Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

Dosen UPGRIS Sulap Rumput Laut Jadi Produk Bernilai Tinggi

Bagi sebagian orang, rumput laut hanyalah tanaman air yang tumbuh liar di pesisir. Namun di tangan Ibu Kartini (52), seorang warga Desa Mororejo, Kecamatan

Jul 08, 2026 - 05:01
0 0

Bagi sebagian orang, rumput laut hanyalah tanaman air yang tumbuh liar di pesisir. Namun di tangan Ibu Kartini (52), seorang warga Desa Mororejo, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kendal, tanaman itu dulu hanya mampu ditukar dengan recehan. "Paling banter cuma dikeringin, terus dijual mentah. Harganya murah, kadang enggak nutup biaya jemur," kenangnya sambil tersenyum getir. Ironisnya, desa tempat tinggalnya menyimpan potensi rumput laut yang melimpah. Sayangnya, tanpa sentuhan teknologi, potensi itu hanya menjadi komoditas "buangan" dengan nilai jual rendah.

Awal Mula Keresahan Warga Pesisir

  1. Jual mentah, untung minim: Warga hanya menjual rumput laut kering ke pengepul dengan harga yang fluktuatif.
  2. Ketiadaan alat modern: Proses pencucian dan pengeringan masih tradisional, hasilnya tidak higienis dan kualitas tidak seragam.
  3. Minim pengetahuan pasar: Masyarakat tidak tahu bagaimana mengemas atau memasarkan produk turunan yang bernilai tinggi.

Melihat kondisi ini, Tim Dosen Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) turun tangan. Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM), mereka mengusung misi mengubah "barang biasa" menjadi "berkah ekonomi".

Kedatangan Tim Pengabdian: Bukan Sekadar Pelatihan

Dipimpin oleh Agus Mukhtar, S.Pd., M.T., tim yang beranggotakan Dr. Ir. Ibnu Toto Husodo, S.T., M.T., IPU, ASEAN Eng., serta Hisyam Ma'mun, S.T., M.T., tak hanya datang membawa materi. Mereka turun langsung ke dapur-dapur warga dan tempat penjemuran.

  1. Sortasi dan Higienitas: Pelatihan dimulai dari pemilihan bibit unggul hingga teknik pencucian multi-tahap untuk menghilangkan kotoran dan bau amis.
  2. Teknologi Pengeringan: Tim memperkenalkan alat pengering tepat guna yang melindungi rumput laut dari debu dan lalat, menghasilkan produk kering berstandar keamanan pangan.
  3. Diversifikasi Produk: Warga dilatih membuat aneka olahan—dodol, keripik, stik, hingga masker kecantikan berbahan dasar rumput laut.
  4. Pengemasan dan Pemasaran: Edukasi soal desain kemasan menarik, label gizi, dan strategi pemasaran daring melalui media sosial.

"Kami ingin warga tak lagi sekadar menjual barang mentah. Dengan inovasi teknologi, mereka bisa menghasilkan produk bernilai ekonomi berlipat," ujar Agus Mukhtar. Sementara itu, Dr. Ibnu Toto Husodo menekankan bahwa teknologi pengolahan yang tepat mampu memperpanjang masa simpan dan meningkatkan daya saing produk lokal di pasar yang lebih luas.

Panen Perubahan: Dari Penjual Mentah Jadi Pengusaha Kreatif

Setelah tiga bulan pendampingan intensif, perubahan mulai terlihat. Ibu Kartini kini memproduksi "Stik Seaweed Crispy" dan menjualnya dalam kemasan modern. "Omzet saya naik 300 persen dibanding jualan mentah dulu," katanya sumringah. Lebih dari sekadar angka, pemberdayaan ini membangun kemandirian dan kepercayaan diri warga. Hisyam Ma'mun menambahkan, teknologi menjadi investasi jangka panjang jika dibarengi manajemen usaha berkelanjutan.

Program ini menjadi bukti bahwa sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat mampu menyulap komoditas sederhana menjadi sumber kesejahteraan baru. Desa Mororejo kini optimistis menjadi pusat produk olahan rumput laut unggulan di Kendal.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User