Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei Digelar di Teheran, Momen Demonstrasi Kekuatan Iran
TEHERAN — Prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, resmi dimulai di kompleks keagamaan Grand Mosalla, Teheran, pada Sabtu (4/7) pagi. Ribuan pelayat memadati area tersebut
TEHERAN — Prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, resmi dimulai di kompleks keagamaan Grand Mosalla, Teheran, pada Sabtu (4/7) pagi. Ribuan pelayat memadati area tersebut, membawa spanduk merah yang dalam tradisi Syiah melambangkan tuntutan pembalasan, dalam sebuah acara yang dirancang sebagai unjuk kekuatan kepada pihak-pihak yang dianggap sebagai musuh Republik Islam.
Pantauan langsung di lokasi menunjukkan lautan manusia berkumpul sejak dini hari, menunggu kedatangan peti mati mendiang pemimpin yang telah berkuasa selama lebih dari tiga dekade. Peti mati yang diselimuti kain hitam dan hijau itu diarak dengan kawalan ketat pasukan Garda Revolusi sebelum disemayamkan di podium utama, tempat para pejabat tinggi negara, termasuk pemangku jabatan presiden dan komandan militer, memberikan penghormatan terakhir.
Suasana haru sekaligus penuh semangat perlawanan mewarnai jalannya upacara. Teriakan "Matilah Israel" dan "Matilah Amerika" terdengar menggema, sejalan dengan sikap konfrontatif yang selama ini menjadi ciri kepemimpinan Khamenei. Pemerintah Iran menyatakan bahwa agenda pemakaman ini bukan sekadar seremoni keagamaan, melainkan pesan tegas kepada lawan-lawan geopolitiknya bahwa estafet kekuasaan tidak akan menggoyahkan fondasi ideologis negara tersebut.
"Partisipasi besar-besaran rakyat hari ini adalah jawaban bagi mereka yang meragukan ketahanan sistem kami," ujar salah seorang pejabat senior yang dikutip tanpa nama oleh media pemerintah setempat.
Keamanan di ibu kota ditingkatkan ke level tertinggi. Sejumlah ruas jalan utama menuju Grand Mosalla ditutup total, sementara unit-unit anti-huru-hara dan pasukan khusus disiagakan di titik-titik strategis. Pihak berwenang juga memutus akses internet seluler secara berkala untuk mengantisipasi penyebaran informasi yang dapat memicu ketidakstabilan. Meskipun demikian, tidak ada laporan tentang insiden keamanan berarti hingga prosesi berlangsung.
Laporan juga menyebutkan bahwa delegasi dari sejumlah negara sekutu Iran, termasuk perwakilan dari Suriah, Irak, Lebanon, dan kelompok-kelompok poros perlawanan, hadir dalam upacara tersebut. Sementara itu, negara-negara Barat sebagian besar tidak mengirimkan utusan resmi, dan hanya menyampaikan pernyataan diplomatik singkat melalui saluran tidak langsung. Situasi ini menegaskan isolasi internasional yang masih membalut republik Islam itu di tengah transisi kekuasaan yang penuh dinamika.
Wafatnya Khamenei membuka babak baru bagi politik Iran. Dewan Ahli, yang merupakan badan konstitusional bertugas memilih pemimpin tertinggi, dijadwalkan menggelar sidang darurat dalam beberapa hari ke depan. Sejumlah nama kandidat yang beredar antara lain putra mendiang, Mojtaba Khamenei, serta tokoh-tokoh konservatif berpengaruh lainnya di lingkaran kekuasaan. Spekulasi mengenai arah kebijakan luar negeri dan program nuklir Iran pasca-Khamenei juga menjadi sorotan utama badan intelijen asing dan kalangan analis global.
Berita lain yang turut mencuri perhatian pembaca Beritaseputar.com pada hari yang sama mencakup perkembangan terbaru krisis pangan di kawasan Afrika Timur, ketegangan maritim di Laut China Selatan yang kembali meningkat, langkah lanjutan Uni Eropa dalam mempercepat transisi energi bersih, serta kisruh politik internal di salah satu negara Amerika Latin yang berpotensi memicu gelombang migrasi ke perbatasan selatan Amerika Serikat.
Comments (0)