Embun Beku Kembali Hiasi Dieng, Suhu Pagi Sentuh Minus 5 Derajat

Kabut tipis perlahan menyingkap pemandangan yang tak biasa di Dataran Tinggi Dieng. Di atas ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut, hamparan daun kentang, rumput liar, dan atap rumah warga beru...

Jul 14, 2026 - 10:39
0 0

Kabut tipis perlahan menyingkap pemandangan yang tak biasa di Dataran Tinggi Dieng. Di atas ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut, hamparan daun kentang, rumput liar, dan atap rumah warga berubah putih bak ditaburi gula halus. Itulah fenomena bedinding, embun beku yang kembali hadir di perbatasan Wonosobo dan Banjarnegara, Jawa Tengah. Pada Kamis dini hari, termometer di beberapa titik mencatat suhu terendah minus 5 derajat Celsius—salah satu yang paling ekstrem sepanjang tahun ini.

Saat Ladang Membeku

Ketika jarum jam masih menunjukkan pukul lima pagi, Kristal es sudah tebal menempel di permukaan tanaman. Helaian daun carica—buah khas Dieng—mengeras dan mudah patah bila disentuh. Bagi petani setempat, pemandangan ini bukan sekadar keindahan, melainkan juga alarm untuk bersiaga. "Kami tidak bisa langsung memanen kentang atau wortel kalau masih beku. Dibiarkan dulu sampai matahari naik, kalau tidak, umbinya bisa rusak," tutur Ahmad Fauzi, petani asal Desa Dieng Kulon. Ia sudah tiga dekade bergelut dengan ritme alam yang keras ini. Tahun ini, lapisan es disebut lebih tebal dibanding musim kemarau sebelumnya.

Bertahan di Tengah Dingin yang Menggigit

Masyarakat Dieng memiliki cara sendiri untuk menghadapi suhu ekstrem. Pagi-pagi buta, asap mengepul dari dapur-dapur rumah kayu. Warga membakar ranting dan kayu untuk menghangatkan badan. Anak-anak berseragam sekolah tampak mungil dalam balutan jaket berlapis, sarung tangan, dan kupluk menutup telinga. "Biasanya saya siapkan air hangat untuk mandi anak. Kalau tidak, mereka menggigil seharian," ujar Yuniarti, ibu dua anak di Desa Sembungan. Di luar rumah, embusan angin terasa menusuk, seakan ribuan jarum kecil menembus kulit. Beberapa keluarga menutup tanaman sayur dengan plastik bening guna mengurangi risiko kerusakan akibat embun beku. Adaptasi sederhana ini telah diwariskan turun-temurun.

Pesona yang Memikat Wisatawan

Di balik tantangan cuaca, bedinding justru menghadirkan pesona tersendiri bagi pelancong. Sejak fenomena ini menjadi perbincangan di media sosial, jumlah pengunjung yang ingin menyaksikan embun beku langsung meningkat. Bukit Sikunir—ikon wisata Dieng—padat oleh wisatawan yang rela bangun pukul tiga pagi demi menangkap momen matahari terbit di atas hamparan es. "Seperti berada di negara empat musim. Rumputnya putih, udaranya segar, benar-benar pengalaman berbeda," kata Rina, wisatawan asal Jakarta yang sengaja mengambil cuti untuk berburu fenomena alam ini. Para pemandu lokal pun sibuk mengingatkan pengunjung agar berpakaian tebal dan tidak membuang sampah sembarangan di area pertanian yang rentan rusak.

Peringatan untuk Sektor Pertanian

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) stasiun terdekat telah mengeluarkan peringatan dini terkait potensi embun beku di wilayah dataran tinggi. Suhu di bawah nol derajat diperkirakan masih berlangsung hingga beberapa hari ke depan, seiring masuknya puncak musim kemarau. Petani diimbau untuk menyiram tanaman pada malam hari guna menjaga kelembapan tanah dan mengurangi efek pendinginan radiasi. "Embun beku bisa menurunkan produktivitas tanaman kentang hingga 30 persen jika tidak diantisipasi," jelas Kepala Dinas Pertanian setempat. Pihaknya sudah mendistribusikan bibit tahan dingin dan memberikan penyuluhan cara melindungi lahan secara swadaya.

Siklus Alam yang Kembali Berulang

Fenomena bedinding bukanlah sesuatu yang asing bagi warga Dieng. Setiap kali musim kemarau tiba, suhu malam dan dini hari anjlok drastis, menciptakan embun beku yang melapisi segala benda. Catatan sejarah lokal menyebut bahwa istilah "bedinding" berasal dari kata "dinding" yang merujuk pada lapisan es yang menyerupai dinding putih tipis. Kini, generasi muda Dieng mulai menempatkan fenomena ini bukan hanya sebagai warisan alam, tetapi juga sebagai identitas budaya yang menghubungkan mereka dengan tanah leluhur. Ketika sinar matahari mulai menghangatkan lembah, kristal es pun perlahan mencair—menandai awal hari penuh kerja dan semangat di atas awan.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
galih-pratama

Editor Teknologi. Mantan software engineer. Meliput AI, cloud, dan transformasi digital.

Comments (0)

User