Di Balik Janji Sutradara Gonjiam untuk Indonesia: Sebuah Syarat yang Menyentuh

Di sudut sebuah kafe kecil di kawasan Gangnam, Jeong Beom-sik memandangi layar ponselnya dengan mata berbinar. Sebuah pesan pendek dari seorang penggemar di Indonesia baru saja masuk ke akun media sos...

Jul 12, 2026 - 20:05
0 0
Di Balik Janji Sutradara Gonjiam untuk Indonesia: Sebuah Syarat yang Menyentuh

Di sudut sebuah kafe kecil di kawasan Gangnam, Jeong Beom-sik memandangi layar ponselnya dengan mata berbinar. Sebuah pesan pendek dari seorang penggemar di Indonesia baru saja masuk ke akun media sosialnya. "Kapan sutradara datang ke sini?" tanya pesan itu, ditulis dalam bahasa Inggris yang sedikit terpatah-patah. Pertanyaan sederhana itu rupanya menyentuh ruang paling personal dalam benak sang sutradara. Bukan sekadar tentang membuat film, melainkan tentang arti sebuah perjalanan dan mimpi yang harus diwujudkan dengan cara yang berbeda.

Suara Hati dari Negeri Seberang

Bagi banyak pencinta film horor, nama Jeong Beom-sik bukanlah nama asing. Tangan dinginnya di balik Gonjiam: Haunted Asylum—yang di Korea dikenal dengan judul 402 Rumah Sakit Angker—berhasil mencatatkan diri sebagai salah satu film horor tersukses secara box office di negara asalnya. Namun jauh melampaui angka-angka itu, sang sutradara mengisahkan bagaimana pengalaman bersama para penggemar internasional justru memberinya pelajaran hidup yang paling berharga. "Saya pikir horor hanya milik Korea," ujarnya dalam sebuah wawancara personal yang hangat, "sampai saya menerima surat elektronik dari seseorang di Jakarta yang bercerita bahwa ia menonton Gonjiam bersama ibunya yang sedang sakit. Mereka tertawa dan berteriak bersama. Di saat itulah saya sadar, rasa takut itu ternyata bisa menyatukan."

Panggilan untuk Berkisah di Tanah Air Baru

Momen mengharukan itu perlahan mengubah arah pandangnya. Jika sebelumnya ia merasa nyaman berkarya di lingkungan sendiri, kini muncul dorongan kuat untuk membawa cerita horor khas Korea bertemu dengan budaya Indonesia. Tentu saja, perjalanan ini tidak sederhana. Jeong mengakui bahwa ia tidak ingin sekadar "datang dan pergi" seperti pembuat film pada umumnya. Ia ingin menciptakan sesuatu yang autentik, yang lahir dari rasa hormat pada tanah dan masyarakat setempat. Di balik layar persiapannya, tersimpan sebuah janji yang ia buat sendiri: ia akan syuting di Indonesia, tapi dengan satu syarat utama.

Syarat yang Lahir dari Pengalaman Personal

Syarat itu bukan soal biaya produksi besar atau kemudahan teknis. Jeong bercerita bahwa syaratnya justru sangat manusiawi. "Saya ingin melibatkan sebanyak mungkin orang lokal di belakang dan di depan kamera," ungkapnya. "Bukan hanya sebagai kru pembantu, tapi sebagai mitra kreatif yang setara." Hal ini bermula dari pengalamannya saat pertama kali mengunjungi sebuah desa di Jawa Tengah beberapa tahun lalu. Di sana, ia menyaksikan bagaimana seorang dalang cilik berjuang menghidupkan kembali seni wayang yang nyaris punah. "Mata anak itu penuh air mata ketika bercerita tentang mimpinya. Di situlah saya belajar bahwa setiap tempat punya hantu dan harapannya masing-masing," kenang Jeong. Dari pertemuan itulah ia bertekad bahwa syuting di Indonesia harus menjadi ruang kolaborasi yang menyentuh hati banyak pihak.

Lebih jauh, Jeong juga mengungkapkan keinginannya untuk menggali mitos dan legenda urban Indonesia secara langsung dari mulut para tetua dan penduduk. Baginya, horor bukan sekadar penampakan atau suara mengerikan, melainkan cerita tentang manusia yang bangkit dari trauma dan kehilangan. Gonjiam sendiri sebenarnya menyimpan pesan serupa, namun kali ini ia ingin membungkusnya dalam narasi yang sepenuhnya tumbuh dari tanah Indonesia. "Saya tidak akan membuat versi lain dari Gonjiam di sini," tegasnya. "Saya ingin menciptakan kisah yang sama sekali baru, yang hanya bisa lahir dari sini."

Antara Harapan dan Realisasi

Pengumuman tentang rencana ini sontak membangkitkan gelombang antusiasme di kalangan komunitas film horor Tanah Air. Banyak yang mengaku terinspirasi oleh pendekatan personal yang ditawarkan Jeong. Namun di sisi lain, ada pula kekhawatiran bahwa industri lokal masih perlu banyak berbenah untuk bisa memenuhi standar kolaborasi yang diimpikan sang sutradara. "Ini bukan tentang kami yang harus belajar dari dia," kata seorang produser muda Indonesia, "tapi tentang bagaimana kami bisa duduk bersama dan menciptakan sesuatu yang merayakan kengerian sekaligus kemanusiaan."

Sementara itu, Jeong masih menyimpan rapat-rapat detail syarat dan proyek khusus tersebut. Yang pasti, ia berharap perjalanan syuting di Indonesia nanti tidak hanya menghasilkan film yang menakutkan, tetapi juga menjadi momen mengharukan yang mengubah cara dunia memandang horor Asia. "Saya percaya," tutupnya, "bahwa di setiap rumah sakit angker, di setiap gedung tua yang menyeramkan, selalu ada secercah cahaya. Tugas kita sebagai pembuat film adalah menangkap cahaya itu, dan membagikannya kepada mereka yang berani menonton."

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User