TARUTUNG — Nobar Piala Dunia 2026 Eratkan TNI dan Warga
Malam itu, Nell Cafe di Jalan DI. Panjaitan, Tarutung, Sumatera Utara, tak seperti biasanya. Meja-meja disatukan, layar lebar terpasang, dan aroma kopi tar
Malam itu, Nell Cafe di Jalan DI. Panjaitan, Tarutung, Sumatera Utara, tak seperti biasanya. Meja-meja disatukan, layar lebar terpasang, dan aroma kopi tarutung bercampur dengan celoteh puluhan warga. Bukan hanya pemilik cafe yang menyambut, tetapi juga seragam loreng hijau yang akrab menyapa setiap tamu. Kodim 0210/TU memilih cara sederhana namun hangat untuk merawat jalinan batin dengan masyarakat: menonton bareng—atau nobar—pertandingan Piala Dunia Sepak Bola 2026.
Sejak pukul 23.00 WIB, Selasa (07/07/2026), layar menayangkan laga Argentina melawan Mesir. Kursi-kursi penuh oleh warga dari berbagai usia, dari kakek berpakaian batak lengkap hingga pemuda yang masih berseragam kampus. Di antara mereka duduk prajurit TNI yang ikut bersorak, bertepuk tangan, bahkan sesekali berbagi pisang goreng dengan anak-anak yang setia menemani orang tuanya.
Merawat Kedekatan Lewat “Nonton Bareng”
Pasiter Kodim 0210/TU, Kapten Inf L Napitupulu, menuturkan bahwa malam itu bukan sekadar menonton siaran langsung TVRI. “Melalui kegiatan sederhana seperti nonton bareng ini, kami ingin terus membangun kedekatan, mempererat silaturahmi, serta menghadirkan TNI yang selalu berada di tengah masyarakat,” ungkapnya pada Rabu (08/07). Pernyataan itu langsung terasa nyata saat sorak sorai penonton serempak memecah keheningan Tarutung kala Argentina mencetak gol ketiga, mengubah skor menjadi 3–2. Dalam gegap gempita, tak ada lagi sekat antara seragam dinas dan baju santai.
Kapten L Napitupulu menambahkan, kebersamaan semacam ini menjadi modal penting untuk menjaga persatuan dan menciptakan situasi wilayah yang aman serta kondusif. “Sepak bola menjadi salah satu olahraga yang mampu menyatukan berbagai kalangan dalam semangat sportivitas dan persaudaraan,” katanya.
Bagi banyak warga, kehadiran personel TNI di tengah-tengah mereka meleburkan kesan kaku yang kadang melekat pada institusi militer. “Biasanya kami lihat Bapak TNI cuma waktu upacara atau patroli. Malam ini mereka duduk semeja, kami diskusi tentang taktik Messi, rasanya seperti saudara sendiri,” ujar Rudi Simatupang, seorang warga Kecamatan Tarutung yang sengaja datang bersama istri dan anak bungsunya.
Tidak hanya satu laga yang disaksikan. Pertandingan kedua, Swiss melawan Kolombia pukul 03.00 WIB, tetap menyisakan belasan warga yang bertahan. Meski mata mulai berat, antusiasme tak surut. Ibu Ria, pemilik Nell Cafe, mengaku terharu melihat ruangannya berubah menjadi ruang perjumpaan yang penuh arti. “Saya tidak menyangka kedai kecil ini bisa menjadi tempat TNI dan warga saling merangkul. Malam ini saya belajar bahwa kebersamaan bisa dimulai dari hal kecil,” tuturnya sambil menyajikan teh hangat untuk para tamu.
Kodim 0210/TU sendiri berkomitmen menjadikan kegiatan seperti ini sebagai agenda berkelanjutan. Bukan hanya tentang sepak bola, melainkan tentang menyulam kembali simpul-simpul sosial yang kadang renggang oleh rutinitas. Dalam diamnya malam Tarutung, nobar itu telah menjadi panggung kecil bagi kemanunggalan TNI–rakyat yang selama ini diikrarkan dalam sumpah, namun malam itu dihidupkan kembali lewat pelukan sederhana di depan layar.
Comments (0)