Penyintas di Pidie Jaya Bangkit, Sulap Dana Stimulan Jadi Penggerak Ekonomi Keluarga
Jakarta - Bantuan dana stimulan yang digulirkan kepada warga terdampak bencana hidrometeorologi di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, tidak sekadar menjadi tambal sulam kerusakan fisik rumah. Lebih dari itu
Jakarta - Bantuan dana stimulan yang digulirkan kepada warga terdampak bencana hidrometeorologi di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, tidak sekadar menjadi tambal sulam kerusakan fisik rumah. Lebih dari itu, stimulus ini menjelma sebagai katalis kebangkitan ekonomi warga yang sempat terpuruk. Di tengah proses pemulihan pascabanjir bandang dan lumpur yang meluluhlantakkan pemukiman, cerita-cerita ketangguhan mulai terajut di kawasan hunian sementara (huntara), tempat warga perlahan merajut kembali asa dan sumber penghidupan.
Milawati, warga Desa Meunasah Lhok, adalah satu dari banyak penerima manfaat yang membuktikan bahwa bantuan bukanlah titik akhir, melainkan awal dari perjalanan baru. Dana stimulan yang diterimanya digunakan untuk memperbaiki struktur rumah yang jebol diterjang banjir serta membersihkan endapan lumpur tebal yang memenuhi ruang-ruang keluarga. Namun, proses pemulihan ini bukan tanpa aral. Ketika rumahnya masih dalam tahap pembersihan dan perbaikan dinding yang retak, banjir kembali melanda. Genangan air dan lumpur baru memaksa Milawati untuk memulai lagi dari awal, menguras tenaga dan harapan yang sempat terkumpul.
"Banjir datang lagi waktu kami masih bersih-bersih. Rasanya seperti mundur ke nol. Tapi kami tidak mau terus meratapi. Di huntara, kami putuskan untuk memulai usaha kecil-kecilan," ujar Milawati saat ditemui Beritaseputar.com di huntara kawasan Pidie Jaya, Rabu (23/7/2025).
Di tengah keterbatasan ruang dan minimnya modal, Milawati dan keluarganya memilih untuk menjual aneka makanan ringan. Mulai dari gorengan, kue tradisional, hingga kopi saset yang diseduh langsung di warung tenda sederhana. Usaha ini tumbuh dari kebutuhan sehari-hari para penghuni huntara yang sebagian besar juga sedang merintis kembali ekonomi keluarga. Warung kecil Milawati kemudian menjadi simpul interaksi sosial sekaligus penyambung nadi ekonomi, mengalirkan pemasukan kecil yang cukup untuk menutupi kebutuhan harian sambil menunggu bantuan lain atau program pemulihan lanjutan.
Fenomena serupa mulai bermunculan di beberapa titik huntara. Warga yang sebelumnya hanya mengandalkan bantuan kini beralih menjadi pelaku usaha mikro. Berdasarkan pantauan Beritaseputar.com, pola ini membentuk ekosistem pemulihan yang mandiri dan saling menguatkan. Dana stimulan tidak hanya memperbaiki atap dan dinding, tetapi juga menyuntikkan kepercayaan diri warga untuk bangkit dan berproduksi.
Pemerintah daerah melalui badan penanggulangan bencana setempat mengapresiasi inisiatif warga seperti Milawati. Mereka menilai, keberhasilan pemulihan tidak hanya diukur dari jumlah rumah yang selesai dibangun, melainkan juga dari seberapa cepat warga mampu kembali memiliki penghasilan. Skema stimulan yang fleksibel—dapat digunakan untuk perbaikan rumah, pembersihan, hingga modal usaha kecil—dinilai tepat menjawab kebutuhan riil warga terdampak bencana.
Meski begitu, tantangan masih menghadang. Keterbatasan akses ke bahan baku dan pasar yang belum stabil menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diurai. Milawati berharap ada pendampingan lebih lanjut agar usaha kecil seperti miliknya bisa bertransformasi menjadi lebih berkelanjutan. "Kalau bisa dapat pelatihan kemasan atau bantuan gerobak, mungkin kami bisa jualan lebih luas, tidak hanya di huntara," harapnya.
Kisah Milawati adalah bukti bahwa di balik setiap dinding yang retak dan lumpur yang mengering, tersimpan semangat untuk membangun kembali kehidupan—tidak hanya sekadar menunggu bantuan, tetapi menciptakan peluang di tengah keterbatasan. Inilah potret pemulihan berbasis komunitas yang menempatkan warga sebagai subjek aktif, didorong oleh dana stimulan yang menjadi jembatan antara bertahan dan bangkit sepenuhnya.
Comments (0)