Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

NEW DELHI — Modi Yakin Indonesia dan India Bisa Wujudkan Indonesia Emas Bersama

Di sebuah ruangan bersejarah di Hyderabad House, New Delhi, Perdana Menteri India Narendra Modi menyampaikan keyakinannya yang dalam. Baginya, hubungan Ind

Jul 08, 2026 - 13:44
0 0
NEW DELHI — Modi Yakin Indonesia dan India Bisa Wujudkan Indonesia Emas Bersama

Di sebuah ruangan bersejarah di Hyderabad House, New Delhi, Perdana Menteri India Narendra Modi menyampaikan keyakinannya yang dalam. Baginya, hubungan Indonesia dan India bukan sekadar angka perdagangan atau nota kesepahaman diplomatik. Lebih dari itu, ada benang merah sejarah, budaya, dan rasa saling percaya yang telah terjalin selama berabad-abad.

"Saya yakin kita bisa bersama-sama mencapai Indonesia Emas dan Developed India," ujar Modi, dengan nada yang bukan retorika politis biasa. Matanya menerawang sejenak, seolah melihat kembali kapal-kapal dagang Gujarat yang berlabuh di pesisir Jawa, atau kisah Ramayana yang hidup di kedua negeri. Fondasi itu, menurut Modi, adalah modal terpenting untuk mewujudkan kesejahteraan bersama di masa depan. "Kami tidak memulai dari nol. Kami memulai dari rumah yang sama," imbuhnya.

Dari Ruang Diplomasi ke Dapur Rakyat

Yang menarik, pembicaraan kedua pemimpin tak melulu soal geopolitik tingkat tinggi. Presiden Prabowo Subianto dan PM Modi justru banyak menghabiskan waktu membahas hal-hal yang sangat membumi: program makan siang gratis, layanan kesehatan, dan ketahanan pangan. Dua isu yang mungkin terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya menyentuh urat nadi rakyat paling bawah.

"Kami memiliki program makan siang yang sama dan distribusi kepada publik di Indonesia, dan sekarang kami meningkatkan kerja sama tersebut ke level yang lebih tinggi," kata Modi.

Bagi seorang ibu bernama Sunarti (38) di Desa Sukamakmur, Bogor, kabar ini mungkin belum sampai. Tapi kelak, ketika anaknya mendapat makan siang bergizi di sekolah, atau ketika obat-obatan menjadi lebih terjangkau di puskesmas desa, di sanalah makna pertemuan dua pemimpin ini akan terasa nyata. "Selama ini obat untuk asam urat suami saya mahal, apalagi yang impor. Kalau bisa lebih murah, alhamdulillah," ujarnya saat berbincang ringan di warung depan rumahnya.

Indonesia dan India menandatangani kesepakatan yang memungkinkan obat-obatan berkualitas dengan harga terjangkau dari India lebih mudah diakses masyarakat Indonesia. India dikenal sebagai "apotek dunia", pemasok obat generik terbesar global. Kerja sama ini membuka jalan bagi keluarga-keluarga seperti Sunarti untuk bernapas lebih lega.

Lebih dari Sekadar Perjanjian

Di luar sektor kesehatan dan pangan, kedua negara juga memperkuat kemitraan strategis di berbagai lini:

  • Politik dan Keamanan: Peningkatan intensitas kunjungan tingkat tinggi, konsultasi bilateral rutin, serta penguatan India-Indonesia Security Dialogue untuk penanggulangan terorisme.
  • Pendidikan dan Riset: Kolaborasi antarlembaga termasuk think tank, kelompok persahabatan parlemen, serta pertukaran pelajar dan peneliti.
  • Kebudayaan dan Hubungan Antarmasyarakat: Mempererat ikatan melalui festival budaya, program pertukaran pemuda, dan dialog antaragama.
  • Pertanian: Pertukaran praktik terbaik pertanian berkelanjutan dan pengembangan teknologi pertanian untuk memperkuat ketahanan pangan.

Semua ini mungkin terdengar teknis dan birokratis. Namun di baliknya, ada kisah tentang dua peradaban besar yang kembali menggenggam tangan setelah lama berjalan sendiri-sendiri. Seperti yang dikatakan Modi, fondasi sejarah dan budaya itu nyata—bukan sekadar kata-kata. Dari relief Candi Prambanan yang menceritakan Ramayana, hingga pedagang kain dari Gujarat yang memperkenalkan batik ke Nusantara, hubungan ini telah teruji waktu.

"Kemitraan ini bukan tentang siapa yang lebih besar. Ini tentang bagaimana kita bisa tumbuh bersama," ujar seorang diplomat senior India yang enggan disebut namanya, di sela-sela pertemuan bilateral.

Ketika dua negara dengan populasi gabungan lebih dari 1,7 miliar jiwa memutuskan untuk berjalan bersama menuju kemakmuran, dunia patut menyimak. Bagi Sunarti dan jutaan orang seperti dia, yang penting bukanlah angka-angka besar itu—melainkan apakah besok harga obat suaminya akan lebih murah, dan apakah anaknya bisa makan siang bergizi di sekolah. Di titik itulah diplomasi menemukan maknanya yang paling hakiki.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User