SUMEDANG — Sabtu siang yang cerah, 4 Juli 2027, Kompleks Makam Keramat
Udara sejuk khas dataran tinggi berbaur dengan aroma kopi dan kue tradisional yang disuguhkan tuan rumah. Tidak ada kursi kebesaran. Semua lesehan, saling
Udara sejuk khas dataran tinggi berbaur dengan aroma kopi dan kue tradisional yang disuguhkan tuan rumah. Tidak ada kursi kebesaran. Semua lesehan, saling berdekatan, mencairkan jarak antara pengurus MASL, sesepuh adat, kuncen (juru pelihara makam), dan para tamu yang rela menempuh perjalanan panjang. Hari itu, yang dirayakan adalah rindu pada akar—sejarah, budaya, dan kekayaan Nusantara yang seringkali terpinggirkan di tengah deru modernitas.
Jembatan Lintas Generasi
Susane Febriaty, S.H., Ketua MASL, membuka pertemuan dengan suara yang tenang namun penuh keyakinan. Ia menekankan bahwa silaturahmi ini bukan sekadar temu kangen, melainkan sebuah ikhtiar merawat ingatan kolektif.
“Kami ingin Majelis Adat Sumedang Larang menjadi jembatan. Temu hari ini bukan hanya soal sejarah, tapi juga tentang bagaimana kita menjaga kekayaan Nusantara bersama-sama. Dari Sumedang untuk Indonesia,”
Kalimat itu disambut anggukan para sesepuh yang hadir. Salah satunya, Abah Endang (67), kuncen Makam Keramat Prabu Geusan Ulun, yang kemudian berkisah lirih bahwa kompleks ini bukan sekadar pusara. “Ini etalase hidup. Setiap batu bata punya cerita, dan cerita itu harus turun ke anak-cucu. Kalau bukan kita yang cerita, siapa lagi?” ujarnya di sela-sela sesi, seolah mengamini pesan Susane.
Menghidupkan “Kekayaan Nusantara” di Atas Tikar
Inti acara bergulir ketika narasumber Pak Tri memaparkan materi tentang kekayaan Nusantara. Bukan cuma lisan, ia membawa peta budaya sederhana dan sejumlah foto artefak yang memantik diskusi hangat. Para peserta—mulai dari pemuda adat hingga tetua—tak segan melontarkan pertanyaan.
“Nusantara adalah mozaik. Sumedang hanya satu serpih, tapi dari serpih ini kita bisa membaca jejak peradaban Sunda yang terbentang sampai ke ujung timur negeri,”
jelas Pak Tri, yang membuat seorang pemuda dari Sukabumi berdiri dan bertanya tentang kaitan sejarah Sumedang dengan kerajaan di wilayahnya. Riuh rendah diskusi itu terasa seperti ruang kuliah alam—tanpa dinding, tanpa sekat, hanya ada semangat belajar.
“Kami Datang untuk Belajar di Sumbernya”
Di antara peserta, Asep (34), perwakilan komunitas adat dari Bogor, menjadi salah satu yang paling antusias. Ia mengaku bukan pertama kali datang ke Sumedang, tetapi baru kali ini bisa duduk semeja dengan para pengurus MASL dan mendengar langsung narasi dari para sesepuh.
“Kami datang jauh-jauh dari Bogor dan daerah lain karena ingin belajar langsung di sumbernya. Di sini kami bertemu dengan orang-orang yang masih memegang teguh amanah leluhur. Ini seperti pulang ke rumah yang selama ini hanya kami dengar dari cerita,”
tuturnya dengan mata berbinar.
Hal serupa dirasakan Dewi (29), warga Bandung yang kesehariannya aktif di komunitas pelestari tari tradisional. Ia menyebut pertemuan ini sebagai “titik temu” antara generasi muda dan para pemegang otoritas adat. “Biasanya kami hanya bisa menari, tapi tak tahu filosofinya. Di sini saya dapat ‘isi’-nya. Jadi, tari itu tidak sekadar gerak,” tambahnya sambil tersenyum.
Merawat Benang Merah Kebinekaan
Silaturahmi yang berlangsung hingga petang itu juga diwarnai penampilan musik tradisional sederhana dari para pemuda setempat yang memainkan kecapi suling. Lantunan itu seolah menjadi pengikat benang merah yang sempat terulur: bahwa di balik perbedaan asal-usul, ada akar kebinekaan yang sama.
Dalam sesi penutupan, Susane kembali mengingatkan bahwa kegiatan seperti ini harus berkelanjutan. “Jangan sampai ini hanya euforia sesaat. Hari ini kita bertemu, minggu depan kita harus sudah menerjemahkan ilmu ini ke komunitas masing-masing. Regenerasi pengetahuan adat tidak bisa ditunda,” pungkasnya disambut tepuk tangan.
Dari teras Saung Gajebo yang sederhana itu, hadirin pulang membawa lebih dari sekadar oleh-oleh. Mereka membawa pulang tanggung jawab—bahwa Merawat Nusantara adalah pekerjaan rumah semua anak bangsa, dan Sumedang telah membuka pintunya sebagai salah satu ruang belajarnya.
- Silaturahmi warga dan masyarakat adat digelar di Dayeuh Luhur Sumedang pada 4 Juli 2027, dihadiri perwakilan dari Bogor, Sukabumi, Bandung, serta sesepuh adat setempat.
- Ketua MASL Susane Febriaty menegaskan forum ini sebagai jembatan merawat sejarah dan budaya dari Sumedang untuk Indonesia.
- Diskusi menghadirkan narasumber Pak Tri yang membahas kekayaan Nusantara, memantik antusiasme peserta untuk mendalami kearifan lokal di sumbernya.
Comments (0)