Gubernur Lemhannas Tekankan Koperasi sebagai Pilar Ekonomi Pancasila

Aula Graha Suhardani di Universitas Koperasi Indonesia (Ikopin) dipenuhi oleh para akademisi, praktisi, dan mahasiswa pada Senin (13/7). Hari itu, kampus yang telah berusia 62 tahun ini menggelar sebu...

Jul 14, 2026 - 10:04
0 0

Aula Graha Suhardani di Universitas Koperasi Indonesia (Ikopin) dipenuhi oleh para akademisi, praktisi, dan mahasiswa pada Senin (13/7). Hari itu, kampus yang telah berusia 62 tahun ini menggelar sebuah seminar nasional yang tidak sekadar menjadi ajang seremoni, tetapi juga ruang refleksi mendalam tentang arah perekonomian bangsa. Sorot lampu panggung mengarah ke mimbar saat Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) melangkah untuk menyampaikan pidato kuncinya, membawa pesan kuat tentang pentingnya koperasi dalam memperkuat fondasi ekonomi yang berlandaskan Pancasila.

Pidato yang Menghidupkan Semangat Gotong Royong

Dengan nada penuh keyakinan, Gubernur Lemhannas mengawali paparannya dengan mengingatkan hadirin bahwa di tengah arus globalisasi dan liberalisasi pasar, koperasi bukanlah sekadar badan usaha, melainkan manifestasi nilai-nilai gotong royong yang menjadi inti dari Pancasila. "Ekonomi kita tidak boleh kehilangan jati dirinya," ujarnya tegas, diikuti anggukan dari para peserta yang memadati ruangan. Ia menyoroti bagaimana koperasi mampu menjadi penyeimbang di tengah dominasi korporasi besar, dengan memberdayakan masyarakat dari lapisan paling bawah.

Pemaparannya tidak hanya bersifat teoritis. Gubernur Lemhannas merujuk pada data bahwa kontribusi koperasi terhadap produk domestik bruto masih di bawah potensi sesungguhnya. "Kita memerlukan lompatan besar, bukan hanya dari sisi regulasi, tetapi juga kesadaran kolektif bahwa koperasi adalah jalan untuk mewujudkan keadilan ekonomi seperti yang dicita-citakan para pendiri bangsa," tambahnya. Kalimat itu sontak membangkitkan tepuk tangan panjang dari peserta seminar.

Koperasi: Dari Masa Kolonial hingga Era Digital

Dalam sesi diskusi yang berlangsung setelah pidato utama, sejumlah narasumber mengupas perjalanan panjang koperasi di Indonesia. Sejak diperkenalkan pada masa kolonial sebagai alat perlawanan ekonomi rakyat, koperasi terus bertransformasi. Kini, di era digital, koperasi menghadapi tantangan baru: disrupsi teknologi, perubahan pola konsumsi, dan generasi muda yang masih memandang koperasi sebagai model ekonomi yang kuno.

Namun, semangat dalam seminar tersebut justru menunjukkan kebalikannya. Beberapa koperasi mahasiswa binaan Ikopin telah membuktikan bahwa dengan sentuhan teknologi digital, model bisnis koperasi justru bisa lebih lincah dan responsif terhadap kebutuhan anggota. "Anak muda harus mengambil peran. Jangan hanya menjadi objek pembangunan, tetapi subjek yang menggerakkan koperasi ke arah yang lebih modern tanpa meninggalkan nilai dasarnya," ujar salah seorang panelis yang merupakan alumni Ikopin dan kini memimpin sebuah koperasi startup di bidang agrikultur.

Peran Strategis dalam Ketahanan Nasional

Gubernur Lemhannas kembali menekankan bahwa penguatan koperasi tidak bisa dilepaskan dari ketahanan nasional secara menyeluruh. Di tengah ketidakpastian global dan krisis pangan yang mengancam, koperasi pertanian dan nelayan, misalnya, menjadi ujung tombak dalam menjaga kedaulatan pangan. "Membangun ketahanan nasional tidak hanya soal militer, tetapi juga soal bagaimana rakyat bisa berdiri di atas kaki sendiri secara ekonomi," ucapnya dalam salah satu sesi tanya jawab yang berlangsung hangat.

Ia pun membagikan kisah dari beberapa daerah yang berhasil bangkit dari keterpurukan ekonomi berkat koperasi. Di sebuah desa di Jawa Tengah, koperasi susu berhasil memutus rantai tengkulak dan meningkatkan pendapatan peternak hingga dua kali lipat. Di Nusa Tenggara Timur, koperasi tenun ikat mampu menembus pasar ekspor sambil tetap melestarikan budaya lokal. Kisah-kisah ini disambut dengan decak kagum dan menjadi bukti nyata bahwa koperasi bukan entitas ekonomi kelas dua.

Mendesain Ulang Masa Depan Koperasi

Seminar ini juga menghasilkan sejumlah rekomendasi konkret. Para peserta sepakat bahwa pemerintah perlu memperkuat ekosistem koperasi melalui pendidikan dan pelatihan yang berkelanjutan, kemudahan akses pembiayaan, serta perlindungan dari praktik persaingan usaha yang tidak sehat. Di sisi lain, gerakan koperasi sendiri harus berbenah: meningkatkan transparansi, profesionalisme pengelolaan, dan kemampuan adaptasi terhadap perubahan zaman.

Rektor Universitas Koperasi Indonesia, dalam sambutannya, menegaskan komitmen kampus untuk terus menjadi pusat pengembangan ilmu perkoperasian di tanah air. "Dies Natalis ke-62 ini bukan hanya perayaan usia, melainkan juga penegasan kembali jati diri kami sebagai lembaga yang lahir dari rahim gerakan koperasi," ujarnya. Ia pun mengumumkan peluncuran laboratorium inovasi koperasi yang akan menjadi wadah bagi mahasiswa dan masyarakat untuk mengembangkan model-model bisnis koperasi masa depan.

Menjelang sore, ketika seminar berakhir, para peserta meninggalkan aula dengan wajah penuh semangat. Ada optimisme yang terasa, bahwa koperasi masih dan akan terus menjadi pilar penting ekonomi kerakyatan. Pidato Gubernur Lemhannas telah berhasil menyalakan kembali api harapan: bahwa ekonomi Pancasila bukanlah sebuah utopia, melainkan sebuah jalan yang bisa ditempuh bersama, asalkan ada kemauan untuk bergandengan tangan. Di tengah derasnya arus kapitalisme global, Indonesia masih memiliki jangkar kokoh bernama koperasi, yang kini perlahan mulai menarik perhatian generasi penerus untuk membawanya ke samudra yang lebih luas.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
andika-rivaldi

Reporter Fintech. Meliput payment gateway, bank digital, dan inklusi keuangan.

Comments (0)

User