Jakarta — Wamendukbangga Isyana Pastikan Pemerintah Tak Batasi Jumlah Anak
Ruangan kecil di lantai tiga rumah susun itu berbau harum bubur kacang hijau. Di sudut, seorang ibu muda bernama Laila mengayun perlahan tubuh mungil bayin
Ruangan kecil di lantai tiga rumah susun itu berbau harum bubur kacang hijau. Di sudut, seorang ibu muda bernama Laila mengayun perlahan tubuh mungil bayinya yang baru berusia dua bulan. Matanya berkaca-kaca. Bukan hanya karena lelah menyusui sepanjang malam, tetapi juga karena sebuah kabar yang sempat meresahkannya: katanya, pemerintah akan membatasi jumlah anak per keluarga. “Saya takut sekali. Saya dan suami ingin tiga anak, tapi kalau dibatasi, bagaimana?” ujar Laila, suaranya nyaris berbisik.
Keresahan seperti yang dialami Laila bukan isapan jempol. Di berbagai obrolan warung kopi hingga grup WhatsApp, isu soal rencana pembatasan anak sempat berembus liar. Hari ini, kabar itu ditepis langsung oleh Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Wamendukbangga), Isyana Bagoes Oka.
Klarifikasi yang Menenangkan Hati
“Pemerintah tidak pernah membatasi jumlah anak dalam setiap keluarga,” tegas Isyana di Jakarta, Selasa (3/6). Pernyataan ini sekaligus menjadi oase bagi ribuan pasangan muda yang tengah merancang masa depan keluarga mereka.
“Setiap keluarga berhak menentukan sendiri jumlah anak yang mereka inginkan. Yang kami dorong adalah perencanaan yang sadar, agar anak-anak yang lahir bisa tumbuh optimal — sehat, cerdas, dan penuh kasih sayang,” ujar Isyana dengan nada teduh namun mantap.
Fokus pemerintah, lanjut Isyana, bukan pada angka, melainkan pada kualitas pengasuhan dan kesehatan ibu. Edukasi terhadap keluarga menjadi kunci, mulai dari pemahaman gizi, kesiapan mental, hingga pentingnya jarak kelahiran yang ideal.
Kisah di Balik Angka
Bagi Laila, pernyataan itu melegakan. Ia langsung menelepon suaminya yang bekerja sebagai sopir taksi daring. “Saya bilang, ‘Mas, ternyata enggak dibatasi. Kita tetap bisa punya tiga anak, asal rencananya baik.’ Suami saya langsung lega,” ceritanya sambil tersenyum.
Namun, di balik rasa lega itu, ada pelajaran penting yang perlahan ia pahami. Laila mengaku, kehamilan pertamanya terjadi di usia 19 tahun — saat ia baru dua bulan menikah dan belum benar-benar siap secara mental maupun finansial. “Sekarang saya tahu, itu termasuk ‘terlalu muda’. Waktu itu saya sering sakit, ASI juga sempat tidak lancar,” kenangnya.
Memahami “4 Terlalu”
Kondisi yang dialami Laila adalah bagian dari apa yang disebut sebagai 4T (Empat Terlalu) — sebuah konsep yang disuarakan Isyana Bagoes Oka sebagai pedoman penting bagi setiap keluarga:
- Terlalu muda hamil (di bawah usia 20 tahun)
- Terlalu tua hamil (di atas usia 35 tahun)
- Terlalu banyak anak (lebih dari 4 kali melahirkan)
- Terlalu dekat jarak kelahiran (kurang dari 2 tahun)
Keempat kondisi ini, menurut Isyana, dapat meningkatkan risiko kesehatan ibu dan anak — mulai dari pendarahan, bayi lahir dengan berat rendah, hingga kegagalan pemberian ASI eksklusif. “4T ini bukan untuk menakut-nakuti, tapi untuk membukakan mata. Dengan menghindarinya, kita memberi anak peluang hidup yang lebih baik di masa depan,” jelasnya.
“Saya sering lihat di posyandu, ibu-ibu yang jarak kehamilannya dekat sekali, badannya kurus, bayinya gampang sakit. Perencanaan itu penting, biar ibu dan anak sama-sama selamat,” ujar Bidan Nur, yang telah 15 tahun bertugas di puskesmas Kecamatan Cipayung. Ia menambahkan, “Pernyataan bu Isyana ini mengingatkan kami bahwa tugas kami bukan menghitung jumlah anak, tapi memastikan setiap anak yang lahir benar-benar diinginkan dan dirawat dengan penuh cinta.”
Lebih dari Sekadar Angka
Pemerintah melalui Wamendukbangga ingin membangun budaya keluarga sadar: bahwa memiliki anak adalah perjalanan panjang yang memerlukan perencanaan matang. Bukan berapa jumlahnya, melainkan bagaimana mereka tumbuh.
Laila mengangguk. Ditimangnya sang bayi yang mulai terlelap. “Sekarang, sebelum program anak kedua, saya akan ikut kelas perencanaan keluarga dulu. Biar kali ini saya lebih siap,” ucapnya, kali ini dengan keyakinan yang tak lagi gamang.
Comments (0)