TVS Sentil Fenomena Motor Listrik Gaib: Muncul Bulan Ini, Raib Bulan Depan
Langit sore di bilangan Bekasi masih menyisakan jingga ketika Budi (35) menepikan motor listriknya di depan sebuah warung kopi. Ia baru saja menempuh perja
Langit sore di bilangan Bekasi masih menyisakan jingga ketika Budi (35) menepikan motor listriknya di depan sebuah warung kopi. Ia baru saja menempuh perjalanan lima kilometer dari rumahnya, tetapi wajahnya tidak memancarkan kebanggaan seperti biasanya. Motor listrik berwarna putih yang ia beli dengan penuh harapan setahun lalu kini hanya menjadi pajangan beroda.
“Dulu saya beli motor ini Rp12 juta. Hemat, enggak pakai bensin, gratis isi daya di rumah,” cerita Budi. “Tapi sekarang, baterainya soak. Saya cari ke mana-mana, bengkel resminya sudah hilang. Mereknya juga kayaknya sudah enggak ada.”
Kisah Budi bukan satu-satunya. Di berbagai sudut kota, para pengguna awal motor listrik di Indonesia mulai merasakan pil pahit. Merek-merek yang sempat meramaikan pameran otomotif dan menggoda lewat janji teknologi ramah lingkungan, tiba-tiba lenyap seperti ditelan kabut. Di balik gemerlap transisi energi, ada luka kepercayaan yang menganga: motor listrik gaib yang hadir sekejap, lalu raib bersama suku cadang dan masa pakai.
Fenomena Merek ‘Gaib’ yang Meresahkan
Istilah “motor listrik gaib” bukan sekadar julukan lucu. Di kalangan komunitas pengguna kendaraan listrik, sebutan itu ditujukan pada puluhan merek baru yang muncul dengan modal promosi besar, tetapi tak punya pijakan purnajual yang solid. Mereka merayu konsumen dengan harga miring, janji layanan aplikasi, dan desain futuristik. Namun setelah unit laku, dukungan teknis langsung menghilang.
Kondisi ini rupanya mencuat ke permukaan lewat suara dari pabrikan global yang selama ini dikenal konsisten. TVS Motor Company, perusahaan roda dua asal India yang telah berkiprah di Indonesia, menyuarakan keprihatinannya.
“Banyak pabrikan motor listrik di Indonesia yang main-main. Hari ini ada, bulan depan tiba-tiba menghilang. Ini merusak kepercayaan konsumen terhadap industri kendaraan listrik secara keseluruhan,” ujar Ryan Rahadian, Product Marketing Lead PT TVS Motor Company Indonesia, dalam sebuah kesempatan diskusi di Jakarta, Senin (15/4/2024).
Pernyataan Ryan bukan tanpa dasar. Ia mencontohkan, dalam dua tahun terakhir, tercatat lebih dari tiga puluh merek motor listrik baru memasuki pasar Indonesia. Namun, hanya segelintir yang mampu mempertahankan eksistensi hingga dua belas bulan. Sisanya menghilang tanpa kabar, meninggalkan konsumen yang kebingungan mencari pusat layanan—sebuah ironi di tengah euforia kendaraan ramah lingkungan.
Duka di Balik Layar Inovasi
Lenyapnya merek-merek tersebut membawa dampak sosial yang jauh dari sekadar urusan teknis. Seorang pemilik bengkel kecil di kawasan Ciledug, Tangerang, mengaku sering didatangi pemilik motor listrik yang panik.
“Hampir tiap minggu ada yang datang, baterai rusak, controller error. Saya cek, mereknya sudah nggak ada yang tanggung jawab. Kasihan, motor senilai belasan juta cuma bisa dipajang,” kata Hendra (42), mekanik yang mulai belajar memperbaiki motor listrik secara otodidak.
Bagi sebagian konsumen, pembelian motor listrik adalah bentuk ikhtiar untuk berkontribusi pada lingkungan sekaligus berhemat. Budi, misalnya, menghitung bahwa dengan beralih ke listrik, ia bisa menghemat sekitar Rp300 ribu per bulan. Namun ketika merek lenyap dan garansi tak lagi berlaku, penghematan itu berubah menjadi kerugian yang justru membebani.
TVS sendiri menekankan pentingnya komitmen jangka panjang. Mereka yakin, kunci bertahan di tengah gempuran merek Jepang dan Tiongkok adalah jaringan purnajual yang kuat serta kepercayaan pelanggan. Hal ini sejalan dengan strategi yang disebut-sebut dalam artikel “Rahasia TVS Bisa Bertahan di RI Meski Digempur Merek Jepang-China”, di mana TVS mengandalkan suku cadang terjangkau dan layanan servis yang tersebar luas.
Langkah Kecil Menuju Ekosistem Sehat
Fenomena merek gaib ini membuka mata banyak pihak. Regulasi yang lebih ketat terhadap izin produksi dan kewajiban purnajual kini mulai digaungkan oleh asosiasi industri. Sementara itu, konsumen diimbau untuk lebih jeli memilih kendaraan listrik yang memiliki rekam jejak jelas.
- Cek ketersediaan layanan purnajual: Pastikan merek memiliki bengkel resmi dan pusat layanan di kota Anda, bukan sekadar mitra digital.
- Verifikasi umur pabrikan: Merek yang sudah beroperasi lebih dari dua tahun di Indonesia cenderung lebih stabil dan memiliki komitmen jangka panjang.
- Komunitas pengguna: Lihat keaktifan grup pengguna di media sosial; merek yang serius biasanya memiliki komunitas yang terkelola dengan baik.
Bagi Budi, pelajaran sudah tertelan. “Sekarang saya hanya bisa berharap ada solusi baterai universal, atau paling tidak, pemerintah turun tangan. Jangan sampai niat baik kami beralih ke listrik malah jadi bumerang,” katanya lirih.
Di tengah gelombang transisi energi, kisah motor listrik gaib adalah potret getir bahwa inovasi tanpa tanggung jawab hanya akan meninggalkan serpihan kepercayaan yang perlahan tergerus. TVS mungkin telah menyentil, tetapi yang lebih penting adalah memastikan suara konsumen tak lagi tenggelam oleh gemerlap iklan janji palsu.
Comments (0)