Tebo, Jambi — Longsor Tewaskan Penambang Ilegal, Tiga Tersangka
Pekat malam di Dusun Margodadi, Desa Teluk Singkawang, Kecamatan Sumay, Kabupaten Tebo, biasanya hanya diiringi suara jangkrik dan gemericik sungai. Tapi m
Pekat malam di Dusun Margodadi, Desa Teluk Singkawang, Kecamatan Sumay, Kabupaten Tebo, biasanya hanya diiringi suara jangkrik dan gemericik sungai. Tapi malam itu berbeda. Deru mesin dompeng tiba-tiba berhenti, diganti bunyi gemuruh yang jauh lebih menakutkan. Tanah yang telah dikeruk berpuluh lubang akhirnya ambruk, menelan satu nyawa yang sedang mengais sisa harapan dari perut bumi. Namanya AD, 38 tahun, warga Dusun Ladang Makmur, Desa Sari Mulya, Kecamatan Rimbo Ilir. Pagi itu, ia berangkat dengan senyum yang sudah lama tak terlihat penuh, berharap mendapat cukup emas untuk membayar utang di warung dan membelikan susu anak bungsunya. Sore harinya, jenazahnya dievakuasi dari timbunan tanah basah yang dingin.
Antara Emas dan Perut Keluarga
AD bukanlah bos tambang. Ia hanya buruh dompeng, bekerja dengan sistem bagi hasil yang tak sebanding dengan risiko yang dihadapinya setiap hari. Di kampungnya, cerita tentang nasib serupa bukan barang baru. “Di sini, kita cuma punya dua pilihan: jadi petani karet yang harga jualnya terus jatuh, atau turun ke lubang,” ujar Misdi (45), tetangga korban, dengan nada getir.
“AD itu orangnya pendiam. Tapi setiap kali dapat emas sedikit, dia langsung beli jajanan buat anak-anak. Katanya, ‘daripada mereka nangis laper, lebih baik aku yang nangis di dalam tanah’.”Kata-kata itu kini terasa seperti ramalan yang mengiris. Istri AD, sebut saja S (35), tak henti memeluk pakaian terakhir yang dikenakan suaminya. Bau tanah liat masih melekat, bercampur bau keringat yang tak sempat dibilas air. “Dia pamit cuma bilang, ‘masak enak ya, nanti aku pulang bawa rezeki’,” kenangnya dengan mata sembap. “Tapi rezekinya malah dikubur lebih dulu.”
Rantai Tanggung Jawab yang Putus
Penyelidikan Polres Tebo bergerak cepat. Tiga orang telah ditetapkan sebagai tersangka, salah satunya pemilik lahan yang diyakini membiarkan aktivitas ilegal itu berlangsung. Kanit Tipidter Polres Tebo, Ipda William Simbolon, menyatakan bahwa olah TKP sudah dilakukan dan bukti-bukti mengarah pada kelalaian yang menyebabkan hilangnya nyawa. Namun bagi S, jerat hukum bukan prioritas utama. Yang ia butuhkan adalah kepastian dapur tetap mengepul besok pagi. “Saya tidak ngerti soal hukum. Yang saya tahu, anak saya empat. Kalau bapaknya enggak ada, siapa yang kasih makan?” desahnya.
Di balik kisah ini, ada potret pahit kemiskinan yang mendorong warga mempertaruhkan nyawa. Di sepanjang aliran Sungai Sumay, lubang-lubang dompeng menganga seperti luka yang tak kunjung sembuh. Mereka yang bekerja di sana tahu betul bahwa aktivitas itu ilegal dan berbahaya, tetapi ketika anak menangis lapar, legalitas kehilangan maknanya. Sumay bukan satu-satunya; hampir semua kecamatan di Tebo punya kisah yang serupa: petani kehilangan lahan, beralih ke tambang, lalu kehilangan nyawa. Lingkaran setan yang tampaknya sulit diputus hanya dengan penegakan hukum.
Seorang tokoh masyarakat setempat, Pak RT Arman (52), mengakui keresahannya.
“Kami tahu ini salah. Tapi ketika pemerintah tidak hadir dengan solusi, orang kecil seperti kami hanya bisa lari ke tempat yang paling memberi harapan, meskipun harapan itu bisa membunuh.”Pernyataan ini bukan pembenaran, melainkan cermin dari ketidakberdayaan yang telah mengakar.
Doa di Tengah Tanah yang Terus Bergerak
Pemakaman AD di Rimbo Ilir berlangsung sunyi. Hujan rintik-rintik turun seolah ikut mengantarnya. Anak-anaknya, yang paling kecil masih berusia tiga tahun, belum sepenuhnya mengerti bahwa ayah mereka tak akan pulang. Mereka hanya tahu, kini ibunya lebih sering menangis dan dapur lebih sering sepi. “Kami hanya bisa pasrah,” ucap S lirih. “Mudah-mudahan, jangan ada lagi yang jadi korban seperti suami saya.”
Kematian AD adalah alarm, bukan sekadar berita kriminal. Di balik status “ilegal” dan label “tersangka”, ada anak-anak yang kehilangan masa depan, perempuan yang mendadak menjadi kepala keluarga, dan komunitas yang terus dibentuk oleh pilihan-pilihan sulit. Longsor di Dusun Margodadi bukan sekadar fenomena alam; ia adalah jeritan tanah yang menolak untuk terus disakiti, sekaligus jeritan warga yang tak punya banyak opsi selain menyakitinya.
Comments (0)