Kepingan Percakapan Terakhir Putri Temon Sebelum Ayah Berpulang

Matahari pagi belum sepenuhnya naik ketika jemari Rambu menari di layar ponsel. Minggu, 12 Juli, pukul enam pagi. Suara di seberang terdengar lebih pelan dari biasanya, seperti menyimpan rahasia yang ...

Jul 12, 2026 - 20:19
0 0
Kepingan Percakapan Terakhir Putri Temon Sebelum Ayah Berpulang

Matahari pagi belum sepenuhnya naik ketika jemari Rambu menari di layar ponsel. Minggu, 12 Juli, pukul enam pagi. Suara di seberang terdengar lebih pelan dari biasanya, seperti menyimpan rahasia yang tak ingin dibocorkan kepada waktu. Ia tak menyangka, panggilan video singkat itu akan menjadi perpisahan yang disamarkan sebagai obrolan biasa.

Di layar, wajah ayahnya tampak tenang. Senyum tipis mengembang, mata yang biasanya tajam kini meredup dalam kelembutan. Tidak ada keluhan berarti, hanya pesan-pesan sederhana yang meluncur lirih: “Jaga diri, jaga mama. Jangan lupa salat Duha.”

Rambu, putri dari sosok yang akrab disapa Temon itu, mengangguk. Ia masih ingat betul bagaimana ayahnya menatap kamera seolah ingin merekam wajah anaknya untuk terakhir kali. Kini, setiap kali menutup mata, adegan itu kembali terurai – detik demi detik yang terlalu mahal untuk diulang.

Panggilan yang Kini Menjadi Harta Tak Ternilai

Bagi sebagian orang, panggilan pagi hanyalah rutinitas. Namun bagi Rambu, percakapan di Minggu pagi itu menjelma menjadi warisan batin yang tak lekang oleh duka. “Ayah tidak pernah menelepon sepagi itu biasanya,” kenang Rambu dengan suara yang sesekali tercekat. “Tapi pagi itu, rasanya ada dorongan yang berbeda. Seperti beliau ingin memastikan semua baik-baik saja sebelum pergi.”

Ruang tamu sederhana tempat ia duduk bersila masih menyimpan sisa dingin malam. Televisi mati, hanya suara burung dari pohon mangga di halaman yang terdengar samar. Rambu bercerita, ayahnya lebih banyak mendengarkan ketimbang berbicara. Sesekali, beliau mengulangi kalimat yang sama: “Kamu anak yang kuat, ya.”

“Saat itu saya pikir Ayah hanya sedang mood memberi semangat. Saya tidak tahu kalau itu adalah doa terakhir yang diselipkan dalam kalimat sederhana,” ujarnya lirih. Air mata menggenang, tapi ia menahannya. “Saya minta maaf karena belum bisa pulang cepat. Ayah cuma jawab, ‘Tidak apa-apa, yang penting kamu jaga diri’. Itu kalimat yang terus terngiang.”

Dua Jam yang Mengubah Segalanya

Pukul 08.42 WIB, kabar itu datang. Layar ponsel yang beberapa jam sebelumnya menampilkan wajah teduh sang ayah, kini dipenuhi notifikasi belasungkawa. Dunia Rambu seketika runtuh dalam diam. Ia masih sulit memproses: bagaimana percakapan yang terasa hangat itu bisa menjadi awal dari kehilangan yang begitu dalam?

“Saya langsung ingat tawa kecilnya saat kami bercanda soal masakan mama. Beliau bilang ingin makan sayur asem buatan mama nanti siang. Ternyata, siang itu tak pernah datang untuk kami,” tuturnya dengan tangan memegangi dada.

Di balik layar, keluarga dan kerabat mulai berdatangan. Rambu, dengan mata sembab, berusaha menjadi tiang bagi ibunya. Namun di sudut hatinya, ia masih menyimpan rekaman suara ayahnya: getaran lembut yang kini hanya bisa diputar ulang dalam ingatan.

Pesan yang Tak Pernah Lekang

Satu hal yang paling membekas adalah bagaimana ayahnya mengakhiri panggilan. Bukan dengan “selamat tinggal” atau “hati-hati”, melainkan dengan kalimat yang kini menjadi pegangan: “Ayah selalu bangga padamu, apapun yang terjadi.”

Rambu mengaku, selama ini ia jarang mendengar pujian langsung dari sang ayah. Sosok Temon dikenal sebagai pria pekerja keras yang lebih banyak menunjukkan kasih sayang lewat tindakan ketimbang kata-kata. Maka, ketika untaian kalimat itu meluncur, Rambu merasakan sesuatu yang berbeda.

“Mungkin itu cara Ayah meminta izin untuk pergi,” katanya. “Memberikan saya kekuatan lewat kalimat yang tidak akan pernah bisa saya lupakan.”

Kini, di tengah duka yang masih basah, Rambu memilih untuk merayakan hidup ayahnya lewat memori-memori kecil: caranya menyeruput kopi di pagi hari, derap langkahnya yang berat namun hangat, hingga pesan suara yang kini disimpan baik-baik di folder khusus ponsel.

Kepergian memang memisahkan raga, tetapi percakapan terakhir itu mengajarkan Rambu bahwa cinta tidak pernah benar-benar pergi – ia hanya berganti bentuk, menjadi kenangan yang terus hidup dalam setiap doa dan langkah anak perempuannya.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User