Saat MPLS Menjadi Gerbang Persahabatan, Bukan Ketakutan

Di sudut koridor yang masih sepi, langkah kecil Alya terhenti sejenak. Jemari mungilnya mencengkeram erat tali tas, sementara matanya mengedar—bangku kosong, papan tulis yang masih bersih, dan senyu...

Jul 13, 2026 - 21:26
0 0

Di sudut koridor yang masih sepi, langkah kecil Alya terhenti sejenak. Jemari mungilnya mencengkeram erat tali tas, sementara matanya mengedar—bangku kosong, papan tulis yang masih bersih, dan senyum tipis dari beberapa wajah yang belum ia kenal. Hari itu adalah momen pertama yang seharusnya mendebarkan. Namun, di sekolah barunya, Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tidak hadir dengan suara lantang atau tugas-tugas aneh yang biasa menjadi cerita menakutkan dari kakak-kakak di lingkungan rumah. Justru, sebuah tepukan lembut di bahu dan kalimat sederhana, “Ayo, sini main bareng,” perlahan mencairkan gugup yang sempat membeku.

Pemandangan seperti inilah yang kini coba dihadirkan di banyak sekolah. Bukan lagi tentang memperkenalkan aturan dengan cara menekan, melainkan membangun koneksi antarteman baru melalui pendekatan yang lebih manusiawi. Alya, gadis kecil berambut kuncir dua, adalah satu dari ribuan peserta didik baru yang merasakan langsung perbedaan itu. Baginya, sekolah bukan sekadar gedung untuk menimba ilmu, tetapi juga panggung untuk mulai merangkai pertemanan yang tulus, tanpa dihantui rasa takut terhadap senioritas atau praktik yang melecehkan.

Tiba di Gerbang yang Berbeda

Ketika bel pertama berdentang, Alya dan beberapa anak lain diajak duduk melingkar di lantai kelas yang beralas karpet warna-warni. Tidak ada instruksi membawa barang-barang tak lazim atau hukuman fisik. Sebaliknya, seorang kakak pendamping dengan seragam putih abu-abu duduk di antara mereka, memperkenalkan diri dengan suara yang ramah, lalu meminta setiap anak menyebutkan nama dan hal kecil yang mereka sukai. “Saya suka menggambar kucing,” ujar seorang anak laki-laki dengan suara lirih, disambut tepuk tangan kecil yang spontan. Momen itu merekatkan hati yang sebelumnya asing, mengubah kecanggungan menjadi gelak tawa sederhana.

Bu Lestari, guru yang telah lebih dari lima belas tahun mengajar, mengisahkan bahwa perubahan ini bukan terjadi begitu saja. “Dulu kami sering terjebak pada tradisi yang katanya untuk membangun mental. Padahal, yang terbentuk justru luka yang dibawa hingga dewasa. Sekarang kami sadar, kenyamanan adalah fondasi pertama yang harus ditanamkan,” tuturnya lirih, sambil memandangi anak-anak yang tengah asyik bermain peran di sudut kelas. Menurutnya, MPLS seharusnya menjadi jembatan yang menghubungkan rasa aman dengan semangat belajar, bukan ajang untuk menunjukan kuasa atau menanamkan hierarki yang kaku.

Bukan Lagi Ajang Menakut-nakuti

Di balik layar persiapan MPLS tahun ini, tergambar perjuangan para pendidik untuk menghapus bayang-bayang kelam masa lalu. Arga, siswa kelas XII yang kini bertugas sebagai mentor, bercerita tentang pengalaman pahit yang sempat ia alami saat pertama kali masuk sekolah menengah. “Saya disuruh membawa air berwarna-warni yang tidak masuk akal. Saya takut, malu, dan sempat tidak mau sekolah lagi. Dari situ saya berjanji, kalau nanti jadi kakak kelas, saya tidak akan melakukan hal yang sama,” ungkapnya dengan suara bergetar. Kini, Arga justru menjadi sosok yang selalu siap mendengarkan cerita adik-adik kelasnya, membantu mereka menemukan ruang laboratorium, atau sekadar menemani makan di kantin.

Transformasi semacam ini tentu tidak instan. Diperlukan pelatihan, diskusi panjang, dan yang terpenting: kebijakan yang menegaskan bahwa praktik perpeloncoan, perundungan, dan senioritas yang merendahkan tidak lagi mendapat tempat. Sekolah-sekolah mulai merancang ulang kegiatan pengenalan dengan permainan yang membangun kerja sama, sesi bercerita yang memupuk empati, hingga kunjungan ke sudut-sudut sekolah yang dipandu dengan penuh kehangatan. Tujuannya satu: memastikan setiap peserta didik baru merasa dilihat, didengar, dan dihargai sebagai individu yang utuh.

Membangun Kenyamanan Sejak Detik Pertama

Menjelang siang, Alya sudah tak lagi berdiri di pinggir. Ia berlari kecil mengejar bola plastik bersama teman-teman barunya di halaman yang teduh. Keringat membasahi pelipis, namun tawanya lepas tanpa beban. Bagi seorang anak berusia dua belas tahun, penerimaan dari lingkungan baru adalah hadiah yang tak ternilai. Momen-momen sederhana seperti inilah yang kerap luput dari perhatian, padahal di sanalah benih kepercayaan diri dan rasa memiliki mulai tumbuh.

Para orang tua pun turut merasakan perubahan atmosfer tersebut. Rina, ibu Alya, mengaku sempat cemas karena mendengar cerita-cerita lama tentang orientasi sekolah yang keras. “Tapi ketika saya lihat dia pulang dengan cerita seru tentang teman baru dan permainan lucu, hati saya lega. Sekarang saya tahu, sekolah ini benar-benar peduli pada kenyamanan anak,” katanya dengan mata berkaca-kaca. Rina dan suaminya memang sengaja memilih sekolah yang secara terbuka menyatakan komitmennya untuk menjadi lingkungan yang aman, inklusif, dan bebas dari perpeloncoan.

Perjalanan mengubah wajah MPLS dari yang menakutkan menjadi memeluk memang masih panjang. Namun, kisah-kisah seperti yang dialami Alya, Arga, dan ribuan anak lain menjadi bukti bahwa perubahan itu bukan sekadar wacana. Setiap kali seorang anak masuk ke gerbang sekolah dengan hati yang ringan, maka satu langkah kecil telah tercatat dalam sejarah pendidikan yang lebih manusiawi. Di sanalah, di antara senyum dan tawa kecil di hari-hari pertama sekolah, kita menanamkan mimpi tentang generasi yang tumbuh tanpa luka lama, generasi yang mengenal kebersamaan bukan dari intimidasi, melainkan dari pelukan hangat persahabatan yang tulus.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
rina-wulandari

Product Reviewer. Mengulas software, aplikasi, dan tools produktivitas.

Comments (0)

User