Rupiah Tembus Rp18.109: Saat Ketegangan AS-Iran Merayap

Di sudut sebuah rumah sederhana di kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat, Santi (42) memandangi layar ponselnya dengan tatapan kosong. Angka yang tertera di aplikasi perbankan digital tak juga berubah: Rp...

Jul 13, 2026 - 20:47
0 0

Di sudut sebuah rumah sederhana di kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat, Santi (42) memandangi layar ponselnya dengan tatapan kosong. Angka yang tertera di aplikasi perbankan digital tak juga berubah: Rp18.109 untuk setiap satu dolar Amerika Serikat. Perempuan yang sudah 15 tahun menggeluti usaha impor mainan anak itu tahu, Senin (13/7) sore ini adalah salah satu hari terberat dalam sejarah bisnis kecilnya. "Saya baru saja transfer uang muka pesanan dari Tiongkok yang dihargakan dalam dolar. Biasanya cukup Rp17.500, hari ini tiba-tiba membengkak hampir enam persen. Padahal, anak-anak saya masih menunggu setoran sekolah bulan depan," ujarnya dengan suara bergetar, sembari mengusap dahi yang mulai basah oleh keringat.

Kisah Santi hanyalah satu dari ribuan narasi yang bermunculan di berbagai sudut negeri ketika nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat ditutup pada level yang mengejutkan banyak pihak. Eskalasi konflik antara Washington dan Teheran menjadi aktor utama di balik pergolakan kali ini. Ketika istana-istana kekuasaan saling berhadap-hadapan, dampaknya justru paling dirasakan oleh mereka yang berada jauh dari pusat konflik—para pemilik usaha kecil, mahasiswa yang bersiap berangkat ke luar negeri, hingga ibu rumah tangga yang mengandalkan produk impor murah untuk kebutuhan harian.

Gemuruh Geopolitik yang Menjangkau Pasar Uang

Dalam dua pekan terakhir, hubungan Amerika Serikat dan Iran memasuki fase terburuk dalam satu dekade. Sebuah insiden di perairan Teluk Oman, di mana sebuah kapal perang berbendera Iran dilaporkan mendekati konvoi pasokan energi, memicu respons keras dari Washington. Pemerintahan di bawah pemimpin baru AS langsung memberlakukan paket sanksi baru yang menargetkan ekspor minyak bumi Iran, dan mengirimkan armada tambahan ke kawasan. Iran tak tinggal diam. Mereka membalas dengan pernyataan akan menutup Selat Hormuz jika tekanan berlanjut.

Keputusan itu mengguncang pasar keuangan global. Dolar AS—sebagai mata uang safe haven—langsung diburu investor. Dana-dana keluar dari negara berkembang dan mengalir deras ke instrumen keuangan Amerika. Di saat yang sama, harga minyak mentah dunia melonjak lebih dari 12 persen dalam tiga hari perdagangan. Indonesia, yang masih bergulat dengan kebutuhan impor energi dan bahan baku, langsung merasakan pukulan ganda: beban naiknya harga minyak dan tekanan pada rupiah.

"Ini bukan sekadar angka di layar monitor. Ini adalah pertaruhan kehidupan banyak keluarga," ujar Dr. Andini Prameswari, ekonom senior dari Universitas Indonesia, ketika dihubungi. "Konflik geopolitik seperti ini selalu menciptakan dua korban: mereka yang terlibat langsung, dan masyarakat kecil di negara berkembang yang tak tahu-menahu soal ketegangan itu."

Aktivitas di Lantai Perdagangan

Di lantai bursa, ketegangan itu terasa sangat nyata. Para dealer dan analis valuta asing menghabiskan siang hingga sore dengan mata nyaris tak berkedip menatap pergerakan kurs. Data dari terminal Bloomberg menunjukkan bahwa rupiah sempat menyentuh level terdalam kedua sepanjang tahun ini sebelum akhirnya ditutup di Rp18.109 per dolar AS. Volume transaksi harian melonjak dua kali lipat dari rata-rata, menandakan aksi jual besar-besaran terhadap rupiah dan aksi beli dolar yang masif.

Seorang analis dari salah satu bank swasta nasional yang tak bersedia disebutkan namanya mengisahkan bagaimana suasana ruang dealing berubah panik pada sesi siang. "Ada beberapa klien korporasi yang langsung menelpon untuk mengunci kurs kontrak impor mereka. Mereka khawatir rupiah bisa tembus Rp18.500 sebelum akhir pekan."

Menariknya, di tengah kepanikan itu, ada segelintir pelaku pasar yang justru melihat peluang. Para eksportir—terutama di sektor manufaktur berbasis bahan baku lokal—mulai tersenyum tipis. "Setiap pelemahan rupiah adalah berkah bagi kami," kata Hendra, pemilik pabrik furnitur rotan di Cirebon. "Pembeli dari Amerika Serikat tak akan mengeluh soal harga. Namun, di sisi lain, saya harus memutar otak karena biaya pengiriman dan bahan pembantu yang masih impor ikut naik."

Harapan di Tengah Ketidakpastian

Bank Indonesia, melalui pernyataan resmi yang dirilis sore harinya, menyatakan tekad untuk menstabilkan rupiah sesuai fundamentalnya. Instrumen triple intervention—intervensi di pasar spot, pasar obligasi, dan Domestic Non-Deliverable Forward—kembali diaktifkan. Gubernur Bank Indonesia, dalam kesempatan terpisah, mengungkapkan bahwa cadangan devisa negara masih cukup kuat untuk meredam volatilitas berlebih.

Namun, bagi Santi dan ribuan wajah sunyi lainnya di pasar-pasar tradisional dan pusat grosir Tanah Air, yang terbayang bukanlah cadangan devisa atau kebijakan moneter. Mereka hanya berharap, ketegangan antara Washington dan Teheran tak bertahan lama. Di balik setiap pernyataan politik dan siaran pers bank sentral, ada anak-anak yang menanti uang sekolah, ada tagihan listrik yang harus dibayar, dan ada mimpi-mimpi kecil yang menggantung pada kestabilan selembar uang kertas.

Malam mulai turun ketika Santi membereskan layar ponselnya. Sejenak ia menatap potret keluarganya yang terpajang di dinding rumah kontrakan. "Saya hanya bisa berdoa, semoga esok hari nilainya kembali ke bawah Rp18.000. Atau setidaknya, semoga perang itu tidak jadi terjadi," bisiknya.

Dari sudut rumah itu, cerita tentang rupiah dan ketegangan global terasa sangat manusiawi. Ia bukan lagi sekadar angka di berita ekonomi, melainkan denyut nadi kehidupan yang berdetak di dada jutaan rakyat biasa.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
kartika-dewi

Reporter Cybersecurity. Fokus pada keamanan siber, privasi data, dan regulasi digital.

Comments (0)

User