[BALI] — Rosan Roeslani Resmikan Proyek PSEL Ubah Sampah Jadi Listrik
Pagi itu, Rabu (8/7/2026), aroma laut bercampur dengan embusan angin hangat menyambut siapa pun yang melangkah di area TPA Suwung, Bali. Namun ada sesuatu
Pagi itu, Rabu (8/7/2026), aroma laut bercampur dengan embusan angin hangat menyambut siapa pun yang melangkah di area TPA Suwung, Bali. Namun ada sesuatu yang berbeda. Tumpukan sampah yang dulu menjulang bak bukit kelabu, kini mulai berganti wajah. Di hadapan ratusan undangan, Chief Executive Officer (CEO) Danantara, Rosan Roeslani, menekan tombol sirine. Suara melengking itu menandai babak baru: Proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) resmi beroperasi.
“Ini bukan sekadar teknologi. Ini jawaban atas doa warga yang selama puluhan tahun bergelut dengan bau menyengat dan ancaman kesehatan,” ujar Rosan dalam sambutannya, suaranya sedikit bergetar menahan haru. Di barisan depan, Ni Ketut Sari (52), warga Suwung Kangin, menyeka sudut matanya. “Setiap hujan, air lindi itu masuk ke rumah. Anak saya sering gatal-gatal,” kenangnya lirih. Kini, ia dan tetangganya melihat langsung bagaimana gunungan sampah yang dulu menjadi momok, perlahan disulap menjadi aliran listrik yang mengaliri ribuan rumah di Bali Selatan.
Dari Gunung Sampah ke Jantung Listrik
Proyek PSEL Bali bukan lahir dalam semalam. Jauh sebelum seremoni sirine berbunyi, proses panjang itu dimulai dua tahun silam, tepatnya pada pertengahan 2024, ketika Danantara menggandeng investor teknologi dari Jerman dan Jepang. Kini, fasilitas berkapasitas 1.200 ton sampah per hari itu mampu menghasilkan 24 megawatt (MW) listrik—cukup untuk menerangi sekitar 20.000 rumah tangga.
Di balik angka dingin itu, terselip kisah-kisah yang lebih hangat. Made Ardika (37), mantan pemulung di TPA Suwung, kini menjadi operator mesin pemilah di fasilitas PSEL. “Dulu saya menggali sampah berjam-jam untuk dapat plastik. Sekarang saya tekan tombol, sampah masuk, listrik keluar. Gaji saya pun naik tiga kali lipat,” katanya sembari tersenyum, mengenakan seragam biru bertuliskan Danantara Hijau. Ia adalah satu dari 200 warga lokal yang direkrut dan dilatih langsung oleh manajemen proyek.
Kronologi Perjalanan PSEL: Dari Wacana ke Kenyataan
Mari kita runut kembali momen-momen penting yang mengubah sampah menjadi energi di Pulau Dewata:
- Juni 2024: Danantara menandatangani nota kesepahaman dengan Pemerintah Provinsi Bali. Target awal: memproses minimal 800 ton sampah per hari untuk mengurangi beban TPA Suwung yang nyaris ambruk.
- Desember 2024–Maret 2025: Studi kelayakan dan analisis dampak lingkungan rampung. Tim teknisi melakukan uji emisi di tiga titik padat penduduk. Warga Suwung Kangin dan Sesetan dilibatkan dalam forum konsultasi publik. “Awalnya kami skeptis. Takut asapnya beracun,” kata I Wayan Gede, tokoh adat setempat. “Tapi setelah diajak lihat langsung teknologi di Jepang, kami percaya.”
- Juli 2025: Peletakan batu pertama. Rosan Roeslani hadir bersama Gubernur Bali. Saat itu, ia berjanji proyek akan selesai dalam 11 bulan—lebih cepat dari standar internasional.
- Mei 2026: Uji coba operasional dimulai. Proses pembakaran sampah dengan teknologi moving grate incineration yang dilengkapi filter emisi ketat. Hasil uji laboratorium: emisi jauh di bawah ambang batas yang ditetapkan Kementerian Lingkungan Hidup.
- 8 Juli 2026, 10.00 WITA: Rosan Roeslani meresmikan operasi komersial PSEL. Tombol sirine ditekan, listrik mulai mengalir ke gardu induk PLN. Layar monitor di ruang kontrol menunjukkan grafik produksi energi naik secara stabil. “Hari ini kita buktikan, sampah bukan musuh, tapi sahabat yang membawa terang,” ucap Rosan diiringi tepuk tangan riuh.
Kini, dengan beroperasinya PSEL, TPA Suwung yang semula menerima 1.500 ton sampah per hari dari empat kabupaten/kota di Bali, diperkirakan akan berkurang 70 persen volume masukannya. Artinya, masa pakai TPA yang tadinya tersisa tiga tahun, kini bisa diperpanjang hingga satu dekade. Bagi pemprov, ini menyelamatkan anggaran pengelolaan sampah hingga Rp200 miliar per tahun.
Namun, di mata Ni Luh Putu Ani (19), mahasiswi yang tinggal di dekat TPA, dampaknya lebih personal. “Kakek saya dulu sering sesak napas karena gas metana dari sampah. Sekarang udaranya lebih bersih. Dan saya bisa belajar malam dengan listrik yang ternyata berasal dari sampah yang dulu saya benci,” tuturnya. Di tangannya, buku catatan kuliah terbuka, diterangi lampu LED bertenaga—siapa sangka—dari tumpukan sampah yang dulu menggunung di depan rumahnya.
Proyek PSEL Bali menjadi bukti bahwa solusi atas krisis lingkungan tak melulu hadir dalam rupa regulasi atau larangan. Kadang, ia justru menjelma dalam deru mesin dan kilauan lampu yang menghangatkan ribuan keluarga. Seperti yang dikatakan Rosan Roeslani sebelum meninggalkan lokasi: “Kami tidak sedang mengubah sampah menjadi emas. Kami sedang mengembalikan martabat manusia yang hidup berdampingan dengan sampah—dengan memberinya cahaya.”
Comments (0)