Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

Jakarta — Rupiah Kian Betah di Rp18.000 per Dolar AS

Di sebuah sudut semi-remang Pasar Tanah Abang, Ibu Sari (45) menghela napas panjang. Jemarinya sesekali merapikan tumpukan kain batik printing yang sudah s

Jul 08, 2026 - 22:48
0 0
Jakarta — Rupiah Kian Betah di Rp18.000 per Dolar AS

Di sebuah sudut semi-remang Pasar Tanah Abang, Ibu Sari (45) menghela napas panjang. Jemarinya sesekali merapikan tumpukan kain batik printing yang sudah sebulan lebih belum juga laku. “Modal beli barang impor naik terus, tapi pelanggan minta harga lama. Saya sampai nombok jutaan,” ucapnya lirih, Selasa pagi. Di sudut lain, Budi, pemilik toko elektronik kecil di kawasan Glodok, memilih menutup setengah lapaknya. Ia tak sanggup lagi mengejar harga komponen dari Tiongkok yang terus membengkak seiring merosotnya rupiah.

Cerita Ibu Sari dan Budi bukan sekadar keluhan pasar. Ia adalah potret nyata dari guncangan yang menjalar dari pusat kota hingga ke dapur-dapur sempit di perkampungan. Rupiah kini seperti sedang betah di kisaran Rp18.000 per dolar AS. Angka itu tak lagi sekadar simbol di layar bank, melainkan momok yang diam-diam menggerus daya beli, menunda panen impian, hingga menggoyahkan rencana-rencana kecil keluarga Indonesia.

Angka di Balik Layar: Mengapa Rupiah Terus Meluncur?

Untuk memahami mengapa rupiah begitu berat meninggalkan level ini, kita harus membelah cerita menjadi dua arus besar: tekanan dari luar dan kerapuhan dari dalam.

Dari luar, bayang-bayang suku bunga tinggi The Fed masih menggantung. Di tengah inflasi global yang membandel, bank sentral Amerika Serikat itu belum memberi sinyal pelonggaran agresif. Aliran modal asing pun lebih memilih parkir di aset dolar. “Selama The Fed masih hawkish, mata uang negara berkembang seperti rupiah akan terus tertekan,” ujar Dr. Andi Pratama, ekonom senior dari Lembaga Kajian Ekonomi Nusantara (LKAN). Ditambah lagi ketegangan geopolitik dan perang dagang yang membuat investor global terus berlari ke safe haven.

Sementara dari dalam negeri, neraca perdagangan belum mampu jadi tameng kokoh. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan impor bahan baku dan barang konsumsi dalam tiga bulan terakhir melonjak 12% dibanding periode yang sama tahun lalu, sementara ekspor hanya tumbuh tipis 3%. Kesenjangan ini menciptakan permintaan dolar yang jauh lebih rakus ketimbang pasokannya, membuat rupiah kian terhuyung.

Dampak Sosial: Bukan Cuma Angka, Tapi Nyawa

“Saya sampai jual laptop untuk bayar biaya kuliah anak. Cicilannya membengkak karena sebagian bahan praktikum diimpor,” keluh Yanto, seorang ayah dua anak di Bekasi yang anaknya tengah menempuh semester akhir di jurusan farmasi. Ia adalah wajah lain dari krisis senyap yang tak selalu tercatat statistik: rupiah melemah mendorong inflasi harga pangan dan kesehatan, sementara upah buruh hanya bergeser tipis.

Di warung-warung kecil, minyak goreng kemasan yang naik Rp500 per botol bisa jadi bom waktu pertengkaran rumah tangga. Di klinik-klinik, pasien diabetes mulai bertanya-tanya mengapa insulin impor kini bisa selisih puluhan ribu rupiah per bulan. Inilah rentetan sosial yang menjadikan rupiah bukan lagi urusan bankir, melainkan urusan dapur dan obat.

Membedah Penyebab: Faktor Global vs Domestik

FaktorPengaruh Terhadap RupiahSkala Dampak
Suku bunga The Fed tinggiArus modal keluar ke aset dolarTinggi
Ketegangan geopolitikPermintaan dolar sebagai safe haven naikMenengah
Defisit neraca perdaganganKebutuhan dolar impor > eksporTinggi
Sentimen politik domestikKetidakpastian transisi kebijakanMenengah
Intervensi Bank IndonesiaHanya meredam volatilitas jangka pendekRendah

Dari perbandingan di atas, tampak bahwa pemicu utama rupiah terbenam di Rp18.000 adalah perpaduan faktor eksternal dan struktural domestik. “Intervensi BI hanya bisa menahan laju, bukan membalik arah. Selama defisit perdagangan tidak diatasi dan ekspor tidak digenjot, rupiah akan terus sensitif terhadap kabar dari Washington,” tambah Dr. Andi.

Namun, di tengah tekanan itu, ada secercah harapan dari sektor pariwisata dan ekspor jasa digital. Pelaku usaha di Bali melaporkan peningkatan wisatawan mancanegara hingga 20% sejak awal tahun, yang sedikit mampu menambah pasokan dolar. Hanya saja, porsi ini masih terlalu kecil untuk melawan arus utama.

Ibu Sari sendiri kini berusaha beralih ke kain lokal yang lebih murah dan tak terpapar fluktuasi dolar. “Untungnya, batik Pekalongan mulai peminatnya kembali. Jadi saya bisa bernapas sedikit,” tuturnya sambil tersenyum tipis. Mungkin, di tengah himpitan rupiah inilah, kita belajar kembali memaknai kekuatan dari dalam.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User