Jakarta — Dolar AS Kembali Sentuh Rp 18.000, Rupiah Tertekan
Layar ponsel Pak Harun berkedip pelan, menampilkan angka yang membuat dahinya berkerut: Rp 18.005 per dolar AS. Di warung sembako mungilnya di kawasan Pasa
Layar ponsel Pak Harun berkedip pelan, menampilkan angka yang membuat dahinya berkerut: Rp 18.005 per dolar AS. Di warung sembako mungilnya di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Rabu (8/7) siang itu terasa lebih lengang dari biasanya. Ia termenung sejenak, menatap deretan mi instan dan minyak goreng yang harganya—sekali lagi—akan ia hitung ulang. "Ini bukan cuma angka di televisi," gumamnya lirih. "Ini harga barang yang naik, pembeli yang berkurang, dan utang yang makin berat."
Rabu siang kemarin, mata uang Garuda kembali tergelincir ke level psikologis yang sudah lama ditakuti banyak orang. Berdasarkan data Bloomberg, dolar AS menguat 0,14% ke posisi Rp 18.005 pada pukul 11.32 WIB. Padahal, sejak pembukaan perdagangan pagi sekitar pukul 09.00 WIB, dolar sudah menunjukkan taringnya dengan penguatan 0,06% ke level Rp 17.990. Sehari sebelumnya, Selasa (7/7/2026), dolar AS ditutup di Rp 17.995—sudah mendekati batas psikologis 18 ribu. Hari ini, batas itu benar-benar jebol.
Di Balik Angka, Ada Cerita yang Tak Terlihat
Bagi sebagian besar orang, angka Rp 18.005 hanyalah statistik keuangan. Namun bagi Sari, seorang ibu dua anak yang suaminya bekerja sebagai buruh bangunan, angka itu adalah ancaman nyata di meja makan. "Tepung, telur, susu anak—semua naik pelan-pelan. Tapi pendapatan suami saya enggak naik," ujarnya saat ditemui di pasar tradisional dekat rumahnya, sembari memilih telur dengan teliti, berharap mendapatkan yang paling murah.
"Dulu seratus ribu bisa buat belanja tiga hari. Sekarang, dua hari saja kadang kurang. Saya takut nanti anak-anak harus puasa lebih sering," katanya sambil tersenyum getir.
Luka Lama Pedagang Kecil
Pak Harun bukan orang baru dalam menghadapi gejolak kurs. Ia ingat betul krisis 1998 dan 2008, ketika dolar melambung dan usahanya nyaris ambruk. Namun setiap kali rupiah melemah, ia merasakan luka yang sama: ketidakpastian. "Bedanya sekarang, saya sudah tua. Dulu masih kuat lembur, cari utangan sana-sini. Sekarang? Mana kuat," ucapnya.
Di tokonya, beberapa barang impor seperti biskuit kaleng dan minuman kemasan harganya sudah naik dari pemasok. Ia terpaksa menaikkan harga eceran, meski tahu itu akan membuat pelanggan menjauh. "Saya enggak tega, tapi kalau enggak dinaikkan, saya yang rugi. Lingkaran setan," katanya.
"Kadang saya pakai uang tabungan sendiri buat tutup modal. Itu pun semakin tipis."
Harapan di Tengah Tekanan
Meski demikian, di sudut lain Jakarta, ada suara yang mencoba optimistis. Ekonom senior yang enggan disebut namanya mengatakan, penguatan dolar kali ini lebih dipicu sentimen global—kebijakan moneter AS yang masih ketat—daripada fundamental ekonomi dalam negeri yang sebenarnya mulai pulih. "Bank Indonesia masih punya amunisi intervensi. Tapi yang paling penting adalah bagaimana menjaga daya beli rakyat kecil," ujarnya dalam sebuah diskusi terbatas.
Bagi Sari dan Pak Harun, daya beli itulah yang menjadi napas mereka sehari-hari. Dan ketika dolar menyentuh angka 18.000, napas itu terasa semakin sesak, namun mereka tak punya pilihan selain terus menariknya.
Keduanya berharap, pagi esok layar ponsel dan televisi akan menampilkan angka yang lebih bersahabat. Bukan untuk kebanggaan, tetapi untuk sekadar bertahan hidup.
Comments (0)