Surabaya Gelar Festival Remo Yosakoi Penuh Warna
Hamparan langit biru Surabaya menjadi kanvas bagi ribuan pasang kaki yang bergerak serempak. Di bawah terik matahari Minggu (12/7/2026), gelombang penonton
Hamparan langit biru Surabaya menjadi kanvas bagi ribuan pasang kaki yang bergerak serempak. Di bawah terik matahari Minggu (12/7/2026), gelombang penonton yang memadati area car free day Jalan Tunjungan seketika hening, lantas pecah oleh riuh tepuk tangan. Bukan sekadar parade tari biasa, gelaran Festival Remo-Yosakoi menyihir kota pahlawan menjadi panggung lintas benua; perpaduan gagahnya tari Remo khas Jawa Timur dengan enerjiknya yosakoi dari Jepang. Para penari, dengan kostum mencolok dan naruko kecil di tangan, menunggu giliran tampil membawa kisah persahabatan Indonesia-Jepang yang dijalin melalui gerak dan irama.
Jembatan Budaya Dua Bangsa
Remo, tarian selamat datang tradisional yang identik dengan lonceng kaki dan selendang, lahir dari panggung ludruk Surabaya. Sebaliknya, yosakoi adalah tarian festival modern Jepang yang mengandalkan dinamika kelompok serta alat musik clapper naruko. Keduanya, meski berbeda akar, bersatu dalam satu panggung yang sama pada gelaran yang tahun ini memasuki edisi ke-4. Lebih dari 2.000 penari dari 78 kelompok berpartisipasi, tidak hanya dari Surabaya, tetapi juga dari Malang, Sidoarjo, bahkan delegasi pelajar dari Prefektur Kochi sebagai tempat lahir yosakoi.
“Kami ingin menunjukkan bahwa budaya tradisional tidak kaku. Justru ketika dua budaya dipertemukan, energi baru muncul tanpa menghilangkan identitas masing-masing,” ujar Harumi Saito, koordinator Japan Foundation Surabaya, saat ditemui di lokasi. Festival ini diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan Kota Surabaya bekerja sama dengan Konsulat Jenderal Jepang di Surabaya dan didukung oleh banyak komunitas tari.
Perbandingan Dua Tarian Ikonik
Untuk memahami keunikan kolaborasi ini, berikut perbandingan singkat elemen kunci kedua tarian:
| Aspek | Tari Remo | Tari Yosakoi |
|---|---|---|
| Asal | Jawa Timur, Indonesia (panggung ludruk) | Kochi, Jepang (festival jalanan) |
| Gerakan | Gagah, dinamis, banyak hentakan kaki, tangan terbuka | Enerjik, lincah, perpindahan formasi cepat, menggunakan naruko |
| Kostum | Baju khas pesisiran, selendang, kadang membawa pecut | Happi coat warna cerah, ikat kepala hachimaki, celana pendek |
| Musik | Gamelan, kendang, bonang, dengan tempo rancak | Musik modern dengan sentuhan shamisen, seruling, atau taiko |
Perpaduan tersebut menciptakan nomor pertunjukan spektakuler. Para penari membawakan koreografi kolase: setengah bagian memainkan langkah remo, lalu bertransisi mulus ke gerakan yosakoi. Musik pengiringnya pun campuran gamelan dan synthesizer, hasil aransemen khusus oleh komposer lokal.
Antusiasme Melampaui Ekspektasi
Pantauan di lapangan, area panggung utama di depan Balai Pemuda tak hanya dipadati peserta. Ribuan warga Surabaya tumpah ruah, sebagian membawa payung warna-warni untuk berteduh, sambil merekam lewat ponsel. Banyak di antara mereka sengaja datang sejak pagi. “Saya baru kali ini lihat tari remo dicampur yosakoi. Bagus banget, kayak nonton pertunjukan kolosal dua negara,” ujar Anisa, mahasiswi Universitas Airlangga yang hadir bersama teman-temannya.
Salah satu momen paling mengharukan adalah penampilan gabungan antara kelompok tari senior “Paguyuban Ludruk Remo Budaya” dan kelompok yosakoi “Sakura No Kai”. Sepuluh penari remo laki-laki berhentakan keras, diikuti sepuluh penari yosakoi perempuan yang berloncatan ringan, saling berbalas senyum. Ikatan emosional begitu terasa, melampaui sekat bahasa.
Harapan untuk Masa Depan
Wali Kota Surabaya dalam sambutannya mengharapkan festival ini menjadi agenda tahunan yang terus berkembang dan mampu menarik wisatawan. “Kita ingin Surabaya dikenal bukan hanya sebagai kota perdagangan, tapi juga sebagai melting pot budaya global. Remo-Yosakoi adalah bukti bahwa seni bisa menjadi bahasa universal persahabatan,” ungkapnya.
“Melalui tarian, kami belajar saling menghormati. Anak-anak muda sekarang butuh wadah ekspresi yang positif. Remo-Yosakoi memberikan itu,” – Dwi Lestari, pelatih tari remo.
Dengan berakhirnya festival menjelang petang, para penari dan penonton pulang dengan batin yang penuh warna. Festival Remo-Yosakoi bukan hanya pertunjukan, melainkan perayaan keragaman yang membuktikan bahwa kolaborasi budaya justru memperkaya akar tradisi masing-masing.
[SOCIAL_TWEET]: Kemeriahan Festival Remo-Yosakoi di Surabaya kemarin luar biasa! Ribuan penari dari 78 kelompok tampilkan kolaborasi tari Remo & Yosakoi. Dua budaya, satu panggung, sahabat selamanya. #FestivalRemoYosakoi #SurabayaEvent #BudayaLintasBangsa[SOCIAL_TG]: 🔥 Surabaya baru saja diwarnai Festival Remo-Yosakoi 2026! Ribuan penari, kolaborasi budaya Indonesia-Jepang yang spektakuler. Baca liputannya di sini!
Comments (0)