Dari Polres Gowa, IPTU Firman Bawa Pendekatan Humanis ke Polda Sulsel
Ruang kerja yang rapi di lantai dua Mapolres Gowa siang itu mendadak lengang. Beberapa map biru masih tersusun di meja, namun kursi utama sudah kosong. IPT
Ruang kerja yang rapi di lantai dua Mapolres Gowa siang itu mendadak lengang. Beberapa map biru masih tersusun di meja, namun kursi utama sudah kosong. IPTU Firman, S.H., M.H., perwira yang selama ini menjadi nadi pemberantasan narkotika di Gowa, tengah bersiap menuntaskan masa tugasnya. Hari itu, ia menerima surat, perjalanan baru dimulai: Dirinya ditarik ke jajaran Ditresnarkoba Polda Sulawesi Selatan.
Bagi kolega dan masyarakat yang mengenalnya, kepergian IPTU Firman dari Polres Gowa meninggalkan jejak yang tak mudah tergantikan. Bukan semata karena ketegasannya membongkar puluhan kasus narkotika, melainkan karena caranya merangkul semua pihak. Di balik postur tegas seorang kasat narkoba, tersimpan pribadi yang santun, sederhana, dan gemar duduk melingkar dengan warga tanpa jarak seragam.
Jejak Humanis di Tanah Gowa: Urutan Perubahan yang Dilakukan IPTU Firman
Perjalanan IPTU Firman di Gowa bisa dibaca sebagai catatan tentang bagaimana penegak hukum bisa menjadi sahabat masyarakat. Berikut urutan langkah yang ia bangun sejak hari pertama bertugas:
- Menyusuri Desa dan Majelis Taklim. Tidak hanya razia, IPTU Firman memulai dengan menghadiri pengajian dan musyawarah desa. Ia mendengar langsung keluhan warga tentang peredaran narkoba di kampung mereka.
- Menggandeng Kampus dan Sekolah. Bersama penyuluh, ia menginisiasi "Bincang Akrab Tanpa Narkoba" di 17 sekolah dan 4 kampus se-Gowa. Acara itu bukan ceramah kaku, melainkan dialog terbuka dengan bahasa anak muda.
- Membuka "Warung Curhat" di Kantor Polisi. Satu sudut di Mapolres Gowa disulap menjadi ruang ramah tempat warga bisa bertemu langsung dengannya tanpa harus menghadapi meja penyidik.
- Menjalin Malam Keakraban dengan Wartawan. IPTU Firman rutin mengundang insan pers untuk kopi sore. Ia berbagi data pengungkapan sekaligus meminta masukan tentang persepsi publik. Hubungan ini melahirkan alur informasi pencegahan yang lebih segar di pemberitaan lokal.
- Menggerakkan "Duta Anti-Narkoba" dari Tokoh Agama dan Pemuda. Lebih dari 40 kader desa dilatih menjadi kepanjangan tangan sosialisasi di lingkungan masing-masing.
"Beliau datang ke pengajian bukan pakai seragam dinas, tapi baju koko. Kami pun heran, ternyata polisi bisa begitu. Setelah ngobrol, kami malah jadi berani lapor kalau ada yang mencurigakan," tutur Haji Nurman, tokoh masyarakat Pallangga, saat ditemui di kediamannya.
Pendekatan semacam ini membuahkan hasil yang tidak melulu tampak di statistik. Selama setahun terakhir masa dinasnya di Gowa, tingkat pelaporan masyarakat tentang penyalahgunaan narkoba meningkat 35 persen, angka yang justru diapresiasi IPTU Firman sebagai tanda kepercayaan publik.
Dari Gowa ke Polda: “Ini Bukan Perpisahan, tapi Perluasan Medan Bakti”
Saat surat penugasan baru turun, reaksi pertama yang terlihat dari raut IPTU Firman adalah senyum tipis penuh syukur. Kepada beberapa sejawat jurnalis yang sudah dianggap keluarga, ia menyampaikan bahwa pindah ke Ditresnarkoba Polda Sulsel adalah amanah yang justru akan memberinya panggung lebih luas untuk menularkan virus humanisnya.
“Saya anggap ini pindah pos saja, bukan pindah hati. Di mana pun saya bertugas, metode saya hanya satu: jadikan masyarakat sebagai mitra, bukan objek penegakan hukum,” ucapnya dalam perbincangan ringan di halaman Mapolres, dikutip dari kesaksian seorang wartawan senior yang hadir.
Perwira bernama lengkap Firman ini memang tipikal polisi yang tak banyak jargon. Di internal Polri, ia dikenal sebagai pemimpin yang tak segan turun tangan membersamai anak buahnya saat operasi malam, tetapi juga kerap membuatkan kopi untuk anggota yang lelah. Gaya kepemimpinan semacam ini membuat masa transisi di Polres Gowa terasa emosional bagi banyak pihak.
“Banyak anak buahnya yang sempat ngobrol santai di pos, merasa kehilangan figur yang selalu mendengarkan. Tapi kami semua paham, jenjang karier itu keniscayaan. Beliau sudah menyiapkan pengganti dengan pola pikir yang sama,” ujar seorang anggota Satresnarkoba Polres Gowa yang enggan disebut nama.
Warisan Pendekatan Lunak di Tengah Perang Keras Melawan Narkoba
Satu kenangan yang terus disebut adalah ketika IPTU Firman menolak mengekspos wajah seorang mahasiswa yang tertangkap sebagai pemakai pemula. Kepada media, ia berdalih bahwa merusak masa depan anak muda bukanlah tujuan penegakan hukum. Mahasiswa itu kemudian diarahkan ke program rehabilitasi dan kini menjadi relawan anti-narkoba di kampusnya.
Kini, IPTU Firman mengemban tanggung jawab baru di tingkat provinsi. Jangkauannya kian luas, namun ia membawa serta semua pelajaran dari tanah Gowa: bahwa perang melawan narkoba hanya bisa dimenangkan dengan kepercayaan publik. Selebihnya adalah soal ketegasan yang dilapisi kelembutan, persis karakter yang melekat pada dirinya.
Comments (0)