di lahan gambut. Di permukaan padam, tapi di bawah masih menyala. Kita harus buat sekat bakar dan banjiri kanal."
Ada Asa di Tengah Kabut
Meski awan kelabu masih menggantung, secercah harapan tetap ada. Instruksi Kapolri diharapkan menjadi katalis percepatan penanganan. Riau telah belajar dari masa lalu. Satuan tugas terpadu kini lebih terstruktur, teknologi drone pemantau panas dioptimalkan, dan partisipasi masyarakat mulai tumbuh. Warga seperti Rifan dan Lina tidak lagi diam; mereka melapor ketika melihat titik api dan menjaga kanal agar tetap basah. Mereka tahu, ini tentang masa depan anak-anak, tentang hak untuk bernapas lega tanpa ketakutan.
Langkah tegas dari pusat diharapkan bukan sekadar seremonial, melainkan komitmen nyata yang terasa hingga ke desa-desa terdalam. Di hamparan gambut yang rentan itu, setiap tetes air dari helikopter adalah nyawa, dan setiap instruksi adalah napas bagi masa depan Riau yang lebih bersih.
Comments (0)