Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

Shanghai — Restoran Jinlong Dabianlu Jual Telur Orak-Arik Rp1,3 Juta

Shanghai — Telur orak-arik biasanya identik dengan sarapan rumahan yang murah dan cepat saji. Namun cerita berbeda datang dari sebuah restoran di kawasan H

Jul 09, 2026 - 00:25
0 0
Shanghai — Restoran Jinlong Dabianlu Jual Telur Orak-Arik Rp1,3 Juta
Shanghai — Telur orak-arik biasanya identik dengan sarapan rumahan yang murah dan cepat saji. Namun cerita berbeda datang dari sebuah restoran di kawasan Hongkou, Shanghai. Di sana, sebutir sajian telur yang diaduk di atas wajan panas bisa membuat dompet Anda menciut. Harganya? Rp1,3 juta untuk satu porsi. Dunia maya pun gempar. Tagar #omeletteemasshanghai langsung menyeruak di Weibo dan menjadi perbincangan hangat para pencinta kuliner. Banyak yang penasaran, apa istimewanya telur orak-arik yang biasanya hanya bernilai puluhan ribu rupiah ini.

Awal Mula Viral: Unggahan yang Mengguncang Media Sosial

Kisah ini bermula pada awal Juli 2026. Seorang food blogger lokal asal Shanghai, Li Wei (28), mengunggah foto menu dan struk pembayaran dari Restoran Jinlong Dabianlu. Dalam unggahannya, ia menulis, "Saya kira ini salah cetak. Tapi ternyata benar, mereka sungguh-sungguh menjual scrambled egg seharga 588 yuan (sekitar Rp1,3 juta). Dan yang lebih mengejutkan, meja di restoran ini selalu penuh dipesan."

  1. 6 Juli 2026 – Unggahan Li Wei menyebar luas. Foto menu dengan satu item bernama "Golden Silk Omelette" menarik perhatian warganet. Dalam waktu 24 jam, unggahan itu mendapat lebih dari 2 juta impresi.
  2. 7 Juli 2026 – Media lokal dan internasional mulai meliput, termasuk South China Morning Post yang menerbitkan artikel tentang fenomena telur mahal ini. Komentar netizen terbelah: ada yang menyebutnya "sultan banget", ada pula yang menuduh restoran melakukan penipuan diam-diam.
  3. 8 Juli 2026 – Tim Beritaseputar melakukan reservasi dan mengunjungi restoran untuk melihat langsung kebenaran di balik viral tersebut.

Merasakan Suasana Restoran: Kemewahan di Hongkou

Begitu tiba di Jinlong Dabianlu, kesan eksklusif langsung terasa. Restoran ini tidak berada di pusat perbelanjaan mewah, tetapi di gedung berlantai dua dengan interior bergaya Dinasti Qing modern. Meja kayu jati tua, lampion sutra, dan alunan musik guzheng membuat suasana begitu intim. Hanya ada lima meja per hari yang bisa dipesan, dan semuanya sistem private dining.

Kami bertemu dengan Maya Setiawan, 35 tahun, seorang konsultan bisnis asal Indonesia yang kebetulan sedang menjamu kliennya di sana. "Terus terang saya kaget tadi pas lihat harga telurnya. Tapi klien saya yang warga sini bilang, ini bukan telur biasa. Jadi saya ikut penasaran," katanya sambil tersenyum tipis.

  1. Suasana eksklusif – Hanya melayani lima meja per hari, semua reservasi harus dilakukan minimal dua minggu sebelumnya. Tidak ada menu terbuka di depan pintu; tamu hanya akan disajikan setelah duduk dan mendapat penjelasan dari chef de cuisine secara personal.
  2. Penampakan telur – Saat hidangan tiba, telur orak-arik itu disajikan di atas piring keramik porselen putih dengan hiasan emas. Teksturnya sangat lembut, nyaris seperti krim, tetapi tetap memiliki potongan kecil telur yang terasa di lidah. Aroma khas menyeruak — bukan sekadar mentega, melainkan campuran minyak truffle putih dan sedikit kaldu udang fermentasi.
  3. Reaksi tamu – Maya mengaku rasa telur itu sangat berbeda dari bayangannya. "Ini seperti makan awan yang gurih. Tapi tetap saja, untuk harga segitu, saya berharap bisa sekalian melunas KPR," candanya.

Rahasia di Balik Harga Fantastis: Bukan Telur Sembarangan

Untuk menjawab rasa penasaran, kami berbincang dengan Chef Zhang (56), kepala dapur Jinlong Dabianlu yang telah 30 tahun berkecimpung di dunia kuliner tradisional Shanghai. Ia menerangkan bahwa harga selangit telur orak-ariknya bukan sekadar strategi pemasaran.

  1. Bahan baku langka – Telur yang digunakan berasal dari ayam Lushi Silkie, jenis ayam lokal langka dengan bulu hitam dan daging berwarna gelap. Ayam ini hanya bertelur dua kali seminggu dan dipelihara dengan pakan khusus campuran biji teratai dan goji berry. "Setiap telur butuh waktu lebih dari dua minggu untuk mencapai ukuran dan kualitas yang kami inginkan," ujar Chef Zhang. Harga setiap butir telur mentah mencapai 100 yuan (Rp220.000).
  2. Proses memasak presisi – Telur dimasak satu per satu di wajan tembaga khusus yang disimpan sejak tahun 1920-an. Proses pengadukan dilakukan selama 20 menit tanpa henti dengan spatula perak. "Suhu dan gerakan harus konstan. Kalau salah sedikit, tekstur krimnya gagal," jelasnya.
  3. Sensasi minyak langka – Yang membuat telur ini begitu istimewa adalah sentuhan akhir berupa tiga tetes minyak truffle putih Alba yang diimpor langsung dari Piemonte, Italia. Satu botol kecil minyak itu bernilai lebih dari Rp8 juta. "Kami hanya pakai tiga tetes per porsi, tapi itu yang mengubah rasa total. Tidak bisa diganti dengan minyak truffle biasa," tambah Chef Zhang.
  4. Cerita budaya – Menurut Chef Zhang, resep ini diwariskan dari kakek buyutnya yang pernah menjadi juru masak keluarga bangsawan Shanghai di era 1910-an. "Jadi apa yang Anda bayar itu bukan hanya telur, tapi sekaligus sejarah dan cerita yang selamat dari revolusi," katanya.

Meski kontroversial, fakta bahwa restoran ini selalu penuh dipesan membuktikan: ada pasar tersendiri untuk kemewahan yang bertutur. Telur orak-arik Rp1,3 juta itu seolah menjadi simbol dari frasa klasik: you are not just paying for the food, you are paying for the story.

Sementara itu, bagi sebagian besar masyarakat, cerita ini tetap menjadi pengingat bahwa batas antara makanan sederhana dan kemewahan seringkali hanya setipis lapisan minyak truffle.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User