Lionel Messi — Kemenangan Kontroversial Argentina atas Mesir Selamatkan Bisnis FIFA
Malam itu, Stadion MetLife di New Jersey bergemuruh oleh 82.000 pasang mata yang tak ingin berkedip. Bukan karena laga final, melainkan karena satu nama ya
Malam itu, Stadion MetLife di New Jersey bergemuruh oleh 82.000 pasang mata yang tak ingin berkedip. Bukan karena laga final, melainkan karena satu nama yang tertera di papan skor: Lionel Messi. Argentina, juara dunia 2026, berhadapan dengan Mesir dalam laga persahabatan bertajuk "FIFA World Tour". Skor akhir 2-1 untuk Albiceleste terasa pahit bagi publik Kairo, setelah gol penalti kontroversial Messi di menit ke-87—yang oleh VAR dinyatakan sah meski banyak pihak menilai handball bek Mesir terjadi di luar kotak. Namun di balik kontroversi itu, terselip kisah lain: bisnis jutaan dolar FIFA yang nyaris ambruk justru terselamatkan oleh daya magis sang kapten.
"Saya datang dari Ohio bersama tiga anak hanya untuk menonton Messi," ujar Maria Gonzalez (42), seorang ibu rumah tangga yang mengenakan kaus Argentina lusuh warisan sang ayah. "Tiketnya mahal, tetapi melihat dia bermain sekali lagi sebelum pensiun tidak ternilai. Soal kontroversi? Itu bagian dari sepak bola." Di luar stadion, pedagang suvenir asal Mesir, Ahmed Samir, tersenyum sambil menata syal pharaoh. "Kami kalah, tapi dagangan kami habis. Messi membuat semua orang membeli, bahkan fans Mesir."
Pertandingan ini menjadi eksperimen bisnis FIFA yang genting. Sejak dua laga uji coba sebelumnya di Asia dan Afrika gagal mendatangkan penonton, sponsor besar mulai meragukan nilai komersial jeda internasional tanpa kehadiran megabintang. "Tanpa Messi, kontrak hak siar global kami terancam dipotong hingga 40 persen," ungkap seorang pejabat FIFA yang enggan disebut namanya. "Laga Argentina vs Mesir ini adalah taruhan terakhir."
Efek Messi: Antara Kemenangan dan Kontroversi
Kontroversi terjadi ketika tendangan bebas Messi mengenai lengan bek Mohamed Abdelmonem di area abu-abu antara kotak penalti dan luar kotak. Wasit utama asal Meksiko tetap menunjuk titik putih setelah meninjau monitor VAR sebisanya, memicu protes keras pemain Mesir. Gol penalti Messi yang dingin ke pojok kanan gawang Mohamed El Shenawy pun menjadi pembicaraan. Pelatih Mesir, Hossam Hassan, di konferensi pers menyebutnya "kesalahan memalukan", sementara pelatih Argentina, Javier Mascherano, hanya berkomentar: "Banyak keputusan sulit di lapangan. Kami menerima apa pun yang diberikan wasit."
Namun dari sisi bisnis, angka tidak berbohong. FIFA meraup pendapatan total US$ 78 juta dari satu laga ini—naik tajam dari rata-rata US$ 23 juta pada laga uji coba sebelumnya yang tidak melibatkan Messi. Tiket terjual habis dalam tiga jam, hak siar dibeli oleh 112 negara, dan sponsor di tepi lapangan bertambah dari enam menjadi 14 merek global. "Ini bukti bahwa industri sepak bola masih bergantung pada individu, bukan tim," ujar Dr. Emanuele Bianchi, ekonom olahraga dari Universitas Bocconi. "Satu nama bisa menyelamatkan neraca federasi internasional."
| Indikator Bisnis | Tanpa Messi (Rata-rata 2 Laga Sebelumnya) | Argentina vs Mesir (Dengan Messi) |
|---|---|---|
| Pendapatan Total | US$ 23 juta | US$ 78 juta |
| Penjualan Tiket | 41.000 | 82.000 (habis) |
| Negara Pembeli Hak Siar | 58 | 112 |
| Sponsor Tepi Lapangan | 6 | 14 |
| Engagement Media Sosial FIFA (1×24 jam) | 12 juta impresi | 89 juta impresi |
Bagi FIFA, kontroversi tidak menjadi soal selama rekening bank bertambah. Bahkan, polemik justru mendorong perbincangan digital yang membuat eksposur sponsor meroket. "Kami tidak bisa selamanya bergantung pada satu pemain, tetapi pasar memaksa kami memaksimalkan era Messi yang tersisa," tambah pejabat FIFA itu. Di sisi lain, fans Mesir yang kecewa memilih merayakan kekalahan dengan cara mereka sendiri: mengabadikan duel dengan Messi lewat swafoto dari tribun, lalu mengunggahnya dengan tagar #WePlayedAgainstMessi. Keesokan harinya, Federasi Sepak Bola Mesir melaporkan kenaikan penjualan tiket pertandingan domestik sebesar 27 persen.
Messi sendiri, seusai laga, hanya berjalan kaki mengelilingi lapangan sambil melambaikan tangan. Tanpa selebrasi berlebihan. Di matanya, ini hanya laga persahabatan. Tetapi bagi petugas cleaning service di MetLife, Carlos Rivera, ini adalah shift paling mudah dalam kariernya. "Biasanya tribun penuh sampah butuh enam jam dibersihkan. Tadi malam, fans Argentina dan Mesir sama-sama rapi. Mereka terlalu sibuk terpukau." Sepenggal komentar dari pekerja malam itu mungkin lebih tepat menggambarkan pesona Messi daripada tabel pendapatan FIFA mana pun: sepak bola bisa menyatukan, bahkan saat ia memisahkan karena kontroversi.
Comments (0)