Di Tengah Kepungan Api dan Asap: Kisah Pilu dari Lahan yang Terbakar

Langit sore di Desa Sumber Makmur, Kalimantan Tengah, seharusnya dihiasi semburat jingga yang menenangkan. Namun sore itu, Rabu (11/7), yang tampak hanyalah gumpalan asap kelabu yang menyesakkan. Dari...

Jul 13, 2026 - 20:47
0 0

Langit sore di Desa Sumber Makmur, Kalimantan Tengah, seharusnya dihiasi semburat jingga yang menenangkan. Namun sore itu, Rabu (11/7), yang tampak hanyalah gumpalan asap kelabu yang menyesakkan. Dari kejauhan, lidah api mulai menjilat pepohonan akasia, bergerak liar ditiup angin kemarau. Bau sangit memenuhi udara, bercampur debu dan kepanikan.

Pak Dirman (57), seorang petani karet, berdiri mematung di depan pondok kebunnya. Matanya menerawang ke arah kobaran yang semakin dekat. "Saya tidak tahu harus menyelamatkan apa," katanya lirih, suaranya hampir tenggelam oleh gemeretak api yang melahap ranting-ranting kering. Hanya dalam hitungan jam, kebun yang telah ia rawat selama dua dekade itu berubah menjadi lautan api.

Malam yang Membara

Malam itu, warga Desa Sumber Makmur tak bisa tidur. Mereka berjaga dalam gelap, hanya diterangi cahaya api dari seberang sungai kecil. Para pemuda bahu-membahu membuat sekat bakar darurat, menggali parit dengan peralatan seadanya, berharap bisa menahan laju api. Perempuan dan anak-anak mengungsi ke balai desa, membawa serta dokumen penting dan beberapa helai pakaian.

"Saya sudah tiga kali mengalami kebakaran, tapi kali ini paling parah," ujar Bu Sari (42) sambil menggendong anak bungsunya.

"Asapnya tebal sekali. Anak saya batuk-batuk terus. Kami pasrah, hanya bisa berdoa semoga angin berubah arah."
Air mata menggenang di sudut matanya, namun ia mencoba tegar. Di sudut lain balai desa, seorang nenek duduk bersila, menggenggam tas kecil berisi foto-foto lama—mungkin satu-satunya kenangan yang sempat ia selamatkan.

Di Balik Kepungan Asap

Data terbaru menunjukkan, dalam rentang 11 hingga 12 Juli saja, lebih dari 83 hektare lahan di beberapa wilayah Indonesia lenyap ditelan si jago merah. Puncak musim kemarau menjadi pemicu, namun cerita di lapangan jauh lebih kompleks dari sekadar angka. Praktik pembukaan lahan secara ilegal, ketiadaan akses air yang memadai, serta tiupan angin kencang menjadi kombinasi mematikan.

Tim pemadam dari Manggala Agni dan BPBD setempat bekerja tanpa henti. Dengan alat terbatas, mereka memasuki kawasan yang nyaris tak terlihat karena tebalnya asap. "Medannya sulit. Sumber air jauh. Kadang kami hanya bisa berharap hujan," kata Komandan Regu Sukamto, yang sudah tiga hari tidak pulang ke rumah. Wajahnya menghitam, seragamnya kotor, namun semangatnya masih tersisa. Setiap hentakan pompa air, setiap ayunan gepyok, adalah perjuangan melawan keputusasaan.

Harapan di Tengah Abu

Pagi harinya, saat api mulai mereda di beberapa titik, pemandangan bak negeri antah berantah membentang. Lahan seluas puluhan hektare itu kini hanya hamparan arang dan abu. Pepohonan yang dulu rindang berganti batang-batang hitam yang mencuat sunyi. Di tengah kehancuran itu, Pak Dirman ditemukan sedang duduk termenung, memandangi sisa-sisa pohon karetnya. "Ini bukan cuma kebun. Ini cerita hidup saya, hidup anak-anak saya," lirihnya.

Namun di balik duka, benih harapan mulai tumbuh. Pemerintah daerah bersama BNPB bergerak cepat dengan mendistribusikan masker, air bersih, dan bantuan logistik. Kepala desa setempat menginisiasi pertemuan darurat untuk merancang sistem peringatan dini berbasis warga. Para relawan dari berbagai kota juga mulai berdatangan, membawa semangat gotong royong yang mengingatkan bahwa Indonesia tidak pernah sendiri dalam menghadapi bencana.

"Kami sudah instruksikan semua daerah untuk meningkatkan patroli dan menyiagakan posko," tegas seorang pejabat BNPB dalam kunjungannya ke lokasi. Ia menambahkan bahwa kewaspadaan harus menjadi nafas bersama, bukan sekadar tanggung jawab pemerintah. Pengalaman pahit ini diharapkan menjadi pelajaran berharga agar ke depan, pencegahan lebih dikedepankan.

Sore kembali tiba di Desa Sumber Makmur. Kali ini, tidak ada semburat jingga yang ditelan asap. Yang ada hanyalah senyap, dan tekad untuk bangkit dari abu. Pak Dirman perlahan berdiri, mengusap wajahnya yang berdebu. "Kita mulai lagi dari sini," bisiknya. Mungkin luka ini akan membekas lama, tapi seperti tanah yang habis terbakar, kadang justru dari situlah kehidupan baru bermula.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
galih-pratama

Editor Teknologi. Mantan software engineer. Meliput AI, cloud, dan transformasi digital.

Comments (0)

User