Membentengi Guru dan Murid dari Bahaya Judol dan Pinjol Ilegal

Di sudut kelas yang seharusnya dipenuhi tawa dan coretan kapur, Bu Ratna, seorang guru sekolah dasar di pinggiran Jakarta, harus menahan tangis. Di hadapannya, seorang murid kelas lima dengan polos me...

Jul 14, 2026 - 10:48
0 0

Di sudut kelas yang seharusnya dipenuhi tawa dan coretan kapur, Bu Ratna, seorang guru sekolah dasar di pinggiran Jakarta, harus menahan tangis. Di hadapannya, seorang murid kelas lima dengan polos mengakui telah menghabiskan uang jajan selama sebulan untuk membeli koin permainan di ponsel pintar milik ayahnya. Apa yang tampak seperti permainan anak-anak biasa itu, ternyata, adalah pintu masuk menuju pusaran judi online yang menyamar dalam rupa gim digital penuh warna.

Adegan serupa kini bukan lagi cerita langka. Di banyak sekolah, para pendidik mulai menyadari ada yang tidak beres dengan kebiasaan bermain gawai murid-murid mereka. Laporan dan pengakuan kecil perlahan menguak fakta yang mengejutkan: sekitar 200.000 anak Indonesia terpapar judi online, dan dari jumlah itu, 80.000 di antaranya masih berusia di bawah 10 tahun. Mereka masuk ke dalam jerat ini melalui celah yang tampak tak berbahaya—game online yang akrab dengan dunia keseharian mereka.

Luka di Balik Keceriaan Layar

Data tersebut seperti belati bagi dunia pendidikan. Sekolah, yang selama ini dianggap benteng moral generasi muda, justru menjadi medan tanpa benteng. Anak-anak yang seharusnya berlomba mengejar ilmu, kini terpapar iklan dan fitur taruhan yang disusupkan secara halus ke dalam permainan digital. Tanpa pemahaman risiko yang mereka miliki, mereka terjebak dalam perilaku adiktif yang merampas fokus belajar, meretakkan hubungan sosial, dan seringkali memicu tindakan pencurian kecil untuk terus bermain.

“Saya tidak tahu itu judi, Bu. Kan cuma permainan,” ujar seorang murid kepada Bu Ratna, dengan mata yang belum sepenuhnya mengerti konsekuensi perbuatannya. Kalimat lugu itu menyimpan duka yang dalam. Ia adalah satu dari ribuan anak yang menjadi korban sistem yang memang sengaja dirancang untuk menjerat pikiran yang paling rentan sekalipun. Pihak sekolah kini tak hanya berperan sebagai penyampai pelajaran, tapi juga garda terdepan untuk mendeteksi perubahan perilaku mencurigakan: murid yang tiba-tiba sulit konsentrasi, sering kehilangan uang, atau menunjukkan gelagat gelisah saat dilarang menyentuh gawai.

Guru yang Terjerat, Panutan yang Goyah

Namun, panggilan untuk melindungi dunia pendidikan dari bahaya digital tak berhenti pada murid. Di sudut yang lain, para guru justru menjadi korban dari jenis perangkap yang berbeda: pinjaman online ilegal. Tekanan ekonomi, gaji yang tak selalu cukup, serta kemudahan akses aplikasi pinjaman membuat sebagian pendidik terjerembap ke dalam lingkaran utang berbunga gila. Akibatnya, konsentrasi mengajar porak-poranda. Sebuah cerita nyata dari salah satu kepala sekolah di Jawa Tengah mengisahkan bagaimana seorang guru honorer tiba-tiba menghilang selama beberapa hari—bukan karena sakit, melainkan karena dikejar-kejar penagih utang yang meneror tanpa ampun.

“Malu rasanya bertemu anak-anak. Saya yang seharusnya mengajarkan kebaikan, malah menjadi contoh yang buruk,” ungkap guru itu dalam sesi konseling yang disampaikan secara tertutup. Jerat pinjol ilegal menciptakan krisis ganda di lingkungan sekolah. Selain menggerus kredibilitas moral sosok yang diteladani, beban psikis yang dialami guru membuat kualitas pengajaran merosot tajam. Bel sekolah yang berbunyi setiap pagi bukan lagi simbol semangat, melainkan pengingat akan utang yang harus segera dilunasi.

Panggilan untuk Bergerak Bersama

Darurat ini membutuhkan langkah yang lebih dari sekadar imbauan. Para pemangku kepentingan, mulai dari dinas pendidikan hingga lembaga perlindungan anak, mendesak semua pihak untuk menciptakan ekosistem belajar yang aman dari predator digital. Kerja sama antara sekolah dan orang tua harus diperkuat melalui literasi digital sejak dini. Bukan hanya soal melarang penggunaan gawai, melainkan soal memberi anak kemampuan mengenali jebakan yang menyamar sebagai hiburan.

Di sisi guru, pendampingan psikologis dan bantuan keuangan berbasis koperasi kian sering disuarakan. Sekolah-sekolah diminta untuk membangun sistem deteksi dini dengan memperhatikan tanda-tanda stres finansial pada pendidik, sebelum semuanya terlambat dan mereka lari ke pinjol ilegal. Sebuah program rintisan di beberapa kota telah menunjukkan bahwa kelompok diskusi guru dan jalur pelaporan tanpa stigma mampu menyelamatkan puluhan pendidik dari ancaman penagih utang dan mengembalikan semangat mereka di ruang kelas.

Perisai yang paling kokoh, pada akhirnya, adalah keberanian untuk berbagi cerita. Selama pihak sekolah masih sungkan mengakui bahwa warga mereka rapuh, selama itu pula predator digital akan terus berkeliaran di lorong-lorong sunyi yang tak tersentuh. Melindungi guru dan murid adalah soal merawat masa depan yang tak ternilai harganya—masa depan yang tak bisa dibayar dengan koin permainan atau utang segera cair.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
galih-pratama

Editor Teknologi. Mantan software engineer. Meliput AI, cloud, dan transformasi digital.

Comments (0)

User