Prabowo dan Modi Resmikan Kerja Sama Konservasi Candi Prambanan
Langit di atas kompleks Candi Prambanan siang itu begitu bersih, hanya guratan awan tipis yang seakan ikut menyaksikan momen bersejarah. Di antara reruntuh
Langit di atas kompleks Candi Prambanan siang itu begitu bersih, hanya guratan awan tipis yang seakan ikut menyaksikan momen bersejarah. Di antara reruntuhan megah yang telah bertahan lebih dari seribu tahun, dua pemimpin negara berjalan berdampingan: Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri India Narendra Modi. Langkah mereka terhenti tepat di depan Candi Siwa, stupa raksasa yang puncaknya masih menyentuh langit. Di sanalah, mereka meresmikan kerja sama konservasi yang akan mengembalikan napas kuno candi itu – sebuah proyek yang bukan sekadar restorasi batu-bata, melainkan penyatuan dua peradaban yang terikat sejarah sejak masa lampau.
Bagi para juru pelihara candi, kunjungan ini bukan seremoni biasa. “Saya jaga candi ini sejak bapak saya masih muda, namun baru kali ini kami melihat dua negara duduk bersama untuk memugar, bukan sekadar berfoto,” ujar Suryo Wibowo, 57 tahun, seorang juru pelihara yang telah mengabdi selama 34 musim. Suaranya bergetar, ia memegang erat kunci pintu masuk zona terbatas yang baru pertama kali dibuka untuk kepala negara.
Ikrar Pelestarian di Pelataran Candi
Acara peresmian berlangsung tanpa kemegahan berlebihan, namun nuansa sakral terasa begitu kuat. Dengan latar relief Ramayana yang merayap di dinding, momen-momen kunci terurai dalam urutan yang merekam harapan baru.
- Kedatangan dan penyambutan. Prabowo dan Modi tiba di pelataran utama dan disambut alunan gamelan Jawa serta tarian bedhaya. Keduanya lalu berjalan kaki menyusuri lorong batu menuju candi utama.
- Pertukaran dokumen kerja sama. Di depan panel relief Ramayana, kedua pemimpin menyaksikan penandatanganan nota kesepahaman antara Kementerian Kebudayaan Indonesia dan Archaeological Survey of India (ASI). Dokumen itu menegaskan proyek konservasi struktural yang akan berlangsung selama lima tahun.
- Peninjauan langsung ke zona retakan. Prabowo dan Modi memasuki pagar pelindung yang biasanya terlarang untuk umum. Mereka menyaksikan dari dekat retakan dan pelapukan batu di stupa-stupa kecil, dipandu oleh arkeolog senior dari Indonesia dan India.
- Pengumuman pendanaan dan teknologi. India berkomitmen mengucurkan dana awal sekitar 2 juta dolar AS serta mengirim tim spesialis yang pernah menangani konservasi Kuil Brihadeeswara di Tamil Nadu. Fokus utama proyek: memperkuat struktur 47 stupa utama tanpa mengubah keaslian bentuk.
- Pertunjukan budaya penutup. Rangkaian acara ditutup dengan sendratari Ramayana kolosal di panggung terbuka Candi Prambanan, menampilkan seniman dari Indonesia dan India yang menari bersama.
Warisan Bersama, Masa Depan Berbagi
Di luar teknis konservasi, kerja sama ini menghadirkan gelombang optimisme baru di kalangan warga lokal. Bagi mereka, candi bukan cuma monumen masa lalu, melainkan urat nadi kehidupan sehari-hari. Ratna Ningrum, pemilik warung makan sederhana di tepi gerbang, tak kuasa menyembunyikan harapannya. “Selama ini kami hanya mendengar proyek perbaikan dari Jakarta. Kini India datang langsung, artinya Prambanan semakin dipandang dunia. Saya yakin tamu akan lebih banyak lagi,” katanya sambil merapikan tumpukan bakpia pesanan para pekerja seni.
Bukan hanya soal ekonomi, kerja sama ini mengetuk kesadaran bahwa Candi Prambanan adalah catatan hidup yang merajut Indonesia dan India dalam satu akar budaya. Di setiap relief yang mulai aus, tersimpan kisah cinta dan perjuangan yang juga abadi dalam epos Ramayana versi Tamil, Bengali, hingga Jawa Kuno. Konservasi ini, dalam kata Suryo, “bukan hanya menyelamatkan batu, tapi menyelamatkan ingatan bersama.”
Ketika jari-jari Modi dan Prabowo menyentuh batu Candi Siwa, kamera menangkap senyum yang memancarkan kebanggaan. Candi itu, yang dulu dibangun oleh para raja Sanjaya, kini dirawat bergotong-royong oleh dua negara yang terpisah lautan. Ikrar di pelatarannya menjadi janji bahwa keagungan masa lalu masih akan berdiri kokoh, ditopang tangan-tangan yang tidak peduli batas geografis.
Comments (0)