Kortas Tipikor Usut Korupsi Batu Bara, ISESS Sebut Pengkhianatan Negara
Di balik padamnya listrik yang melanda Sumatera dan sejumlah wilayah beberapa waktu lalu, tersimpan luka yang lebih dalam dari sekadar gelapnya ruang-ruang
Di balik padamnya listrik yang melanda Sumatera dan sejumlah wilayah beberapa waktu lalu, tersimpan luka yang lebih dalam dari sekadar gelapnya ruang-ruang keluarga. Ribuan anak kehilangan jam belajar malam mereka. Pasien di rumah sakit bergantung pada generator yang suaranya menderu cemas. Pedagang kecil merugi karena bahan makanan membusuk di lemari pendingin yang mati. Dan semua itu, menurut Bambang Rukminto dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS), bukanlah sekadar insiden teknis. Ini adalah luka menganga akibat kejahatan terhadap negara.
"Ini bukan korupsi biasa," ujar Bambang, suaranya rendah namun tegas, "ini adalah kejahatan terhadap hajat hidup orang banyak. Negara dirugikan, rakyat dikorbankan."
Di sebuah warung kopi kecil di kawasan Jakarta, Rabu (8/7/2026), Bambang berbicara dengan mata yang tak bisa menyembunyikan kemarahannya. Ia membayangkan seorang ibu di Lampung yang malam itu harus menimang bayinya dalam gelap, tanpa kipas angin, tanpa kepastian kapan listrik akan kembali menyala. Bayi itu, mungkin, tak pernah tahu bahwa gelap yang menyelimutinya adalah buah dari keserakahan segelintir orang di ruang-ruang ber-AC yang dingin.
"Langkah strategis yang perlu dilakukan antara lain mengusut seluruh rantai pasokan," kata Bambang, merinci satu per satu seperti seorang ahli bedah yang memetakan luka. "Termasuk pemasok, surveyor, laboratorium penguji, perusahaan transportasi, pejabat pengadaan, dan pihak yang melakukan penerimaan barang."
Membedah Jaringan: Lebih dari Sekadar Pemasok Nakal
Yang membuat kasus ini begitu kompleks, dan begitu menyakitkan, adalah sifatnya yang sistemik. Ini bukan soal satu perusahaan yang bermain curang. Ini adalah rantai panjang yang melibatkan banyak aktor—seperti ustaz yang membiarkan umatnya tertidur dalam khotbah. Masing-masing punya peran, dan masing-masing punya potensi untuk menutup mata atau justru menjadi bagian dari permainan.
Bambang menekankan dua strategi kunci yang harus dijalankan Kortas Tipikor Polri: asset recovery dan follow the money. "Kita harus memutus keuntungan ekonomi hasil kejahatan," tegasnya. "Ini bukan hanya soal menghukum pelaku, tapi memastikan uang rakyat kembali ke negara."
Bagi Bambang, pengusutan yang dilakukan Kortas Tipikor Polri membawa harapan baru. Di tengah kekecewaan publik yang seringkali melihat kasus korupsi besar menguap begitu saja, kali ini ia melihat keseriusan yang berbeda. "Saya mendukung penuh langkah ini," katanya, kalimat yang diucapkan dengan hati-hati karena ia tahu dukungan ini juga berarti harapan yang dipertaruhkan.
Potensi Kerugian dan Jaringan Korupsi
| Elemen Rantai Pasokan | Potensi Pelanggaran | Risiko Kerugian Negara |
|---|---|---|
| Pemasok Batu Bara | Manipulasi spesifikasi/kualitas | Selisih harga dan volume |
| Surveyor | Verifikasi fiktif atau dimanipulasi | Validasi data palsu |
| Laboratorium Penguji | Hasil uji kualitas direkayasa | Kualitas rendah diterima |
| Transportasi | Pengiriman tidak sesuai kontrak | Biaya logistik digelembungkan |
| Pejabat Pengadaan | Kolusi, markup, dan kickback | Kerugian langsung APBN/APBD |
Kasus ini diperkirakan melibatkan kerugian negara hingga Rp 5 triliun, angka yang mungkin masih bisa bertambah seiring pengusutan. Sejumlah pakar energi, seperti diberitakan sebelumnya, juga mendukung penuh langkah Kortas Tipikor Polri untuk mengusut tuntas kasus ini. Mereka memahami bahwa krisis listrik bukan semata soal teknis pembangkitan, melainkan soal integritas pasokan yang telah dikhianati.
Di ujung pembicaraan, Bambang kembali pada bayangannya tentang keluarga-keluarga yang terdampak. Tentang anak-anak yang belajar dengan cahaya lilin, tentang pasien yang bergantung pada generator, tentang nelayan yang es batunya mencair sebelum tangkapan sampai ke pasar. "Korupsi ini bukan angka di atas kertas," katanya, hampir berbisik. "Ini adalah gelap yang nyata bagi jutaan orang."
Kini, publik menanti. Bukan hanya menanti listrik yang stabil, tapi menanti keadilan yang tak lagi padam di tengah jalan.
Comments (0)