Bupati Kuansing Diperiksa KPK, Jajaran Pejabat Dipanggil Jadi Saksi
Raut wajah bapak tua penjual kopi di sudut pasar Taluk Kuantan pagi itu lebih muram dari biasanya. "Dulu orang bilang, kalau pemimpin kita bersih, jalan mu
Raut wajah bapak tua penjual kopi di sudut pasar Taluk Kuantan pagi itu lebih muram dari biasanya. "Dulu orang bilang, kalau pemimpin kita bersih, jalan mulus, sekolah bagus. Tapi ini... siapa lagi yang bisa dipercaya?" keluhnya pelan, sembari menuangkan kopi hitam pekat ke gelas retak. Keheningan pagi di Kuantan Singingi berubah jadi bisik-bisik ramai, setelah puluhan tahun nama kabupaten kecil di Riau ini mendadak terseret ke panggung nasional. Suhardiman Amby, sosok yang menjabat sebagai Bupati, kini harus berhadapan dengan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi.
Panggilan telepon yang menjangkiti ponsel sembilan orang di Kuansing pada Rabu (8/7) kemarin bukanlah undangan biasa. Mereka adalah para saksi yang dijadwalkan hadir di hadapan penyidik KPK, menyangkut kasus dugaan suap dan gratifikasi yang menjerat sang bupati. Di antara nama-nama itu, berdiri Ketua DPRD, beberapa kepala dinas, hingga pejabat eselon tinggi yang selama ini menjaga denyut birokrasi Kuansing.
Langkah Demi Langkah: Panggilan di Hari yang Menentukan
- Pukul 08.30 WIB — Ruang Tunggu Penuh Sunyi. Para saksi mulai berdatangan ke titik pemeriksaan. Meski berusaha tenang, gerak-gerik mereka tak mampu menyembunyikan gelisah. Seorang pegawai yang menemani atasannya berbisik, "Pakai dasi saja rasanya sudah seperti tali yang menjerat."
- Pukul 09.15 WIB — Sesi Klarifikasi Awal. Penyidik mulai memanggil satu per satu. Data awal yang dikantongi KPK cukup tebal. Seorang saksi dari kalangan kepala dinas mengaku diminta menjelaskan aliran dana proyek infrastruktur yang sempat terhenti di akhir tahun 2025 lalu.
- Pukul 11.00 WIB — Ketua DPRD Masuk Ruangan. Adam, sapaan akrab Ketua DPRD, berjalan lambat menuju ruang acak kaca buram. "Saya penuhi panggilan ini sebagai warga negara yang baik," ujarnya singkat. Di dalam, ia dicecar pertanyaan soal persetujuan anggaran dan dugaan permufakatan dalam pengadaan barang dan jasa.
- Pukul 13.30 WIB — Kepala Dinas PUPR Diperiksa. Hampir empat jam berlangsung, pemeriksaan terhadap Kadis PUPR jadi yang terpanjang. Ia diduga memiliki kunci teknis dari proyek-proyek yang kini disorot KPK.
- Sore Hari — Langkah Pulang Penuh Tanya. Para saksi meninggalkan lokasi satu demi satu. Tak satu pun yang bersedia berkomentar panjang. Hanya gestur lelah yang bicara.
Wajah Lelah di Balik Kursi Saksi
Bagi sebagian pegawai, panggilan ini seperti guntur di siang bolong. "Saya hanya menjalankan tugas, tidak pernah membayangkan harus duduk di kursi seperti ini," ujar seorang kepala dinas yang enggan disebut namanya, matanya sembab menahan kantuk. Ia menceritakan bagaimana istrinya menangis semalaman, membayangkan stigma yang mungkin menempel pada keluarga mereka.
Namun, di sisi lain, panggilan bagi sembilan saksi ini justru menyalakan lilin harapan. Seorang guru honorer yang sering mendampingi anak-anaknya di perpustakaan desa berkata, "Kami ingin pemimpin yang duduk itu mendengar kami, bukan hanya mendengar suara proyek. Mungkin ini jalan agar Kuansing kembali pada niat awalnya."
KPK sendiri bergerak dengan cermat. Dari sembilan saksi, tak semua diperiksa sebagai pihak yang "tahu" secara langsung. Beberapa di antaranya adalah mereka yang diduga hanya menjadi alat legitimasi kebijakan tanpa menyadari adanya transaksi gelap di balik meja rapat. Pemeriksaan ini tidak sekadar mencari siapa yang salah, tapi juga memetakan siapa korban dari sistem yang terlanjur busuk.
Angka yang Berbicara Sendiri
Dari hasil penelusuran sementara Beritaseputar, salah satu proyek yang jadi sorotan adalah pengadaan alat kesehatan di RSUD Kuansing pada tahun 2025. Pagu anggaran menyentuh angka Rp7,8 miliar, dengan selisih harga yang mencurigakan hingga 20-30 persen dari harga pasar. Selain itu, terdapat aliran dana yang diduga mengalir ke rekening penampung yang terafiliasi dengan keluarga pejabat terkait. "Ini bukan perkara kecil. Ini menyangkut hak hidup warga Kuansing yang seharusnya mendapat layanan kesehatan layak," ujar seorang penyidik yang enggan disebut namanya.
Kini, masyarakat Kuansing hanya bisa menunggu. Di warung kopi sederhana tadi, bapak tua itu kembali bersuara, "Ini negeri kami. Kalau bukan kami yang jaga, siapa lagi?"
Kasus ini masih bergulir, dan KPK memastikan tidak hanya akan berhenti pada pemanggilan saksi. Sumber di internal KPK menyebutkan, jika bukti cukup, bukan tak mungkin status para saksi akan ditingkatkan menjadi tersangka baru. Kuansing menanti kejelasan, seperti menanti langit biru setelah badai panjang.
Comments (0)