Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

LOUIS KIENNE SEMARANG — Menu Gastronomi Nusantara Hadir, Setiap Hidangan Simpan Cerita

Sebuah piring tidak pernah benar-benar sunyi. Di atasnya, ada tanah yang dulu menumbuhkan benih, ada tangan yang merawat panen, dan ada kisah panjang yang

Jul 08, 2026 - 05:09
0 0

Sebuah piring tidak pernah benar-benar sunyi. Di atasnya, ada tanah yang dulu menumbuhkan benih, ada tangan yang merawat panen, dan ada kisah panjang yang akhirnya bersua di meja makan. Louis Kienne Pandanaran Hotel Semarang merayakan pertemuan itu melalui serangkaian menu anyar di Little by More Gastro Cafe, yang resmi hadir mulai 1 Juli 2026.

Mengusung tema Gastronomi Nusantara, hotel ini tidak sekadar menyodorkan daftar makanan baru. Mereka mengajak setiap tamu bertamasya rasa—sebuah perjalanan yang menyentuh ingatan, budaya, dan identitas yang lama tumbuh di jantung masyarakat Indonesia. “Kami ingin tamu tidak cuma kenyang, tapi pulang dengan cerita,” ujar Chef Marsaid, kepala dapur Little by More, suatu sore.

“Setiap suapan seharusnya mengingatkan kita pada siapa diri kita. Gastronomi bukan kemewahan. Ia adalah cara merawat ingatan kolektif.”

Keyakinan itulah yang menjadi fondasi. Di tengah derasnya tren kuliner modern, Little by More justru memilih menoleh ke akar. Tradisi kuliner Semarang dan penjuru Nusantara dihadirkan kembali dalam tampilan lebih segar, namun tetap dikenali jati dirinya. Teknik memasak kontemporer berpadu dengan penghormatan pada rempah Indonesia—menghasilkan sejumlah kategori menu yang masing-masing membawa narasi sendiri.

Semarang Bites, misalnya, menjadi ruang perjumpaan rasa Nusantara dalam sajian ringan yang intim. Ada Singkong Keju Sambal Roa, hidangan yang mempertemukan singkong—makanan rakyat yang lekat di keseharian Jawa—dengan sambal roa, warisan aroma pesisir timur Indonesia. “Singkong itu jujur, sederhana. Tapi begitu ketemu sambal roa, dia jadi percakapan dua pulau dalam satu gigitan,” kata Marsaid lagi.

Masuk ke kategori Nusantara Treasure, cerita semakin dalam. Di sini, Chef Marsaid merangkai kekayaan rempah menjadi dua menu utama: Iga Penyet Sambal Kecombrang dan Bebek Goreng Rempah Sambal Ijo. Keduanya lahir dari pemahaman bahwa rempah Indonesia bukan sekadar bumbu dapur. Rempah adalah sejarah yang membentuk karakter kuliner bangsa, jejak nenek moyang yang masih bisa kita cicipi hari ini.

“Kecombrang itu bunga, tapi dia punya sikap. Begitu juga iga yang kami empukkan perlahan. Ada proses yang tidak bisa dikejar waktu. Sama seperti tradisi—ia butuh kesabaran,” ujarnya.

Sebagai penghormatan khusus pada kota tempat hotel ini bertumbuh, muncullah Semarang Signature: Bandeng Presto Sambal Mangga. Ikon kuliner Semarang yang telah dicintai lintas generasi itu kini ditampilkan dalam pendekatan lebih modern. Namun, jiwanya tetap utuh—bandeng yang lunak, sambal mangga yang segar, dan kenangan akan rumah yang mungkin jauh dari jangkauan.

“Bandeng presto itu seperti pulang. Siapa pun yang pernah tinggal di Semarang, sekali mencicipi, dia akan teringat masa kecilnya. Kami hanya membuatnya lebih rapi, lebih cantik, tapi rasa rindunya tetap di sana,” celetuk Marsaid, tersenyum.

Bagi mereka yang menginginkan sentuhan internasional, tersedia Western Selection dengan Chicken Roulade with Cream Sauce yang lembut, serta Pasta Selection—Spaghetti, Fettuccine, dan Penne dengan saus yang dapat disesuaikan selera. Namun, perjalanan ini belum berhenti di hidangan utama. Kategori Wedang Fusion Series mencoba membaca kembali makna “wedang”—minuman hangat yang akrab dengan keseharian masyarakat Jawa—dalam racikan yang lebih kekinian, menjembatani masa lalu dan masa kini dalam satu tegukan.

Upaya Little by More ini bukan semata inovasi menu. Ia adalah sikap: bahwa di tengah gempuran tren global, hotel-hotel besar punya tanggung jawab merawat cerita lokal. Melalui tata boga, mereka membuktikan bahwa warisan budaya bisa tetap hidup dan relevan, asalkan dikemas dengan hormat dan cinta. Dan saban pengunjung yang datang, tak hanya perutnya yang diisi, tetapi juga jiwanya yang disentuh oleh kisah-kisah dari dapur yang penuh memori.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User