Bukan Sekadar Pengelola Sekolah
Dalam arahannya, Wamensos dengan tegas menolak paradigma lama. Menjadi kepala sekolah di Sekolah Rakyat bukanlah pekerjaan birokratis. "Anda adalah pemimpin perubahan," tegasnya, suaranya terdengar dalam dan penuh penekanan meski terpancar dari aplikasi konferensi video. Di mata Kemensos, mereka adalah komandan lapangan yang sesungguhnya.Agus Jabo Priyono tidak ingin para kepala sekolah terjebak dalam rutinitas administrasi. Misi yang diemban jauh lebih kritis yaitu memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan. Itu bukan jargon. Bagi peserta yang hadir, itu adalah kenyataan sehari-hari.
"Kita tidak sedang membangun sekolah biasa. Ini adalah benteng terakhir bagi anak-anak yang nyaris putus asa. Jika Sekolah Rakyat gagal, kita bukan cuma kehilangan murid, kita kehilangan satu generasi," ujar Agus Jabo membakar semangat para peserta yang juga didampingi 12 PPK Wilayah dari seluruh Indonesia.
Dari Kulon Progo untuk Indonesia
Dipusatkan di Daerah Istimewa Yogyakarta, semangat Kulon Progo dipilih bukan tanpa alasan. Wilayah ini telah menjadi saksi bagaimana gotong royong bisa menyulap keterbatasan menjadi kesempatan. Kini, semangat itu harus ditularkan ke 25 titik baru yang akan segera beroperasi di tahun ajaran 2026/2027. Selepas sesi daring ditutup, Panji yang menjadi salah satu peserta di titik eksisting mengaku merinding. "Selama ini saya pikir saya hanya bertanggung jawab pada nilai rapor. Ternyata beban kami adalah memutus mata rantai kelaparan dan kebodohan yang warisan turun-temurun," katanya lirih. Para kepala sekolah mencatat sejumlah penekanan penting dari Wamensos:- Perubahan Mindset: Kepala sekolah harus bertransformasi menjadi aktivis sosial, bukan administrator pasif.
- Inovasi Layanan: Pendidikan harus menyentuh langsung akar masalah ekonomi dan sosial siswa.
- Totalitas Tanpa Kecuali: Tidak boleh ada satu anak pun yang putus sekolah karena alasan biaya atau akses di bawah pengawasan mereka.
Comments (0)