Berikut adalah hasil penulisan ulang berita sesuai permintaan Anda:
---
Jakarta — PT Niramas Utama Tbk Resmi Melantai di Bursa dengan Kode JELI
Di tengah gemerlap layar digital yang menampilkan pergerakan saham perdana, senyum haru tak bisa disembunyikan oleh jajaran direksi PT Niramas Utama Tbk. Selasa pagi itu, 7 Juli 2026, menjadi tonggak bersejarah bagi produsen makanan dan minuman berbasis kelapa dengan merek dagang INACO ini. Setelah bertahun-tahun membangun fondasi bisnis dari kekayaan alam Nusantara, perusahaan akhirnya resmi mencatatkan saham perdananya di Bursa Efek Indonesia dengan kode saham JELI.
"Ini bukan sekadar pencatatan saham. Ini adalah pernyataan bahwa produk lokal berbasis kelapa mampu bersaing di pasar modal dan mendapat kepercayaan publik," ujar Meylina Widjaja, Direktur Utama PT Niramas Utama Tbk, dengan mata berbinar usai seremoni pencatatan.
Perjalanan INACO dimulai dari dapur kecil di kawasan industri Jakarta Timur. Dari produksi terbatas nata de coco dan jelly kelapa, kini perusahaan telah merambah pasar ekspor ke lebih dari 15 negara. Merek yang identik dengan kemasan plastik bening bergambar kelapa ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari momen Lebaran, arisan keluarga, hingga bekal sekolah anak-anak Indonesia.
Dari Pasar Tradisional ke Pasar Modal
Kisah INACO adalah potret ketekunan. Didirikan pada 1994, perusahaan ini tumbuh sunyi di tengah gempuran merek-merek multinasional. Berbekal kedekatan dengan petani kelapa di Sumatera dan Sulawesi, Niramas Utama membangun rantai pasok yang memberdayakan lebih dari
5.000 petani plasma. Dampak sosialnya terasa nyata.
"Sebelum bermitra dengan INACO, kami hanya menjual kelapa butiran dengan harga tak menentu. Sekarang anak-anak bisa kuliah," tutur Herman (52), petani kelapa asal Gorontalo yang telah menjadi mitra sejak 2008.
| Aspek Kunci | Sebelum IPO | Pasca-IPO |
| Status Perusahaan | Perseroan Tertutup | Perusahaan Terbuka (Tbk) |
| Kode Saham | – | JELI |
| Target Ekspansi Pasar | 15 negara | 25 negara (2028) |
| Kapasitas Produksi | 50.000 ton/tahun | 80.000 ton/tahun (estimasi) |
Bukan Sekadar Jelly, Tapi Identitas Tropis
Yang menarik dari langkah IPO ini adalah timing-nya. Di saat tren makanan sehat dan berbasis nabati (plant-based) melonjak global, produk berbasis kelapa justru menemukan momentum. Air kelapa, nata de coco, dan jelly kelapa kini dipandang sebagai alternatif camilan rendah kalori yang ramah lingkungan.
"INACO punya cerita autentik. Mereka tidak menjual tren, tapi menjual warisan rasa tropis yang sudah ada sejak dulu,"
kata Dika Pramudya, analis pasar modal dari Binaartha Sekuritas.
Dana hasil IPO, menurut prospektus, akan dialokasikan untuk ekspansi pabrik di Jawa Tengah senilai
Rp 350 miliar, peluncuran produk minuman kelapa kemasan baru, dan penetrasi pasar Afrika Utara. Langkah ini menandai transformasi perusahaan dari pemain domestik menjadi pemain global yang agresif.
Di sudut ruang publik Bursa Efek Indonesia, seorang investor ritel bernama Sari (41) mengamati layar dengan antusias. "Saya beli JELI karena nostalgia. Dulu tiap sakit, ibu selalu buatkan agar-agar INACO. Sekarang saya beli sahamnya buat masa depan anak saya."
Sentuhan personal seperti inilah yang membuat IPO JELI lebih dari sekadar angka. Ia adalah persilangan antara kenangan, ekologi, dan ekonomi kerakyatan yang dikemas dalam satu kode saham.
Comments (0)