Lalu Muhamad Iqbal: Profil dan Kinerja Gubernur Nusa Tenggara Barat

Lalu Muhamad Iqbal: Profil dan Kinerja Gubernur Nusa Tenggara Barat

Jul 11, 2026 - 08:53
Updated: 8 hours ago
0 1
Lalu Muhamad Iqbal: Profil dan Kinerja Gubernur Nusa Tenggara Barat

Bayangkan seorang pria dengan setelan jas mahal melangkah keluar dari gedung kaca di Ankara, Turki. Tangan kanannya baru saja menandatangani perjanjian dagang dengan pejabat tinggi negara asing. Telepon genggamnya berdering. Di ujung sana, suara warga Lombok Utara yang resah karena irigasi desa mereka tersumbat. Pria itu mendengarkan dengan saksama, lalu berjanji akan segera mengecek langsung. Beberapa hari kemudian, ia sudah berdiri di tengah lumpur, dengan kemeja putih lengan panjang yang digulung sebatas siku, berbincang dengan para petani di bawah terik matahari.

Pria itu adalah Lalu Muhamad Iqbal, Gubernur Nusa Tenggara Barat yang dilantik pada 20 Februari 2025. Peralihan dari diplomat karier ke pemimpin daerah adalah lompatan yang tak lazim, namun justru di situlah letak daya tariknya. Ia membawa serta tiga dekade pengalaman bernegosiasi di meja internasional ke ruang-ruang pertemuan desa di pelosok Lombok dan Sumbawa. Dunia yang biasa ia jelajahi dalam peta geopolitik, kini ia jelajahi secara harfiah: jalanan berlubang, pelabuhan yang perlu dibenahi, dan ladang jagung yang menunggu sentuhan teknologi.

Profil Singkat: Anak Petani yang Menjelajah Dunia

Lalu Muhamad Iqbal lahir pada 10 Agustus 1969 di Lombok Tengah. Ia bukan berasal dari keluarga bangsawan atau politikus senior. Ayahnya seorang petani, ibunya berjualan di pasar tradisional. Sejak kecil, Iqbal paham betul bagaimana rasanya menyaksikan jerih payah orang tua yang tak selalu berbanding lurus dengan harga gabah saat panen tiba. Namun, keterbatasan itu tidak menghalanginya bermimpi besar. Ia muda yang tekun, mampu menuntaskan pendidikan di Universitas Mataram sebelum akhirnya terbang ke Australia untuk meraih gelar Master of International Relations dari Flinders University.

Kecintaannya pada Lombok tak pernah pudar. Meski telah menetap di berbagai ibu kota dunia, ia selalu menyebut dirinya "hanyalah anak petani yang kebetulan bisa jalan-jalan." Kesederhanaan ini yang kelak menjadi fondasi kepemimpinannya.

Karier dan Riwayat Jabatan: Tiga Dekade di Panggung Diplomasi

Jejak karier Iqbal di Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia terbentang panjang. Ia memulai sebagai diplomat muda di Direktorat Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik. Penampilannya yang tenang dan kemampuannya merangkai argumen dengan logika yang rapi membuat kariernya menanjak cepat. Ia sempat menjabat sebagai Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia dan Badan Hukum Indonesia (PWNI-BHI), posisi yang sangat krusial dan penuh tekanan. Di sinilah Iqbal kerap menjadi tameng pertama ketika WNI menghadapi masalah hukum di luar negeri, mulai dari pekerja migran yang tertipu agen hingga kasus-kasus yang menyangkut nyawa.

Puncak karier diplomatiknya adalah ketika dipercaya sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Turki, merangkap Azerbaijan. Di Ankara, ia bukan sekadar penghubung antarnegara. Iqbal aktif membuka akses pasar bagi produk-produk Indonesia, termasuk mendorong ekspor kopi dan kerajinan dari NTB ke pasar Timur Tengah. Dari balkon kedutaan di Ankara, ia selalu memandang jauh ke tenggara, membayangkan bagaimana pengalaman dan jejaringnya bisa langsung dirasakan oleh masyarakat di kampung halamannya sendiri.

Godaan untuk "pulang" itu akhirnya terwujud. Pada Pilkada Serentak 2024, Iqbal maju sebagai calon Gubernur NTB berpasangan dengan Hj. Indah Dhamayanti Putri, seorang birokrat senior dan mantan Sekretaris Daerah Kabupaten Bima. Pasangan ini menang dengan perolehan suara meyakinkan, mengantarkan Iqbal dari koridor PBB menuju Pendopo Gubernur NTB.

Kinerja dan Program Unggulan: Menyambung Benang Diplomasi dan Pembangunan

Begitu resmi menjabat, Iqbal tidak menghabiskan terlalu banyak waktu di ruang kerja. Ia memilih roadshow ke seluruh kabupaten/kota dalam seratus hari pertama. Gaya komunikasinya khas diplomat: mendengarkan dulu, baru bicara. Di depan para kepala desa, ia sering membuka sesi dialog tanpa podium, duduk melingkar di bawah pohon atau di balai desa. Salah satu cerita yang sering ia ulangi adalah ketika ia bertemu seorang petani jagung di Sumbawa yang mengeluh soal pupuk langka. Tidak sampai empat hari, Iqbal sudah mengundang distributor pupuk dan pejabat terkait untuk duduk bersama mencari solusi.

"Saya ini bekas diplomat," katanya suatu kali di hadapan para petani, "tapi diplomasi paling sulit itu justru diplomasi dengan rakyat sendiri. Karena di sini saya tidak boleh gagal."

Program unggulannya, "NTB Emas 2045", menjadi cetak biru pembangunan daerah yang ia canangkan. Program ini bukan sekadar akronim, melainkan visi ambisius yang ia susun dengan detail khas seorang birokrat karier. Pilar pertama adalah industrialisasi berbasis sumber daya lokal. Iqbal mendorong hilirisasi hasil tambang di Sumbawa Barat agar tidak lagi sekadar diekspor mentah. Di bawah kepemimpinannya, Pemprov NTB menyelesaikan negosiasi alokasi smelter dengan perusahaan tambang besar, memastikan ada transfer teknologi dan penyerapan tenaga kerja lokal.

Pilar kedua adalah pariwisata berkelanjutan. Mandalika, dengan Sirkuit MotoGP-nya, tetap menjadi etalase. Namun Iqbal tidak ingin NTB hanya dikenal karena Mandalika. Ia meluncurkan program "Explore Lombok-Sumbawa: The Unseen", yang mempromosikan desa-desa wisata di kaki Gunung Rinjani, air terjun di Lombok Utara yang tersembunyi, hingga savana di Pulau Sumbawa. Ia menggunakan jaringan diplomatik lamanya untuk mendatangkan investor perhotelan dari UEA dan Qatar, namun dengan syarat ketat: harus melibatkan masyarakat lokal dalam rantai pasok.

Pilar ketiga menyentuh

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User