Sutradara Gonjiam Sambut Hangat Adaptasi Horor Korea
Seutas senyum tipis merekah di wajah Jung Bum-shik ketika namanya disebut dalam satu tarikan napas bersama judul film yang telah menjadi legenda horor Asia. Di sebuah studio sederhana di Seoul, pria y...
Seutas senyum tipis merekah di wajah Jung Bum-shik ketika namanya disebut dalam satu tarikan napas bersama judul film yang telah menjadi legenda horor Asia. Di sebuah studio sederhana di Seoul, pria yang melahirkan Gonjiam: Haunted Asylum itu mengisahkan perasaannya mendengar kabar bahwa karya ikoniknya kini menemukan ‘saudara kembar’ di Indonesia, lewat sentuhan sutradara Anggy Umbara.
Ini bukan sekadar soal jual-beli hak cipta. Bagi Jung, ada sesuatu yang lebih dalam dan manusiawi: pengakuan bahwa ketakutan adalah bahasa universal. Di balik layar industri yang gemerlap, ia menyimpan momen mengharukan saat pertama kali menyaksikan cuplikan film 402 Rumah Sakit Angker Korea. Bukan sekadar serem, ia melihat jiwa yang sama bergerak di tengah perbedaan budaya.
Dari Asylum ke Rumah Sakit Angker, Sebuah Perjalanan Rasa Takut
Di sudut ruang kerjanya yang dihiasi poster-poster horor klasik, Jung mengingat kembali awal mula proses adaptasi ini. Ia mengaku sempat gamang. “Saya pikir, bagaimana mungkin sebuah rumah sakit jiwa yang sangat Korea bisa dipindahkan ke Indonesia tanpa kehilangan ruhnya?” Namun setelah menjalin komunikasi intens dengan Anggy Umbara, kekhawatiran itu perlahan luruh.
Anggy, yang dikenal dengan gaya penceritaan visual yang berani, justru melihat peluang untuk menambahkan lapisan kengerian lokal tanpa mengkhianati nyawa cerita asli. Proses diskusi mereka pun menjadi lebih mirip percakapan antarteman lama yang saling memahami arti penting sebuah mimpi di seluloid. “Saya tidak merasa kehilangan sesuatu. Justru saya menemukan versi lain dari rasa takut yang saya ciptakan. Itu menyentuh,” ujar Jung.
Kisah di Balik Restu yang Tak Sekadar Formalitas
Yang sering luput dari perhatian adalah betapa pribadinya momen ketika Jung memberikan restu penuh. Bukan hanya surat kontrak bertanda tangan, melainkan juga sebuah catatan kecil yang ia kirimkan secara personal kepada Anggy. Isinya singkat: “Buatlah penontonmu bangkit dari kursi dengan air mata ketakutan, seperti yang kita lakukan di sini.”
Bagi Jung, kerja sama ini bukan soal uang atau gengsi internasional. Ini tentang kepercayaan—sebuah keyakinan bahwa cerita yang lahir dari pengalaman riset panjang di rumah sakit jiwa terbengkalai di Korea bisa menemukan rumah baru di negeri orang tanpa menjadi asing. Air mata haru nyaris tak terbendung ketika ia menceritakan momen melihat adegan perkenalan rumah sakit dalam adaptasi Indonesia yang terasa begitu dekat di hati, meski lokasinya ribuan mil dari Gonjiam.
Bangkit Bersama, Ketika Dua Sutradara Mencari Teror yang Jujur
Di tengah wawancara, Jung mengungkap hal yang jarang ia bagi ke media: masa-masa sulitnya sebagai sutradara horor di Korea Selatan yang kerap dipandang sebelah mata. Gonjiam adalah perjuangan melawan stigma. Maka, melihat semangat serupa pada Anggy membuatnya merasa tidak sendiri. “Sutradara horor sering dianggap hanya mengejar keuntungan musiman. Padahal, membuat orang takut dengan cara yang jujur itu lebih sulit daripada membuat mereka menangis,” katanya sambil tersenyum getir.
Kolaborasi ini bukan hanya mempertemukan dua film, melainkan dua jiwa yang sama-sama percaya bahwa horor adalah medium paling telanjang untuk menggambarkan rasa sakit manusia. Rumah sakit angker, bagi Jung, bukan hanya bangunan menyeramkan; ia adalah metafora dari kenangan yang terkunci, dari individu-individu yang dilupakan sistem. Dan ia melihat Anggy berhasil menangkap esensi itu dalam konteks sosial Indonesia yang tak kalah kompleks.
Kini, saat poster 402 Rumah Sakit Angker Korea mulai menghiasi bioskop-bioskop Tanah Air, Jung berharap penonton tidak hanya menjerit, tetapi juga sejenak merenung. Tentang luka yang tak terlihat, tentang ketakutan yang sering kita sembunyikan, dan tentang bagaimana dua orang dari dua dunia berbeda bisa bersatu dalam bisikan hantu yang sama.
Baca juga:
Comments (0)