Tanjung Buton — Aditya Waskita Gugur di Laut, Purbaya Berduka
Langit dini hari di perairan Tanjung Buton, Siak, masih dihiasi bintang-bintang saat Aditya Waskita Jauhari menaiki tangga kapal MV Himala V.195. Pukul 03.
Langit dini hari di perairan Tanjung Buton, Siak, masih dihiasi bintang-bintang saat Aditya Waskita Jauhari menaiki tangga kapal MV Himala V.195. Pukul 03.00 WIB, udara lembap dan laut tenang menyambut tim gabungan Bea Cukai yang hendak melakukan pemeriksaan akhir muatan ekspor. Aditya, lelaki 29 tahun dengan senyum khas yang tak pernah luntur, berjalan di dek bersama dua rekannya. Tak ada yang menduga, tugas rutin itu akan menjadi malam terakhir baginya. Sebuah insiden nahas merenggut nyawanya seketika, menyisakan duka mendalam bagi keluarga besar Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC).
Kepergian Aditya mengejutkan rekan-rekannya. “Dia selalu datang paling awal, paling bersemangat. Malam itu kami bercanda tentang kopi sachet yang ia bawa dari rumah,” kenang Barli, rekan satu tim yang ikut dalam patroli itu. “Saat kejadian, semua terjadi begitu cepat. Kami masih syok.” Suara Barli bergetar saat menceritakan detik-detik mencekam yang merenggut nyawa Pelaksana KPPBC Tipe Madya Pabean B Pekanbaru itu.
Berita duka itu segera sampai ke Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Dalam unggahan video di akun Instagram resmi @menkeuri, Rabu (8/7/2026), Purbaya menyampaikan belasungkawa dengan suara lirih. “Innalillahi wainnailaihi rojiun. Atas nama pribadi dan segenap keluarga besar Kementerian Keuangan, saya menyampaikan duka cita yang sedalam-dalamnya atas meninggalnya saudara Aditya Waskita Jauhari,” ucapnya. Wajah sang menteri tampak kusut, menahan duka yang sama dengan ribuan pegawai Kemenkeu di seluruh negeri.
Bukan Sekadar Angka: Risiko Tersembunyi di Laut
Di balik seragam cokelat kebanggaan, petugas Bea Cukai yang bertugas di lapangan—terutama di atas kapal—hidup dengan risiko yang jarang tersorot publik. Dalam lima tahun terakhir, tercatat 7 insiden serius yang melibatkan petugas DJBC saat menjalankan tugas pengawasan di laut dan pelabuhan, dengan 3 di antaranya mengakibatkan korban jiwa. Angka ini mungkin tampak kecil, namun setiap angka menyisakan luka mendalam bagi keluarga dan komunitas kecil yang akrab bergelut dengan ombak dan jadwal ketat pemeriksaan kapal.
“Ini bukan pekerjaan kantoran biasa. Adik saya bangga dengan seragamnya,” ujar Widya (32), kakak kandung Aditya, saat ditemui di rumah duka di Pekanbaru. “Tapi saya selalu cemas setiap kali dia bilang akan turun ke laut.” Widya menunjukkan foto Aditya di ponselnya: senyum cerah dengan latar pelabuhan. “Dia bilang, ‘Mbak, ini demi negara.’ Sekarang tinggal kenangan.”
| Tahun | Lokasi | Jumlah Petugas Terluka/Meninggal | Penyebab |
|---|---|---|---|
| 2023 | Pelabuhan Merak | 2 luka berat | Tergelincir saat inspeksi |
| 2024 | Perairan Dumai | 1 meninggal | Jatuh dari kapal |
| 2025 | Pelabuhan Tanjung Priok | 3 luka ringan | Gangguan alat pengaman |
| 2026 | Tanjung Buton, Siak | 1 meninggal | Insiden saat final draft survey |
Meski Kementerian Keuangan telah menerapkan standar keselamatan dan pelatihan rutin, insiden di lapangan tetap terjadi. “Lingkungan kerja maritim punya variabel tak terduga: cuaca, pencahayaan minim di malam hari, hingga fasilitas kapal yang tidak seragam. Tapi yang paling krusial adalah dukungan psikologis pasca-kejadian bagi rekan yang selamat,” ujar Rizaldy Hamzah, pengamat keselamatan kerja maritim dari Lembaga Studi Transportasi Indonesia. Ia menekankan perlunya reformasi prosedur kerja yang tidak hanya berfokus pada target penerimaan, tapi juga keselamatan jiwa petugas.
Duka Bangsa, Pelajaran untuk Semua
Kisah Aditya mengingatkan kita bahwa di balik setiap triliun rupiah penerimaan negara yang digaungkan, ada manusia-manusia yang menaruh nyawa di garis depan. Mereka menaiki kapal-kapal raksasa dengan risiko yang tak jarang dianggap sepele. “Dia pahlawan sehari-hari yang tak pernah minta dirayakan,” bisik Widya sebelum meninggalkan rumah duka.
Saat ini, Kementerian Keuangan berjanji akan mengevaluasi protokol keselamatan bagi petugas lapangan, terutama yang bertugas di laut pada jam rawan. Sementara itu, keluarga besar DJBC akan terus mengenang Aditya sebagai cermin dedikasi tanpa pamrih. Langit di Tanjung Buton mungkin akan kembali tenang, tapi satu nama akan selamanya terpatri: Aditya Waskita Jauhari—seorang pelaksana yang gugur dalam tugas, membawa cintanya pada negeri hingga hembusan napas terakhir.
Comments (0)