Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

PM Modi Sembahyang di Candi Prambanan, Sejenak Hening di Antara Relief Kuno

Langit senja mulai merona jingga keemasan saat iring-iringan kendaraan protokoler memasuki kawasan Candi Prambanan, Rabu (8/7/2026). Namun bukan kemegahan

Jul 08, 2026 - 10:02
0 1
PM Modi Sembahyang di Candi Prambanan, Sejenak Hening di Antara Relief Kuno
Langit senja mulai merona jingga keemasan saat iring-iringan kendaraan protokoler memasuki kawasan Candi Prambanan, Rabu (8/7/2026). Namun bukan kemegahan iring-iringan yang menarik perhatian. Adalah sosok Perdana Menteri India Narendra Modi, yang berjalan dengan langkah teduh di antara reruntuhan batu andesit berusia ribuan tahun, menuju kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia itu. Udara sore masih menyimpan sisa hangat matahari. Angin berembus pelan, seolah ikut menjaga kekhidmatan yang segera berlangsung. Di bawah bayang-bayang tiga candi utama yang menjulang, PM Modi memilih untuk tidak sekadar berkunjung. Ia memilih untuk hening. Ia memilih untuk berdoa. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengonfirmasi kepada wartawan bahwa kunjungan ini memiliki arti yang lebih dalam. "Perdana Menteri Modi juga akan menyempatkan untuk melakukan peribadatan di kompleks Candi Prambanan," ujarnya.

Bukan Sekadar Destinasi Wisata

Bagi seorang pemimpin yang berasal dari negeri dengan peradaban Hindu yang membentang ribuan tahun, menginjakkan kaki di Prambanan bukanlah perjalanan wisata biasa. Ini adalah pulang—sebuah rengkuhan spiritual yang melampaui batas-batas geopolitik. Candi Prambanan, atau Candi Rara Jonggrang, dibangun pada abad ke-9 Masehi oleh Wangsa Sanjaya. Relief-reliefnya mengisahkan Ramayana, epos suci yang akrab di telinga setiap anak India. Dan kini, seorang putra India berdiri di hadapan relief yang sama, membaca kisah yang sama, di tanah yang berbeda. “Ini bukan sekadar diplomasi,” ujar Darmawan, seorang sejarawan dan pemandu senior di kawasan Prambanan, saat ditemui di sela persiapan kunjungan. “Ketika seorang pemimpin menyempatkan diri untuk beribadah di candi, itu artinya ia sedang menghubungkan kembali benang-benang spiritual yang sudah terjalin sejak berabad lalu. Prambanan adalah saksi bahwa Hindu pernah bernapas di bumi Nusantara dengan begitu megahnya.”

Doa di Antara Batu Sunyi

Menurut informasi yang beredar di kalangan panitia lokal, PM Modi meminta waktu singkat tanpa gangguan—hanya ia, batu-batu candi, dan keheningan. Di dalam bilik utama Candi Siwa, tempat arca Siwa Mahadewa berdiri, sang pemimpin dilaporkan akan melantunkan doa-doa Weda. Tidak ada pidato. Tidak ada sorotan kamera yang agresif.
“Beliau ingin momen ini menjadi sakral. Pihak keamanan pun diminta menjaga jarak. Ini momen personal antara seorang pemimpin dan keyakinannya,” bisik seorang panitia yang enggan disebutkan namanya.
Ada yang begitu menyentuh dari pemandangan ini. Di tengah jadwal diplomatik yang padat—bertemu Presiden Prabowo Subianto, membahas kerja sama strategis—PM Modi tetap menyisihkan waktu untuk diam. Untuk menundukkan kepala. Untuk mengingat bahwa di balik segala urusan dunia, ada yang lebih besar, lebih purba, dan lebih abadi: hubungan manusia dengan Tuhannya.

Hubungan Batin India-Indonesia

Kunjungan ini sekaligus menegaskan benang merah peradaban yang menghubungkan India dan Indonesia. Sebelumnya, Presiden Prabowo bahkan sempat berkelakar bahwa dirinya memiliki “DNA India” karena kecintaannya pada musik dan budaya negeri itu. Namun lebih dari sekadar kelakar, ikrar spiritual PM Modi di Prambanan seakan berbisik: kita adalah saudara dalam kisah yang jauh lebih tua daripada negara-negara yang kini kita pimpin. Candi ini bukan warisan satu bangsa, melainkan warisan kemanusiaan yang merayakan pencarian makna. Menjelang malam, saat lilin-lilin kecil mulai dinyalakan di pelataran, PM Modi meninggalkan kompleks candi dengan langkah yang sama tenangnya seperti ketika ia datang. Tak ada yang tahu persis apa yang dipanjatkannya dalam doa. Tapi satu hal yang pasti: di antara bisikan angin dan sunyi batu Prambanan, sebuah pesan spiritual telah terkirim—melampaui batas negara, melampaui zaman.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User