Serangan Balasan Iran Guncang Selat Hormuz, Minyak Dunia Meroket
Kamis dini hari, sirene melengking di pangkalan AL AS di Bahrain. Serangan yang ditunggu-tunggu pasca gelombang ketegangan akhirnya tiba. Iran meluncurkan serangan balasan menggunakan kombinasi rudal ...
Kamis dini hari, sirene melengking di pangkalan AL AS di Bahrain. Serangan yang ditunggu-tunggu pasca gelombang ketegangan akhirnya tiba. Iran meluncurkan serangan balasan menggunakan kombinasi rudal balistik dan puluhan drone tempur ke dua pangkalan utama Amerika Serikat di kawasan Teluk, yakni di Bahrain dan Kuwait. Langit yang biasanya tenang tiba-tiba dipenuhi jejak asap dan kilatan ledakan. Seorang saksi mata yang berprofesi sebagai pekerja dermaga menggambarkan, "Suaranya seperti guntur yang tidak pernah berhenti. Kami semua berlindung di bawah meja."
Serangan Terkoordinasi di Dua Titik Strategis
Menurut keterangan sumber militer yang enggan disebut namanya, Iran menembakkan sedikitnya 15 rudal Fateh-110 dan 30 drone Shahed-136 ke Pangkalan AL Kelima AS di Bahrain. Hampir bersamaan, delapan rudal jelajah menghantam Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait. Beberapa rudal berhasil dicegat oleh sistem Patriot, namun sejumlah lainnya menerobos dan menghancurkan hanggar serta landasan pacu. Kerusakan signifikan dilaporkan terjadi pada fasilitas logistik dan barak personel. Belum ada keterangan resmi soal korban jiwa, namun Pentagon mengakui adanya "cedera pada sejumlah prajurit".
Serangan ini merupakan respons langsung atas operasi militer AS yang menargetkan infrastruktur nuklir Iran lima hari sebelumnya. Para analis menyebut serangan balasan ini sebagai yang terbesar dan paling berani sejak ketegangan memuncak dua dekade lalu. Operasi yang diberi sandi "Badai Hormuz" itu menunjukkan kemampuan Iran untuk memproyeksikan kekuatan ke jantung pangkalan militer asing, meskipun di bawah tekanan sanksi berat.
Selat Hormuz di Ujung Tanduk
Letak strategis Bahrain dan Kuwait yang dekat dengan Selat Hormuz membuat serangan ini langsung mengubah kalkulus keamanan energi global. Selat sempit yang hanya selebar 33 kilometer di titik tersempitnya merupakan jalur lewat bagi seperlima pasokan minyak dunia. Begitu berita serangan menyebar, kapal-kapal tanker yang sedang mengantre untuk melintasi selat segera menghentikan laju. Beberapa perusahaan pelayaran internasional menginstruksikan armadanya untuk menjauh dan menunggu instruksi lebih lanjut.
Di pasar minyak, kepanikan langsung terlihat. Harga minyak mentah Brent melonjak 12 persen dalam perdagangan elektronik pagi hari, menembus 105 dolar AS per barel untuk pertama kalinya dalam dua tahun. West Texas Intermediate (WTI) juga ikut terdongkrak hingga 98 dolar. Para pedagang di lantai bursa New York dan Singapura saling berteriak, layar monitor berkedip merah semua. "Ini mimpi buruk bagi rantai pasok global. Jika selat ini ditutup walau hanya tiga hari, dampaknya bisa lebih parah dari krisis 1973," ujar Kepala Analis Energi dari konsultan PetroStrategi, Maya Kusumawardani. Lonjakan harga ini diprediksi akan merembet ke negara-negara pengimpor, termasuk Indonesia. Subsidi BBM yang baru direformasi bisa kembali membebani anggaran negara. Menteri Energi beberapa negara Asia menggelar rapat darurat untuk menghitung skenario terburuk.
Dunia Menahan Napas: Reaksi dan Kekhawatiran
Dewan Keamanan PBB segera menggelar sesi darurat tertutup. Washington melalui Presiden mengutuk serangan sebagai tindakan agresi tak berperikemanusiaan dan menegaskan hak untuk membela diri. Sementara itu, Teheran dalam pernyataan resmi di televisi nasional menyatakan bahwa "serangan ini adalah pelajaran kecil atas kejahatan Amerika di tanah Iran." Mereka juga memperingatkan agar AS segera menarik seluruh pasukannya dari kawasan jika tidak ingin serangan yang "lebih menghancurkan".
Negara-negara Teluk lain, seperti Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab, meningkatkan kewaspadaan ke level tertinggi. Mereka khawatir akan menjadi target berikutnya karena menjadi tuan rumah pangkalan AS. Maskapai penerbangan internasional mengalihkan rute menjauhi udara Teluk. Harga emas sebagai aset lindung nilai (safe haven) juga ikut meroket.
Di selat itu sendiri, kapal perang Iran dan AS dikabarkan telah terlibat dalam manuver saling mengunci radar. Seorang perwira angkatan laut yang bertugas di USS Eisenhower (yang sedang berpatroli di Laut Arab) mengirimkan pesan singkat kepada keluarganya: "Ini bukan latihan. Doakan kami." Pesan itu kemudian viral di media sosial, menggambarkan betapa dekatnya ancaman perang terbuka.
Masyarakat Lokal: Di Antara Dua Raksasa
Bagi warga Bahrain dan Kuwait, serangan ini membuka luka lama tentang posisi mereka yang selama puluhan tahun menjadi rumah bagi markas militer asing. Di Manama, seorang penjaga toko bernama Husein menceritakan bagaimana ia dan anak-anaknya terbangun oleh dentuman. "Kami biasa mendengar pesawat tempur lewat, tapi tadi malam berbeda. Rumah kami bergetar. Anak bungsu saya menangis sampai pagi," tuturnya dengan mata sembab. Banyak warga yang memilih mengungsi ke pedalaman meski pemerintah setempat belum mengeluarkan instruksi evakuasi. Masjid-masjid menggelar doa bersama untuk keselamatan negeri.
Di Kuwait, para pensiunan pekerja minyak berkumpul di kedai kopi sambil memandang ke arah kilang yang masih mengepulkan asap. Mereka berdiskusi tentang masa lalu, tentang perang Teluk pertama, dan tentang siklus kekerasan yang seolah tak berujung. "Kami hanya ingin hidup tenang. Kenapa harus selalu begini?" ujar salah seorang dari mereka dengan lirih.
Sementara itu, organisasi kemanusiaan memperingatkan bahwa eskalasi lebih lanjut akan menghambat pengiriman bantuan ke wilayah-wilayah konflik di Yaman dan Suriah. Rantai logistik yang terputus di selat bisa memperparah krisis pangan yang sudah mengintai jutaan jiwa.
Ketegangan di Selat Hormuz sejauh ini belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Kapal-kapal induk AS mulai bergerak mendekat, sementara Iran mengancam akan menutup selat jika diserang lagi. Dunia kini memandang cemas ke sepetak air sempit yang menjadi urat nadi perekonomian global, berharap agar akal sehat dan diplomasi masih menemukan celah di sela deru mesin perang.
Baca juga:
Comments (0)