Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

Katingan — Teriakan “Perampok” Keluarga Bandar Picu Gugurnya Tiga Polisi

Di tengah gelap dini hari yang biasanya hanya diiringi gemericik Sungai Katingan, Kamis (2/7) lalu berubah menjadi saksi bisu sebuah tragedi. Tiga personel

Jul 08, 2026 - 13:40
0 0
Katingan — Teriakan “Perampok” Keluarga Bandar Picu Gugurnya Tiga Polisi

Di tengah gelap dini hari yang biasanya hanya diiringi gemericik Sungai Katingan, Kamis (2/7) lalu berubah menjadi saksi bisu sebuah tragedi. Tiga personel Polres Katingan yang tengah menjalankan tugas negara gugur setelah dihujani amukan massa. Ironisnya, massa itu bukanlah orang asing—mereka adalah warga satu desa yang dikomandoi oleh keluarga seorang bandar narkoba. Aparat yang datang untuk menegakkan hukum justru dihabisi setelah diteriaki “perampok”. Kini, duka mendalam menyelimuti korps Bhayangkara, sementara fakta demi fakta mulai terang benderang.

Malam Nahas di Tepian Sungai Katingan

Semula, operasi itu berjalan sesuai prosedur. Anggota Polres Katingan mendatangi rumah target operasi narkoba dengan membawa surat tugas resmi. Namun, alih-alih kooperatif, keluarga bandar justru berteriak histeris. “Mereka bilang kami perampok! Kata-kata itu langsung menyulut amarah warga yang sebagian besar masih kerabat pelaku,” tutur seorang anggota yang selamat, suaranya masih bergetar mengingat momen itu.

Komisioner Kompolnas Mochammad Choirul Anam dalam keterangannya di Mapolda Kalimantan Tengah, Palangka Raya, Selasa (7/7), menegaskan bahwa provokasi itu menjadi kunci utama yang mengubah segalanya. “Pihak keluarga target operasi justru meneriaki petugas dan mengatakan petugas merupakan perampok,” ujarnya. Seketika, puluhan warga yang masih memiliki hubungan darah dan kekerabatan dengan pelaku keluar membawa senjata tajam.

Kronologi Peristiwa Berdasarkan Penelusuran Kompolnas

  1. Personel Polres Katingan tiba di lokasi dengan surat tugas resmi untuk menangkap bandar narkoba.
  2. Keluarga target meneriaki aparat sebagai perampok, memicu kedatangan kerabat dan warga sekitar.
  3. Situasi semakin ricuh; anggota memilih mundur dan menyelamatkan diri ke arah Sungai Katingan.
  4. Beberapa anggota terluka, lalu berusaha melarikan diri dengan berenang melintasi sungai sejauh ±500 meter.
  5. Para pelaku bersama kerabat tetap mengejar hingga ke tepian.
  6. Korban diketahui meninggal di darat, kemudian jasadnya dibuang ke sungai.

“Berdasarkan hasil penyelidikan, korban meninggal di darat, kemudian dibuang ke sungai,” kata Anam. Ia menjelaskan, para personel sudah berusaha keras menyelamatkan diri. Berenang sejauh setengah kilometer di kegelapan adalah langkah putus asa yang seharusnya bisa menyelamatkan nyawa, namun kebengisan para pengejar tak memberi ampun.

Rekam Jejak Keluarga yang Meresahkan

Kompolnas juga membedah latar belakang sosial keluarga pelaku. Hasil penelusuran di lokasi menunjukkan rekam jejak yang buruk. Warga sekitar kerap menjadi korban intimidasi. Seorang warga yang enggan disebutkan namanya mengisahkan, “Mereka sering menggedor-gedor rumah kami sambil membawa samurai dan parang. Kami sudah lama hidup dalam ketakutan.” Pernyataan ini diperkuat temuan di lapangan bahwa aksi teror keluarga bandar itu bukanlah kejadian pertama.

Sehari-hari, keluarga tersebut dikenal sangat dominan dan mudah menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan masalah. Penguasaan senjata tajam dan budaya “menyelesaikan sendiri” sudah menjadi momok bagi desa. Tidak kurang dari 20 warga mengaku pernah menjadi sasaran amarah mereka hanya karena masalah sepele. “Kalau malam, kami lebih memilih mengunci diri daripada harus berurusan dengan mereka,” ujar seorang tokoh adat setempat yang mendukung penuh langkah kepolisian.

Apresiasi di Tengah Duka

Justru setelah insiden yang merenggut nyawa tiga polisi itu, gelombang dukungan datang dari masyarakat, perangkat desa, hingga tokoh adat. Mereka menyampaikan apresiasi kepada kepolisian atas upaya penindakan terhadap jaringan narkoba yang selama ini mencengkeram wilayah mereka. “Kami tidak ingin generasi muda kami diracuni. Kehadiran polisi sebenarnya sangat kami nantikan, tapi kami tidak berdaya,” ujar seorang kepala desa yang hadir dalam pertemuan dengan Kompolnas.

Kini, Kompolnas mendesak Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Kalimantan Tengah untuk menerapkan pasal berlapis dengan ancaman hukuman paling berat. Bukan hanya kepada pelaku di lapangan, tetapi juga pihak-pihak yang diduga menjadi otak di balik aksi pembunuhan berencana itu. “Keadilan bagi tiga pahlawan yang gugur saat bertugas harus ditegakkan seadil-adilnya,” tegas Anam.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User