Gemuruh empat helikopter Caracal TNI AU memecah langit Yogyakarta siang itu. Namun, di dalam kokpit salah satunya, tak ada ketegangan operasi militer. Yang ada hanyalah decak kagum Presiden Prabowo Subianto saat menunjuk ke arah bawah, memperlihatkan siluet megah Candi Prambanan kepada tamu kehormatannya, Perdana Menteri India Narendra Modi. Dari ketinggian, candi yang telah berdiri sejak abad ke-9 itu tampak bagai miniatur sejarah yang hidup, dikelilingi permadani hijau persawahan dan lanskap kota yang tenang.
“Lihatlah, Perdana Menteri. Di sanalah bukti bahwa persahabatan kita bukan sekadar urusan kontrak dagang atau angka ekspor-impor. Ia terpatri dalam batu, bertahan lebih dari seribu tahun,” ujar seorang ajudan yang mendampingi, menirukan nada keakraban Prabowo dalam perbincangan terbatas itu. Modi, yang duduk di sampingnya, mengangguk pelan. Matanya tak lepas dari jendela. Candi Prambanan, yang didedikasikan bagi Trimurti—Siwa, Wisnu, dan Brahma—bukan hanya warisan Indonesia, melainkan juga cermin peradaban yang akarnya berkelindan dengan Sungai Gangga.
Penerbangan singkat itu menjadi pembuka World Leaders Journey, rangkaian kunjungan kenegaraan yang sarat makna. Bagi ribuan warga di sekitar kawasan Prambanan, momen itu lebih dari sekadar seremoni diplomatik. Sulasmi (
42 tahun), seorang penjual batik di pelataran candi, mengaku merinding melihat iring-iringan helikopter itu. “Saya kecil dulu dengar cerita kakek, bahwa candi ini hadiah dari dewa. Sekarang saya lihat sendiri, dua pemimpin ‘dewa’ bangsa lain datang memberi hormat. Rasanya seperti doa leluhur kami didengar,” katanya. Sulit menyangkal emosi yang merekah.
Ketika Diplomasi Berbicara Melalui Lanskap Sejarah
Pemandangan dari udara memang menyihir. Kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia itu berpadu harmonis dengan alam Yogyakarta, menciptakan panorama yang langsung membungkam sejenak perbincangan teknis di dalam helikopter. Prambanan, yang dibangun pada masa Kerajaan Mataram Kuno sekitar
pertengahan tahun 850 Masehi, menjadi bukti bisu gelombang awal pengaruh India di Nusantara.
| Aspek Kunjungan |
Perspektif Indonesia |
Perspektif India |
| Makna Simbolik |
Prambanan sebagai simbol kemandirian peradaban Nusantara yang berakulturasi dengan budaya global. |
Prambanan sebagai bukti persebaran warisan Hindu dan jejak abadi hubungan antarmasyarakat. |
| Nilai Strategis |
Restorasi warisan dunia sebagai bentuk diplomasi budaya aktif dan promosi pariwisata berbasis nilai. |
Jembatan emosional untuk memperkuat kerja sama di bidang teknologi, pertahanan, dan konektivitas maritim. |
| Penerimaan Publik |
Kebanggaan dan harapan agar warisan ini mendatangkan lebih banyak penghormatan global semacam ini. |
Antusiasme diaspora dan pengakuan kedekatan peradaban yang kadang terlupakan dalam politik modern. |
Presiden Prabowo sendiri, dalam pernyataan sebelumnya di Istana Negara, menyambut baik restorasi dan konservasi situs warisan dunia UNESCO ini.
“Kami menyambut baik restorasi dan konservasi Kompleks Candi Prambanan yang merupakan situs warisan dunia UNESCO,” katanya. Sementara Modi, seperti dikutip dari siaran pers, mengaku antusias.
“Candi tersebut berusia lebih dari seribu tahun merupakan simbol dari budaya yang kita miliki bersama, keterkaitan budaya antara Indonesia dan India,” pungkas Modi. Ini adalah bahasa diplomasi yang langka: memuja masa lalu, untuk mengikat masa depan.
Namun, bagi sebagian pengamat, pemilihan Prambanan sebagai lokasi pembuka kunjungan bukan tanpa perhitungan. “Ini adalah simbolisme yang sangat kuat,” ujar Reza Ardhian, pengamat hubungan internasional dari Universitas Gadjah Mada. “Bapak Prabowo seakan ingin menunjukkan bahwa hubungan historis ini bukan sekadar catatan kaki, melainkan fondasi strategis yang bisa dijadikan pijakan untuk kerja sama yang lebih dalam, terutama saat kedua negara sama-sama harus merespons dinamika geopolitik kawasan Indo-Pasifik.”
Langit Yogyakarta siang itu mungkin hanya saksi bagi
empat helikopter yang melintas. Tapi, dari ketinggian yang membisukan itu, Prambanan kembali menjalankan tugas kunonya: menjadi altar tempat persahabatan dua bangsa diteguhkan. Bukan hanya di atas prasasti atau di ruang konferensi pers, melainkan di dalam hati setiap orang yang mendongak, menyaksikan sejarah sedang ditulis ulang.
Comments (0)