Anggi Arando Siregar Suarakan Keluhan Warga Tanah Merah: Lapangan Bola Kini Jadi Danau
Di sudut RW 09 Kelurahan Rawa Badak Selatan, Koja, Jakarta Utara, sebuah lapangan yang dulu menjadi ruang tawa kini berubah menjadi genangan air seluas pul
Di sudut RW 09 Kelurahan Rawa Badak Selatan, Koja, Jakarta Utara, sebuah lapangan yang dulu menjadi ruang tawa kini berubah menjadi genangan air seluas puluhan meter. Warga menyebutnya "danau Kobra"—sebuah ironi untuk sepetak tanah yang dulu akrab dengan sepatu bola dan teriakan “goool!” Namun bagi Fajri (34), warga asli Tanah Merah, pemandangan itu seperti luka yang tak mengering. “Anak saya sekarang main bola di gang sempit. Kadang bola masuk got, ya sudah, selesai. Padahal dulu, di sini mereka bisa berlari bebas,” katanya lirih. Suara warga seperti Fajri inilah yang akhirnya diangkat oleh Anggi Arando Siregar, anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi Gerindra, pada rapat bersama Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) DKI Jakarta, Selasa, 7 Juli 2026.
Kenangan di Atas Tanah yang Dulu Bergairah
Lapangan yang kini seperti kolam raksasa itu menyimpan potret masa lalu yang hidup di ingatan banyak orang. Anak-anak dari RW 09 dan sekitarnya menjadikan lapangan sebagai arena bermain sepulang sekolah. Pemuda-pemudi gelar turnamen antar-RT setiap musim kemarau. Bukan sekadar olahraga, lapangan adalah perekat sosial. “Di sini bukan cuma soal menang-kalah, tapi soal kumpul, soal rasa kampung yang padu,” ujar Pak Marzuki (58), tokoh masyarakat yang sudah 30 tahun tinggal di Tanah Merah. Namun sejak tahun 2017, lapangan itu mulai menunjukkan tanda-tanda berubah. Hujan deras membuat air menggenang dan tak kunjung surut sempurna. Warga masih bisa sesekali menggunakannya ketika kemarau panjang, tapi kualitas lapangan terus merosot.
Titik Balik yang Mengecewakan: Pembangunan Jalan 2021
Harapan sempat muncul ketika Pemprov DKI Jakarta melakukan pembangunan di lingkungan RW 09 pada tahun 2021. Sebuah akses jalan berhasil dibangun, bahkan ditinggikan, setelah ada komunikasi antara pemerintah daerah dan pihak pemilik lahan, yaitu PT Pertamina. Status tanah milik perusahaan negara itu memang membuat Pemprov tak bisa langsung membangun fasilitas tanpa izin. “Waktu jalan dibangun, kami kira lapangan juga ikut diperbaiki. Ternyata tidak. Malah sekarang air hujan semua mengalir ke lapangan karena jalannya sudah tinggi,” ucap Santi (29), ibu rumah tangga yang tinggal tepat di rumah yang menghadap lapangan. Lapangan yang letaknya di posisi paling rendah di area itu pun menjadi muara alami bagi limpasan air dari jalan dan pemukiman sekitar.
Kronologi Lapangan Kobra yang Berubah Jadi “Danau”
- Sebelum 2017: Lapangan aktif digunakan untuk olahraga dan kegiatan warga. Komunikasi sosial berjalan normal, anak-anak memiliki ruang bermain yang memadai.
- 2017: Genangan mulai muncul saat musim hujan. Warga mulai mengeluhkan lapangan becek dan tidak bisa digunakan secara optimal. Pemerintah daerah kala itu merencanakan pembangunan fasilitas umum di RW 09, meliputi akses jalan dan perbaikan lapangan.
- 2021: Pembangunan fisik terealisasi untuk akses jalan. Jalan ditinggikan, namun lapangan tidak tersentuh. Dampaknya, air hujan dari permukiman dan jalan yang sudah ditinggikan seluruhnya mengalir ke lapangan yang berada di titik terendah.
- 2021–2026: Genangan semakin meluas dan permanen, berubah menjadi kumpulan air yang oleh warga disebut “danau kecil”. Lapangan benar-benar kehilangan fungsinya. Warga mengeluhkan potensi jentik nyamuk dan hilangnya ruang publik.
- 7 Juli 2026: Anggi Arando Siregar menyuarakan langsung kondisi tersebut dalam rapat dengan Dispora DKI Jakarta, meminta solusi nyata agar lapangan kembali bisa dimanfaatkan warga.
Suara Legislator dan Harapan Baru
Dalam rapat itu, Anggi Arando Siregar menuturkan, “Jadi tadi saya menanyakan ke Pak Kadis Pemuda dan Olahraga mengenai Tanah Merah di Kelurahan Rawa Badak Selatan, Koja, Jakarta Utara. Dulu lapangan ini sering digunakan warga dan anak-anak untuk berolahraga.” Politisi muda Gerindra itu menekankan bahwa meski lahan milik Pertamina menjadi kendala, bukan berarti tak ada celah. “Tahun 2021 kita bisa bangun jalan karena ada komunikasi dengan Pertamina. Saya kira untuk lapangan juga bisa, asal ada kemauan dan upaya yang sama,” imbuhnya. Anggi mendorong Pemprov DKI, melalui Dispora, untuk segera menjalin koordinasi dengan Pertamina dan merancang solusi teknis—mulai dari penanganan drainase, peninggian lapangan, hingga pemanfaatan kembali sebagai ruang publik yang layak.
Warga seperti Fajri tak menuntut muluk-muluk. “Kami cuma pengen anak-anak bisa main bola lagi. Sederhana itu saja,” katanya. Di balik genangan air yang perlahan menjadi danau, harapan warga Tanah Merah tetaplah besar: bahwa lapangan Kobra akan kembali menjadi tanah yang basah oleh keringat, bukan oleh air yang tak kunjung pergi.
Comments (0)