Saat Abdel Diam Membeku: Cerita Jio Jimmy tentang Kepergian Temon
Sore itu, di sudut kafe yang tak terlalu ramai, Jio Jimmy duduk dengan tatapan kosong menerawang ke luar jendela. Hujan rintik-rintik mengiringi ceritanya, seakan alam pun ikut merasakan getir yang he...
Sore itu, di sudut kafe yang tak terlalu ramai, Jio Jimmy duduk dengan tatapan kosong menerawang ke luar jendela. Hujan rintik-rintik mengiringi ceritanya, seakan alam pun ikut merasakan getir yang hendak ia bagikan. Ia menggenggam cangkir kopi yang mulai mendingin, lalu menghela napas panjang. Momen itu kembali berputar—ketika ia harus menjadi pembawa kabar yang paling ia takutkan.
Suara yang Berat di Ujung Sana
Malam sebelum kabar duka itu tersebar luas, ponsel Jio berdering. Layar menunjukkan nama seseorang yang memberitahu bahwa Temon—sahabat sekaligus rekan seperjuangan mereka—telah berpulang. Jantung Jio seketika jatuh. Tangannya gemetar. Ia tahu, ada satu orang yang harus segera ia hubungi: Abdel. “Saya langsung kepikiran, ‘Abdel harus tahu dari saya, bukan dari media sosial, bukan dari orang lain yang belum tentu bisa menahan emosinya,’” kenang Jio, suaranya bergetar.
Ia menekan tombol panggil. Nada sambung terdengar seperti dentuman pelan di telinganya. Setiap detik terasa berlipat ganda. Saat suara Abdel di seberang menjawab dengan nada ceria seperti biasa, Jio justru merasa lidahnya kelu. “Awalnya dia masih ketawa-ketawa. Abdel tuh memang selalu begitu, bawaannya riang. Tapi begitu saya bilang saya mau ngomong serius, suasananya langsung berubah,” ujarnya.
Senyap yang Memekakkan
Jio menarik napas dalam-dalam, berusaha merangkai kata selembut mungkin. “Saya bilang, ‘Del, Temon udah nggak ada.’” Lalu, hening. Bukan hening yang biasa, melainkan keheningan yang begitu pekat hingga Jio bisa mendengar degup jantungnya sendiri. Tidak ada suara isak tangis histeris, tidak ada teriakan penolakan. Hanya diam yang memekakkan.
Detik berganti menit. Jio hampir mengira sambungan telepon terputus. Namun kemudian, dari seberang, terdengar helaan napas yang sangat panjang dan berat—seperti seluruh beban dunia jatuh di pundak Abdel dalam satu waktu. “Setelah itu dia cuma bilang, ‘Serius, Ji?’ Suaranya udah beda. Pecah. Saya tahu dia lagi nahan tangis sekuat-kuatnya,” kata Jio, kali ini dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Abdel bukanlah tipe orang yang mudah menangis di depan banyak orang. Justru karena itulah, diamnya menjadi begitu memilukan. Jio membayangkan sahabatnya itu duduk sendirian di ruang gelap, memproses kenyataan yang tak masuk akal: bahwa Temon, sosok yang selalu penuh tawa dan energi, kini hanya tinggal kenangan. “Saya bahkan nggak bisa menenangkan dia. Karena saya sendiri udah hancur duluan,” aku Jio lirih.
Air Mata yang Tertunda
Keesokan harinya, Jio akhirnya bertemu langsung dengan Abdel. Adegan yang ia saksikan jauh lebih menghancurkan daripada yang ia duga. Abdel sudah berdandan rapi, bersiap menghadiri pemakaman, namun matanya kosong. Langkahnya berat, gerakannya lambat—seperti robot yang kehilangan separuh dayanya. Di dalam mobil menuju rumah duka, mereka hampir tak berbicara. Hanya ada musik lama yang diputar pelan, lagu-lagu yang dulu sering dinyanyikan Temon. Setiap lirik yang terdengar seperti pisau yang menyayat hati.
“Di mobil, tiba-tiba Abdel bilang, ‘Gue belum sempat bilang makasih sama dia, Ji.’ Itu yang bikin gue pecah,” tutur Jio sambil mengusap sudut matanya. Bagi Abdel, Temon bukan sekadar rekan kerja. Ia adalah saudara. Mereka pernah berbagi susah, berbagi panggung, bahkan berbagi mimpi-mimpi gila yang hanya mereka berdua yang mengerti. Kini, semua itu harus terhenti tanpa sempat ada salam perpisahan yang layak.
Pelajaran dari Sebuah Kehilangan
Jio mengisahkan bahwa setelah kepergian Temon, Abdel berubah. Bukan berubah menjadi pendiam, melainkan justru menjadi lebih hangat dan tidak pernah melewatkan kesempatan untuk mengatakan hal-hal baik kepada orang-orang di sekitarnya. “Dia pernah bilang ke saya, ‘Ji, jangan tunggu orang pergi dulu buat bilang kita sayang sama mereka.’ Itu ngena banget,” kenang Jio.
Dari sudut kafe yang kini mulai sepi, Jio menyudahi ceritanya. Hujan di luar sudah reda, menyisakan jalanan basah dan refleksi lampu kota yang berpendar. Di balik duka yang mendalam, ada pelajaran yang terus hidup: bahwa setiap momen adalah berharga, dan setiap kata yang tertunda bisa menjadi penyesalan abadi. Temon mungkin telah tiada, namun ia meninggalkan jejak cinta yang begitu kuat—dan reaksi Abdel yang terpaku dalam diam itu menjadi bukti bahwa ikatan persahabatan sejati tak akan pernah benar-benar mati.
Baca juga:
Comments (0)