Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

Tangan-Tangan yang Menanam Harapan di Pesisir Sumbawa

Ketika Ombak Kembali Membawa Kehidupan Rabu pagi itu, langit di atas Desa Labuan Alas, Kabupaten Sumbawa, begitu cerah. Tapi yang lebih benderang dari sin

Jul 08, 2026 - 14:28
0 0
Tangan-Tangan yang Menanam Harapan di Pesisir Sumbawa

Ketika Ombak Kembali Membawa Kehidupan

Rabu pagi itu, langit di atas Desa Labuan Alas, Kabupaten Sumbawa, begitu cerah. Tapi yang lebih benderang dari sinar matahari adalah senyum ratusan warga yang berbaris di sepanjang garis pantai. Tangan-tangan mereka yang biasanya sibuk menjala ikan atau memperbaiki perahu, kali ini menggenggam sesuatu yang berbeda: bibit mangrove.

Di antara mereka berdiri Menteri Lingkungan Hidup Moh Jumhur Hidayat, Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas, dan Gubernur NTB Lalu Muhammad Iqbal. Bukan sebagai pejabat yang berpidato dari atas panggung, melainkan sebagai sesama manusia yang ikut membungkuk, melumuri tangan dengan lumpur, dan menancapkan satu per satu harapan ke dalam tanah.

Hari itu bukan sekadar seremoni. Hari itu adalah titik puncak dari sebuah perjalanan panjang: 1,5 juta bibit mangrove telah berhasil ditanam di area seluas 484 hektar di Nusa Tenggara Barat, menandai rampungnya komitmen besar PT Freeport Indonesia dalam program rehabilitasi pesisir.

"Dulu di Sini Hanya Angin dan Pasir"

Saya berbincang dengan Pak Rustam, 54 tahun, seorang nelayan yang telah menghabiskan seluruh hidupnya di Labuan Alas. Ia menunjuk ke arah laut dengan dagunya, matanya menerawang.

"Dulu di sini hanya angin dan pasir. Kalau air pasang, rumah-rumah kami kebanjiran. Ikan-ikan menjauh. Tapi lihat sekarang," katanya, suaranya nyaris tenggelam oleh debur ombak. "Pohon-pohon ini seperti tameng. Mereka lindungi kami."

Pak Rustam bukan satu-satunya yang merasakan perubahan. Ibu Sari, 42 tahun, mengisahkan bagaimana ia dan perempuan-perempuan lain di desa kini mulai mengolah buah mangrove menjadi sirup dan dodol. "Dulu kami cuma diam di rumah. Sekarang ada kegiatan, ada penghasilan tambahan," tuturnya sambil tersenyum malu-malu.

Mangrove, lebih dari sekadar pohon. Ia adalah pahlawan senyap yang menyerap karbon, menahan abrasi, menjadi rumah bagi ikan dan kepiting, dan kini—menjadi dapur ekonomi baru bagi keluarga-keluarga pesisir.

Komitmen yang Melampaui Angka

Menteri Jumhur Hidayat menegaskan bahwa rehabilitasi mangrove adalah tanggung jawab kolektif. Program ini sejalan dengan target ambisius Kementerian Lingkungan Hidup untuk mendorong penanaman 2 miliar pohon sebagai respons terhadap krisis lingkungan global.

"PTFI telah merehabilitasi hampir 500 hektare mangrove di Nusa Tenggara Barat dan menargetkan rehabilitasi 12.000 hektar di seluruh Indonesia, terutama di Papua. Mangrove memiliki peran penting dalam melindungi ekosistem pesisir, menyerap karbon, dan mendukung mata pencaharian masyarakat," ujar Jumhur.

Tapi bagi warga seperti Pak Rustam, angka 12.000 hektar itu bukan sekadar statistik. Itu berarti lebih banyak desa yang terlindungi, lebih banyak anak-anak yang bisa tumbuh tanpa takut rumah mereka digerogoti abrasi.

Langkah ini menunjukkan bahwa ketika perusahaan tambang raksasa, pemerintah, dan masyarakat duduk bersama—bukan sekadar menjalankan kewajiban CSR—sesuatu yang mengakar benar-benar bisa tumbuh.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User